Peristiwa Pesawat Angkatan Udara di Mata Utami Suryadarma – Bagaikan bagian dari usaha penguasa menanggulangi endemi corona ataupun Covid- 19, Tentara Nasional Indonesia(TNI) Angkatan Hawa( Angkatan udara(AU)) turut kontribusi dengan memobilisasi pesawat angkutnya ke RRC.“ Tentara Nasional Indonesia(TNI) Angkatan Hawa memberangkatkan pesawat bawa berat C 130 Hercules ke Shanghai, Cina buat mengangkat peralatan kesehatan penindakan virus Corona( COVID- 19) di Indonesia,” begitu dikabarkan detik. com, 22 Maret 2020.

Menkopolhukam Mahfud MD mengatakan kewajiban yang dijalani Tentara Nasional Indonesia(TNI) Angkatan udara(AU) itu amat mengharukan.“ Baginya, di dikala orang Indonesia dimohon penguasa buat tidak melaksanakan kegiatan di luar rumah, sebaliknya personel Tentara Nasional Indonesia(TNI) itu dimohon berangkat jauh dari rumah buat mencari obat Corona.”

Apa yang dicoba para personil Tentara Nasional Indonesia(TNI) Angkatan udara(AU) itu seakan meneruskan peperangan para opsir belia AURI( Angkatan Hawa Republik Indonesia, julukan saat sebelum Tentara Nasional Indonesia(TNI) Angkatan udara(AU)) yang melaksanakan kewajiban mengangkat obat- obatan pada 1947 yang setelah itu dijadikan Hari Abdi Angkatan udara(AU). Peristiwa itu senantiasa diingat

Utami Suryadarma, istri KSAU Komodor Suryadarma, yang setelah itu menuliskannya dalam biografi bertajuk Aku, Soeriadi, serta Tanah Air. Utami ingat benar sesuatu hari di pengujung Juli tahun 1947 kala kediamannya di Yogyakarta dikunjungi Adisujipto serta“ dokter kreolin” Abdulrachman Alim. Kedua pemuda- perwira yang bersama Suryadarma turut merintis AURI itu tiba buat berpamitan.

Adisutjipto serta dokter kreolin–julukan yang menempel pada Abdulrahman Alim sebab kebiasaannya ketika sekolah medis di Batavia mengepel mes memakai karbol– hendak pergi ke Singapore buat mengutip dorongan obat- obatan dorongan dari Alang Merah Malaya buat Alang Merah Indonesia. Mereka hendak melambung memakai pesawat DC- 3 Dakota bernomor pendaftaran VT- CLA.

Pertemuan berjalan bersahabat semacam lazim kala kedua anak buah Suryadarma itu mangulas permasalahan AURI serta peperangan dengan si KSAU. Kala kunjungan berakhir, kedua opsir belia AURI itu berpamitan semacam lazim mereka berjumpa tadinya.

Seluruh berjalan semacam lazim sehabis itu. Adisutjipto serta dokter calon perwira pergi ke Singapore, sedangkan Suryadarma mengelola AURI serta Utami bersumbangsih dengan menolong peperangan di garis balik bersama aksi wanita.

Tetapi, pada 29 Juli 1947 petang Utami mengalami keganjilan di atas langit Yogyakarta.“ Kita seluruh mengikuti suara deruman suatu pesawat Dakota. Suamiku bingung sebab umumnya pesawat kita yang tiba dari luar negara, berlabuh di Yogyakarta pada malam hari jika hari telah benar- benar hitam. Dikala itu petang hari yang sedang terang- benderang,” ucapnya.

Keganjilan seperti itu yang membuat Suryadarma, tutur Utami, lekas berlari ke mobilnya buat mengarah Lanud Maguwo( saat ini Lanud Adisucipto) yang posisinya tidak sangat jauh dari adres KSAU. Kedua anak Suryadarma- Utami, ialah Priyanti serta Erlangga, turut dengan papa mereka.

Utami menunggu di rumah dengan batin takut. Kecemasannya mendadak berganti jadi kesedihan kala suami bersama kedua buah hatinya datang dari Maguwo petang itu. Suryadarma melaporkan kalau pesawat Dakota yang suaranya mereka dengar petang itu nyatanya Dakota yang–disewa AURI dari Kalingga Air kepunyaan Bidju Patnaik, wiraswasta India yang mengasihani pada peperangan kebebasan Indonesia– ditumpangi Adisutjipto serta dokter kreolin serta pesawat itu terkini saja jatuh ditembak pesawat Belanda.

“ Dakota VT- CLA menghasilkan asap; baling- baling sisi kanan patah. Pesawat itu kehabisan penyeimbang serta tembakan sedang beruntun dilancarkan. Kala menukik runcing, dari pintu pesawat nampak sebagian wujud badan terlempar ke luar. Pesawat miring sampai kapak kirinya melanggar puncak tumbuhan, setelah itu jatuh melayang membentur bendungan kebun,” tutur saksi bernama Soma Pawiro begitu juga diambil Irna Soewito dkk. dalam Dini Kedirgantaraan di Indonesia: Peperangan AURI 1945- 1950.

“ Hatiku tersayat- sayat rasanya,” tutur Utami mengenang kondisi dikala ia mengikuti berita iba itu.“ Buat petama kalinya aku melihat suamiku meratap sekembalinya dari Maguwo.”

Malam itu pula Suryadarma–yang saat sebelum kembali turut bawa jenazah korban Dakota ke rumahsakit– serta Utami ke Rumahsakit Bethesda, tempat para jenazah disemayamkan. Kepala negara Sukarno, Wapres Moh. Hatta, serta Pangsar Jenderal Soedirman telah terdapat di rumahsakit kala mereka datang.

Suryadarma amat terserang oleh peristiwa itu, tutur Utami. Tidak hanya kehabisan kawan sekalian bawahan- bawahan yang cakap, ia bagaikan atasan AURI yang sedang sama tua jagung kehabisan pencetak- pencetak kandidat penerbang- penerbang terkini. Efisien cuma bermukim Halim Perdanakusuma serta Iswahyudi yang bisa diandalkannya buat lalu melaksanakan cakra kehidupan AURI.

Serupa dengan suaminya, Utami pula terserang oleh peristiwa itu.“ Tadinya aku merasa ngeri memandang janazah para korban, namun rasa itu lenyap kala aku memandang wajah Adisoetjipto serta dokter Kreolin. Wajah mereka berdua utuh seluruhnya, walaupun terdapat sedikit cedera dibakar. Tetapi aku tidak bisa menahan airmata yang berderai. Terkini sebagian hari yang kemudian mereka berdua tiba berpamitan ke rumah, sebab hendak pergi ke Singapore buat kewajiban berarti ini. Saat ini mereka telah kembali dari melaksanakan kewajiban, namun mereka sudah tidak hidup. Gimana aku tidak pilu serta gimana aku bisa menahan airmata mengenang itu seluruh,” tutur Utami.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *