Semenjak dibuat Sir Stamford Raffles pada 1819, Negara Raja hutan menarik atensi para turis. Kota seluas 710. 2 km2 ini jadi tempat pelabuhan mereka saat sebelum meneruskan ekspedisi ke area Asia yang lain. Banyak opini eksklusif diceritakan para turis.

Dalam novel Singapore Tempo Doeloe, John Bastin, ahli sejarah terkenal Asia Tenggara, memilah 60 cerita menarik dari beraneka pangkal yang sanggup mengajak pembaca menjajaki kemajuan Singapore semenjak berdiri sampai pendudukan Jepang.

Beberapa besar turis tiba ke Singapore dengan menumpang kapal laut. Beberapa kecil tiba dengan sepur api ataupun penerbangan global. Mayoritas turis asal Eropa serta Amerika. Orang Asia umumnya berwisata bisik- bisik alhasil tidak meninggalkan fakta kunjungan atau catatan mengenai opini mereka atas Singapore.

Novel ini dibuka oleh catatan Kapten Daniel Ross( 1819), atasan Honourable East India Company Ship( HEIC) Discovery, gelar buat kapal- kapal kepunyaan East India Company( EIC) ataupun industri bisnis Inggris di area Hindia Belanda. Ross, bersama Letnan John Gram. F. Crawfurd, atasan HEIC Investigator, ditunjuk Raffles buat mencari pos bisnis penting. Hasil survey mereka melontarkan optimisme Raffles hendak era depan Singapore bagaikan kota perdagangan yang marak.

Lekas sehabis itu, terlebih terdapat pernjanjian dengan Tumenggung Abdul Belas kasih serta Baginda Husain dari Johor, Raffles mulai menyusun pulaunya.

Munsyi Abdullah bin Abdul Kadir, mantan ahli catat Raffles di Melaka pada 1810- 1811, menulis perbincangan antara Raffles serta Kolonel William Farquhar, residen awal Singapore, hal gimana membuka areal buat kawasan tinggal serta pusat bidang usaha. Raffles beranggapan pusat bidang usaha wajib ditempatkan di dekat bengawan. Farquhar tidak satu bahasa. Sebabnya, wilayah itu tidak sesuai sebab becek serta airnya kotor. Bayaran mengeruk tanah pula mahal.“ Lagipula, dari mana memperoleh tanah yang banyak buat menaikkan dataran pinggir bengawan?”

“ Bila Kampong Glam jadi tempat bidang usaha, wilayah ini tidak hendak bertumbuh hingga bila juga,” mengenai Raffles.

Farquhar kesimpulannya menekur. Sehabis 3 sampai 4 bulan, pinggir bengawan yang berawa- rawa serta becek diratakan dengan tanah yang didapat dari busut kecil di dekat Tanjong Singapore. Wilayah yang terdapat di akhir Tanjong Singapore, Gang Tambangan, diisyarati serta dilelang. Mereka mengubahnya jadi halaman.

“… mereka bernazar membuat bangunan serta arca Tuan Raffles di situ, bagaikan pengingat untuk seluruh orang kalau beliau sudah melaksanakan profesi yang hebat,” catat Munsy Abdullah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *