Sekali durasi Utama Jenderal( tituler) Tengku Daud Beureuh bertamu ke Tanah Karo. Daud Beureuh ialah gubernur tentara buat area Aceh, Langkat, serta Tanah Karo. Sepanjang 3 hari, Daud Beureuh menginspeksi gerombolan Resimen I Bagian X Sumatra yang dipandu Letkol Djamin Gintings. Tidak hanya itu, malim kharismatik asal Aceh itu berkhotbah buat tingkatkan akhlak gerombolan mengalami Belanda.

Pada hari ketiga, 28 Januari 1948, kaum Daud Beureuh datang di Kutabaluhberteng. Panglima front setempat, Kapten Rimrim Ginting jadi opsir yang bekerja menyiapkan penyambutan serta jasa. Pada para kaum, Kapten Rimrim memberitahukan kalau santapan berbentuk nasi balut telah ada.

“ Masing- masing balut bermuatan nasi bersama 2 buah cabe merah serta sedikit garam. Tidak terdapat lauk yang lain,” tutur Djamin Gintings dalam memo hariannya yang pada 1964 dibukukan dengan kepala karangan Busut Kadir.

Sembari mesem asam Daud Beureuh serta para opsir pengiringnya terdesak menyantap isi nasi balut yang dihidangkan. Apa bisa bikin, perut mereka telah keroncongan. Walaupun telah benda pasti tidak cocok hasrat, mereka memakan saja nasi garam- cabe itu dari kelaparan.

Letkol Djamin Gintings si panglima resimen bersama karyawan nya kira- kira keheranan melihat menu santapan yang memprihatinkan itu. Alasannya, bayaran santapan buat menyongsong gubernur tentara telah diserahkan. Bayaran yang dianggarkan apalagi lumayan buat memotong seekor jawi ataupun kerbau.

Sehabis berakhir makan, gosip juga bermunculan. Utama Minggu mengoceh pada sesama opsir.“ Panglima apa ini, bayaran sudah diserahkan, tetapi santapan hanya dengan cabe,” tuturnya dalam bunyi nyelekit.

Ternyata merasa malu, panglima front Kapten Rimrim Ginting justru jadi tersindir. Dengan wajah merah beliau kemudian menimpali kemarahan atasannya itu,“ Aku minta Utama janganlah ucapan lagi semacam itu, karena Utama belum ketahui arti aku.” Daud Beureuh memanggil Kapten Rimrim Ginting. Sembari mesem kedut, ia bertanya riwayat hidup si panglima front.

Sehabis kaum Daud Beureuh pergi meninggalkan Kutabuluhberteng, kemudian santapan yang enak- enak disajikan. Kapten Rimrim memerintahkan pasukannya buat memakan santapan itu. Mereka juga bersantap angkuh diiringi rasa kaget serta sedikit keajaiban.

“ Kenapa Panglima melakukan begitu?” pertanyaan salah seseorang prajurit.

“ Arti aku membuktikan pada kaum Gubernur Tentara,” tutur Kapten Rimrim,“ Kalau kita tiap harinya makan nasi cuma dengan cabe serta garam di front ini. Jika para pembesar tiba terkini diberi ektramakanan.”

Warnanya Kapten Rimrim mau membagikan pelajaran supaya pasukannya pula dicermati dengan diserahkan konsumsi santapan yang lumayan. Duh, berani- beraninya betul.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *