Pada era revolusi 1945, komponis Cornel Simanjuntak membuat lagu bertajuk“ Sorak- Sorak Berbahagia” yang setelah itu jadi terkenal serta banyak dinyanyikan para pejuang. Pada sesuatu hari, Cornel mengajak kawan- kawannya berkelana Jakarta. Mereka kemudian berkelana dari desa ke desa memakai mobil kolam terbuka.

“ Di sejauh jalur, dengan arak- arakan suatu gitar kita menyanyikan lagu- lagu peperangan Sorak- Sorak Berbahagia, Maju Tidak Gentar serta lain- lain, sembari melambai- lambaikan bendera merah putih,” cerita Binsar Sitompul dalam Cornel Simanjuntak, Komponis, Biduan, Pejuang.

Dalam kaum itu ikut dan Suryo Sumanto, D. Djajakusuma, Gayus Siagian, sampai Usmar Ismail. Belum lama, kaum ini jadi tokoh- tokoh kultur terkenal di Indonesia dari aspek nada sampai perfilman.

Kaum berkelana kota serta menyudahi pada tempat- tempat khusus buat menyanyikan lagu- lagu peperangan bikinan Cornel. Banyak orang setelah itu mengerumuni pick up mereka. Serta arena terbuka juga diselenggarakan buat mereka yang mau berpidato.

“ Pada pokoknya beliau membagikan pencerahan mengenai kebebasan Indonesia yang sudah diproklamasikan, serta yang wajib dibela serta dipertahankan,” melamun Binsar.

Aktivitas kisaran kota ini dicoba berulang kali pada era darurat itu. Sampai sesuatu kala, mereka tidak dapat lagi kisaran kota sebab mulai terjalin adu bertembakan di bermacam ujung kota. Pertempuran antara anak muda Republik serta serdadu Belanda terus menjadi kerap terjalin.

Nyaris tiap hari terjalin pertempuran di Petojo, Piket Monyet, Jatinegara, Senen sampai Tangsi Wajan. Sedangkan itu, Cornel serta kawan- kawannya berakhir. Tiap- tiap berasosiasi dengan kesatuan- kesatuan pejuang yang berlainan di Jakarta.

Binsar Sitompul berasosiasi dengan Barisan Keamanan Orang( BKR) Laut di Tanjung Priok. BKR Laut setelah itu jadi TKR Laut. Sedangkan, Cornel berasosiasi dengan Angkatan Anak muda Indonesia( API) yang berpangkalan di Menteng 31. Belum lama Cornel tertembak pahanya, mengungsi ke Karawang serta setelah itu angkat kaki ke Yogyakarta. Cornel tewas bumi sebab sakit alat pernapasan pada 15 September 1946.

Pasca- 1965, lagu- lagu buatan Cornel dinyanyikan lagi dari atas truk. Tetapi kali ini bukan buat memperingati kebebasan, tetapi dinyanyikan para narapidana politik yang dituduh ikut serta G30S. Lagu semacam“ Sorak- Sorak Berbahagia” bersama lagu- lagu peperangan yang lain dinyanyikan di atas truk melampaui jalanan Jakarta mendampingi para tapol itu mengarah pengasingan.

Hersri Setiawan dalam Biografi Pulau Kejar menceritakan gimana para tapol menyanyikan lagu- lagu yang menggema dari atas arak- arakan truk itu.

“ Iringan- iringan truk mulai beranjak. Satu untuk satu meninggalkan laman dalam RTC Tangerang. Hingga bergemalah paduan suara dari atas belasan truk. Puisi untuk puisi bergaung, Bangunlah Kalangan–maksudnya Internasionale,

Halo- Halo Bandung, Sorak- Sorak Berbahagia, Darah Orang, 2 Simpati November, serta bermacam lagu revolusioner yang lain. Hawa siang Jakarta semacam meningkat panas,” catat Hersri.

Hersri yang terletak di dalam truk di tengah- tengah arak- arakan jadi satu dari 850 tapol yang diberangkatn siang itu. Bila Cornel serta kawan- kawan penuh antusias revolusi, Hersri serta ratusan tapol dalam suasana penuh ketidakpastian di dasar daya tentara.

“ Dalam arak- arakan yang amat jauh, di tengah derum- derum suara bermacam alat transportasi bermotor yang maju amat kilat, hingar- bingar suara paduan suara itu sesungguhnya cuma menaikkan berisik saja. Lebih tertuju pada diri para biduan sendiri dibanding pada siapapun,” catat Hersri.

Atmosfer jalanan juga berlainan. Tidak terdapat sambutan suka- cita dari orang serta para pejuang. Tidak terdapat orang terkumpul buat mencermati pidato- pidato kebebasan. Kemudian rute memanglah ditutup kala mereka melalui.

“ Orang lalu- lalang dilarang. Warga dilarang menampakkan diri di sejauh jalur yang dilewati arak- arakan. Yang melihat di tepi jalur, cuma barisan serdadu- serdadu Angkatan Bumi dalam siap sedia tempur, yang berdiri memunggungi jalur pada jarak dekat tiap 50 m,” melamun Hersri.

Meski kembali dinyanyikan oleh para tapol,“ Sorak- Sorak Berbahagia” ataupun“ Maju Tidak Gentar” tidak bernasib kurang baik semacam lagu- lagu yang di- PKI- kan. Lagu- lagu itu sedang dapat dinyanyikan apalagi jadi lagu nasional. Berlainan dari lagu- lagu yang dicap komunis semacam“ Genjer- Genjer”,“ Internasionale” ataupun“ Darah Orang”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *