Gelar Mahapatih Majapahit Gajah Mada jadi viral di alat sehabis julukan awal mulanya diucap Gaj Ahmada dalam novel bertajuk Majapahit Kerajaan Islam yang ditulis oleh Herman Sinung Janutama. Perihal ini pasti jadi suatu tantangan untuk para ahli sejarah buat menanggapi bukti itu.

Kepala Bidang Asal usul Universitas Gajah Mada( UGM) Yogyakarta, Sri Margana yang pula seseorang ahli sejarah berkata catatan dalam novel itu telah diklarifikasi oleh penulisnya. Tidak terdapat gelar dini Gaj Ahmada tadinya.

Pertanyaan polemik Gaj Ahmada itu, Margana berterus terang tidak ingin ikut serta lebih jauh. Tetapi beliau merumuskan kalau catatan yang terdapat di novel Herman itu merupakan suatu kuasi history( asal usul imajiner).

” Betul bagi aku catatan abang Herman Sinung Janutama dapat digolongkan bagaikan kuasi history, yang kerap dicoba oleh banyak ahli sejarah pemula. Ahli sejarah pemula itu bagi aku, ahli sejarah yang tidak dididik serta tidak mempunyai kerangka pembelajaran mengenai asal usul,” tutur Margana dikala dihubungi oleh detikcom, Minggu( 18 atau 6 atau 2017) malam.

Baginya ahli sejarah pemula berlatih sendiri, dengan tata cara sendiri kerap melahirkan suatu catatan yang diucap kuasi history. Dalam kuasi history, ahli sejarah banyak melaksanakan kekeliruan pada katagori metodologi. Perihal ini dikutipnya dari catatan David H Fischer yang membuat 11 jenis kekeliruan ahli sejarah.

” Nah nyaris seluruh argumentasi yang dibentuk di bukunya pak Herman itu, itu nyaris seluruh memiliki 11 jenis kekeliruan itu bagi aku,” tuturnya.

” Antara lain yang sangat berarti, ia merupakan kekeliruan semantik distortion, bias betul dalam bahasa Indonesia, betul bias semantik,” hubung Margana.

Kekeliruan ini merupakan kekeliruan yang menyalahartikan arti, tutur, ataupun kenyataan asal usul. Setelah itu berikutnya merupakan kekeliruan kemiripan yang membuat anggapan ataupun pembeda yang salah.

” Betul memanglah, terdapat banyak catatan serta metode penyusunan yang berlainan, terdapat catatan Gaja Mada tanpa H, ini ilustrasi saja terdapat banyak figur dalam era Majapahit,” jelasnya.

” Kerap sekali orang Jawa memiliki kesusastraan terkini, pada era era 17 serta 18, tetapi itu tidak terdapat perbandingan temantik yang berarti, serta itu dapat diperoleh, serta tidak sempat terdapat catatan lain semacam Gaj Ahmada serta tidak terdapat gelar syeikh pada Gajah Mada,” tutur Margana.

Sedangkan itu Anggarkaswati, sempat menelaah gelar Gajah Mada dalam skripsinya pada tahun 1983. Ia pula berkata perihal yang serupa dengan Margana, kalau tidak terdapat gelar Gaj Ahmada buat Gajah Mada.

” Jika yang aku pelajari betul itu dahulu bukunya komplit dari Bidung Sundayana, Bidung seluruhnya itu tidak terdapat yang mengatakan semacam itu, terlebih berkeyakinan Islam,” tutur Anggarkaswati dikala dihubungi terpisah, Minggu( 18 atau 6).

Anggarkaswati mengatakan tidak terdapat kejelasan hal agama, lahir, sampai meninggalnya Gajah Mada. Perihal ini masiG buram, apalagi terdapat yang berkata kalau Gajah Mada pergi dari buah kelapa yang membelah.

” Jadi mulai dari lahir, ia anak siapa, hingga tewas hingga saat ini sedang buram, apalagi terdapat yang berkata Gajah Mada pergi dari buah kelapa yang membelah. Banyak dongeng, banyak dongeng,” ucapnya.

” Memanglah tidak dituturkan berkeyakinan Hindu, hanya dituturkan Gajah Mada itu moksa, moksa itu kan hanya terdapat di agama Hindu, makamnya terdapat di Selaparang, terdapat di Lampung. Apalagi Moh Yamin arca yang tersebar jadi gaduh, itu kan cuma tabungan tuturnya, tetapi warga telah terlanjur yakin kalau itu arca Gajah Mada,” hubung Anggarkaswati.

Moh Yamin berkata arca yang diprediksi Gajah Mada itu merupakan tabungan duit. Baginya, wujud Gajah Mada itu perkasa sebab beliau seseorang patuh.

” Moh Yamin berkata itu tabungan, Moh Yamin kan banyak sekali menulis semacam itu, mengenai Gajah Mada, tetapi kan banyak dibantah pula. Wujudnya pula Gajah Mada itu kan seseorang patuh, wujudnya kuat perkasa dari pipinya saja membuktikan orang kokoh,” jelas ia.

” Jadi pendapatnya Moh Yamin sedang dapat dipatahkan lah, serta hingga saat ini yang aku bisa cerminan Gajah Mada semacam itu,” lanjut Anggarkaswati.

Tadinya Kepala Bagian Humas serta Aturan UGM, Iva Ariani berkata ahli sejarah butuh beranjak membeberkan mengenai Mahapatih Kerajaan Majapahit itu. Sampai saat ini, UGM senantiasa mengenakan tipe asal usul yang mengatakan julukan Mahapatih Majapahit itu merupakan Gajah Mada, bukan Gaj Ahmada.

” Ini sesungguhnya tantangan dari sahabat asal usul buat setelah itu dapat membagikan uraian pada warga mengenai bagian sejarahnya,” tutur Iva, pada detikcom, Minggu( 18 atau 6 atau 2017).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *