Kamis, 16 Agustus 1945. Sedan itu meluncur kilat dari arah Bekasi mengarah Jakarta. Merambah area Klender, Jakarta Timur tetiba mobil berplat no Jakarta itu memelankan lajunya. Warnanya atensi para penumpangnya tertuju pada asap yang mengepul tebal di kejauhan. Sukarni, figur anak muda Menteng 31,

meloncat dari tempat duduknya. Sedangkan tangan kanannya sedang menggenggam sepucuk beceng.

“ Simaklah! Itu amati telah mulai. Revolusi lagi berkobar benar semacam yang kita harapkan. Jakarta mulai dibakar. Lebih bagus kita cepat- cepat kembali ke Rengadengklok!” teriaknya semacam diceritakan oleh Sukarno dalam Bung Karno Penjambung Lidah Rakjat Indonesia( disusun oleh Cindy Adams)

Tidak mengacuhkan perkata atasan“ penculikan” dirinya serta Mohammad Hatta, Sukarno justru menyuruh pengemudi buat lalu maju ke arah Jakarta. Sedemikian itu mendekati pangkal asap itu, mobil menyudahi. Mereka yang terdapat di alat transportasi seluruhnya turun buat melihat lebih nyata panorama alam di depan mata. Cermat memiliki cermat, asap api itu nyatanya berawal dari gundukan jerami yang tengah terbakar seseorang orang tani. Dengan mesem tersenyum, Sukarno kemudian menoleh ke arah Sukarni.

“ Inikah api dentuman yang hebat bergejolak? Ini bukannya makar megah. Ini bukannya aksi ratusan, ribuan orang yang menantikan pertanda buat meronta. Ini cumalah aksi seseorang hina yang membakar jerami…” tutur Sukarno separuh mengejek.

Sukarni cuma senyap. Sedangkan Achmad Soebardjo yang bekerja bagaikan penjemput Sukarno- Hatta ke Rengasdengklok, melihat ke arah si arahan anak muda radikal itu.

“ Serta lumayan hingga di mari saja bermain pahlawan- pahlawanan- nya. Simpanlah beceng itu!” ucapnya.

Kaum Sukarno- Hatta datang di Jakarta sekira jam 8 malam. Sedemikian itu hingga bunda kota, mobil langsung ditunjukan ke rumah Bung Hatta di Jalur Miyadori( saat ini Jalur Diponegoro). Bagi Hatta dalam otobiografi- nya, Memoirs, di rumahnya itu mereka lalu melangsungkan rapat buat mangulas metode gimana melanjutkan rapat Badan Perencanaan Kebebasan Indonesia( PPKI) yang tidak jadi diselenggarakan pagi harinya.

Pendek narasi, pertemuan kecil itu menyudahi rapat PPKI hendak diadakan di rumah Admiral Maeda, seseorang opsir besar Kaigun( Angkatan Laut Imperium Jepang) yang mengasihani pada aksi kebebasan Indonesia. Soebardjo sendiri memperoleh bagian profesi buat bertamu seluruh badan PPKI yang dikala itu diinapkan di Penginapan Des Indes.

Pertemuan kecil itu juga selesai menjelang tengah malam. Tiap- tiap akur buat kembali terlebih dulu ke rumah tiap- tiap buat semata- mata membebaskan lelah sejenak berakhir ekspedisi jauh dari Karawang.

“ Kemudian saya gimana?” pertanyaan Sukarni.

“ Betul, kembali pula,” jawab Hatta.

“ Jika sedemikian itu, saya memohon Bung pinjami satu stel busana, sebab dengan sebentuk Denah yang saya pakai saat ini, saya bisa dibekuk oleh Kenpeitai( Polisi Tentara Jepang),” ucap Sukarni.

Mengikuti pernyataan Sukarni itu, Soebardjo, Sukarno serta Hatta tiba- tiba tersimpul terbahak- bahak. Sukarni juga jadi ikut- ikutan tersimpul.

“ Kerabat ini berani melangsungkan revolusi menggempur Jepang. Tetapi saat ini kerabat khawatir hendak dibekuk Kenpeitai sebab mengenakan sebentuk PETA…” ucap Hatta, sedang sembari tersimpul.

“ Itu lain hal- nya, Bung. Menggempur Jepang dalam sesuatu revolusi, saya berani. Tetapi hendak dibekuk Jepang sedemikian itu saja sebab sebentuk Denah, apa manfaatnya?” kilah Sukarni.

Hatta kemudian masuk ke kamarnya. Sedemikian itu timbul, ia memberikan satu stel busana pada Sukarni. Busana itu teryata cocok betul dengan bentuk badan Sukarni, walaupun celananya nampak kira- kira pendek sedikit.

“ Tetapi tidak jelas,” melamun Hatta.

Sehabis menyambut busana itu, Sukarni bergegas mengubah sebentuk PETA- nya. Tidak lama sehabis berpamitan minta diri pada Hatta, Sukarno serta Soebardjo, sosoknya lenyap di balik kemalaman Jakarta. Asal usul menulis, revolusi sesaat lagi hendak diawali di area sisa Hindia Belanda itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *