Papa T. Bob, inventor lagu kanak- kanak terkenal masa 1990- an, tewas dalam ekspedisi mengarah rumah sakit pada Jum’ at, 10 Juli 2020. Jenazahnya dimakamkan pada hari itu pula petang harinya di Tempat Penguburan Biasa Lembah Bengong Timur, Tangerang Selatan, Banten.

Sepanjang dasawarsa 1990- an, Papa T. Bob menghasilkan banyak lagu kanak- kanak serta jadi hits di radio dan tv. Lagu- lagu itu setelah itu dijual dalam wujud kaset serta laris manis di pasaran. Berkah lagu- lagunya, beberapa julukan biduan kecil jadi populer. Semacam Enno Lerian, Dhea Ananda, Leony, Alfandy, Joshua Suherman, serta Tina Toon.

Papa T. Bob bernama asli Erwanda Lukas. T. Bob merupakan julukan buah hatinya. Ia mengatakan dirinya Papa T. Bob sehabis menghasilkan lagu kanak- kanak buat kali awal pada dini 1990. Theodore K. S., pengamat nada yang sempat mewawancarai Papa T. Bob, berkata pada Historia, lagu“ Semut- semut Kecil” termotivasi sehabis Erwanda mencermati gerak- gerik T. Bob sewaktu berumur satu tahun 6 bulan.

Berasal dari Nada Lawak serta Rock

Erwanda Lukas lahir pada 22 Oktober 1960. Tidak semacam inventor lagu kanak- kanak angkatan tadinya semacam Bunda Sud( Saridjah Niung), Pak Kasur, serta Pak Dal( Daldjono Hadisudibjo), ia tercantum telanjur dalam hal mencipta lagu kanak- kanak. Karena ia tadinya lebih kerap bercintaan dengan lagu lawak serta nada rock.

Beberapa lagu lawak itu luang bermasalah.“ Humornya bandel. Kerap berhubungan dengan pihak yang berhak,” tutur Theodore.

Setelah itu Erwanda berpindah ke rute rock dengan membuat tim Caesar Rock Group One. Julukan pentas Erwanda merupakan Wanda Chaplin. Bagi Golongan Biduan Jalanan dalam Memo Seperempat Era Golongan Biduan Jalanan, Wanda Chaplin tidak canggung tampak di jalanan.

Erwanda berusaha masuk ke rute handal dengan menawarkan lagu- lagu rock ciptaannya pada produser. Tetapi tidak seseorang produser juga menerimanya.“ Justru ia ditanya,‘ memiliki lagu kanak- kanak tidak?’” jelas Theodore. Di sinilah titik balik hidup Erwanda. Ia memandang ini peluang buat memijak rute handal.

Erwanda menanggapi sekenanya.“ Terdapat!” Sementara itu dikala itu ia belum memiliki lagu kanak- kanak.“ Aku pikir apa salahnya dengan lagu kanak- kanak? Hingga aku bilang terdapat, jadilah‘ Semut- semut Kecil’ yang dinyanyikan Melisa serta diterbitkan Gajah Mada Records,” catat Kompas, 12 Mei 1991.

“ Semut- semut Kecil” jadi hits. Bersama terbitnya lagu itu, Erwanda meninggalkan julukan Wanda Chaplin serta mengubahnya dengan Papa T. Bob.

Berhasil lagu pertamanya buat keyakinan diri Papa T. Bob dalam berkreasi berkembang cepat. Ia menghasilkan lagu kanak- kanak yang lain, semacam“ Sang Kodok” serta me-­medley 2 lagu kanak- kanak konvensional,“ Cublak- Cublak Suweng” serta“ Soleram”, dengan perasaan rasa nada pop. Tetapi liriknya senantiasa bermuatan pembelajaran.

Campuran Papa T. Bob ini nyatanya sukses mengerek pemasaran kaset bermuatan 4 lagu mulanya.“ Pada umumnya menggapai nilai pemasaran 200. 000–800. 000 kopi kaset,” tulis Barut Junia Sandra dalam Tipe Perkataan serta Pola Perkataan Lagu Terkenal Anak- anak, riset di Fakultas Kesusastraan Universitas Indonesia pada 1993.

Karya- karya Papa T. Bob ialah hasil kompromi kondisi pada era itu. Karena, dikala itu ia wajib memikirkan pula pandangan komersil lagu anak. Tetapi di bagian lain, ia sungkan kurangi bagasi pendidikannya.

cameraPapa T. Bob( kiri) bersama kanak- kanak binaannya dahulu yang saat ini sudah berusia, Tina Toon serta Leony.( Instagram@papatbob_official)

Mencari Trio Anak- anak

Biasa pada era itu lagu kanak- kanak bercita rasa nada pop laris di pasaran. Tetapi faktor pendidikannya amat kurang. Melirik lagu pula jadi lebih jauh dari melirik lagu rentang waktu tadinya. Lagu buatan Papa T. Bob tercantum berlirik jauh.

“ Puisi lagu kanak- kanak pada dasawarsa tahun 90- an mempunyai kecondongan buat bertentangan dengan kenyataan tiap hari yang mempunyai rancangan yang salah kepada uraian hendak suatu,” catat Djoko Marihandono dalam informasi penelitiannya di Universitas Indonesia,“ Kemajuan Tematis Puisi Lagu Kanak- kanak”.

Sehabis berakhir dengan invensi lagu, Papa T. Bob berjalan lebih jauh. Ia mencari kanak- kanak buat menyanyikan lagu ciptaannya.“ Hingga ia mengintip biduan kanak- kanak yang tiap hari Minggu manggung di Pasar Seni Ancol. Ambisinya membuat suatu trio,” tutur Theodore.

Bertepatan dikala itu terdapat 3 anak tampak: Johani, Johermin, serta Bagus Pratiwi. Umur ketiganya terkini tiba 10 tahun. Papa T. Bob terkesan dengan mutu bunyi mereka alhasil mengajaknya masuk dapur rekaman. Ia menamainya Trio Anak Manis.

Sepanjang bersama kanak- kanak itu, Papa T. Bob mempraktikkan ilmu jiwa kanak- kanak. Ia tidak sempat memforsir mereka buat penuhi tujuan pribadinya.“ Dapat saja lagi take( merekam) bunyi, mereka meringik peroleh, dahaga, mengantuk, serta serupanya,” tutur Papa T. Bob dalam Kompas. Ia membiasakan metode kerjanya dengan kondisi mereka semacam bila wajib mengawali rekaman ataupun menghentikannya.

Papa T. Bob membuat inovasi terkini dalam kultivasi album Trio Anak Manis. Ia memuat musiknya dengan aksen disko. Tujuannya supaya pasar menyambut album ini. Dengan metode begitu, ia pula senantiasa bisa mengantarkan catatan dalam melirik lagu ciptaannya.

Terdaftar, sepanjang lebih dari 10 tahun lagu buatan Papa T. Bob memimpin pasar lagu kanak- kanak. Kanak- kanak binaannya pula populer di mana- mana. Kanak- kanak Indonesia kelahiran 1980- an akhir serta 1990- an dini, hapal di luar kepala melirik lagu ciptaannya.

Lenyap dari Peredaran

Papa T. Bob mendulang rupiah dari mencipta lagu kanak- kanak serta memopulerkan kanak- kanak ke tv. Ia langsung dapat menebus suatu kondominium cuma dengan suatu lagu. Tetapi saban kali memperingati hari balik tahunnya, ia memilah memberi keceriaan dengan sesama yang kurang asian.

“ Untuk inventor lagu kanak- kanak ini, balik tahunnya lumayan dirayakan di rumah yatim piatu ataupun dengan sunatan massal,” tulis Ummat, Vol. 2, Rumor 8- 13.

Julukan Papa T. Bob luang lenyap sebagian lama pada dasawarsa 2000- an. Inilah dasawarsa kehancuran lagu kanak- kanak. Sebagian inventor lagu kanak- kanak telah marhum semenjak dasawarsa tadinya. Sedangkan itu, pabrik tv pula mulai menghilangkan sebagian kegiatan kanak- kanak serta sungkan menayangkan lagu kanak- kanak.

Era itu Papa T. Bob tergulung beberapa permasalahan serta dakwaan tidak nikmat: pelecehan, pertaruhan, serta pembohongan. Ia luang aktif kembali menulis lagu pada 2005. Tetapi era jayanya telah melalui. Lagu- lagu itu tidak laris. Situasi ekonominya merosot.

“ Aku tidak dapat hidup lagi di bumi orang banyak. Bumi aku saat ini terdapat di warteg( gerai tegal),” tutur Papa T. Bob dalam Tabloid Bintang, 9 Juni 2010.

Kala kekerasan kepada kanak- kanak mulai jadi atensi orang di negara ini, Papa T. Bob timbul lagi. Ia membuat satu lagu spesial bertajuk“ Kontra Kekerasan Anak” pada 2014. Sehabis itu, julukan Papa T. Bob sirna lagi dari penyebaran. Ia menderita penyakit diabet serta wajib menempuh pemeliharaan teratur.

Seluruh sakit Papa T. Bob selesai Jum’ at kemarin. Ia meninggal meninggalkan lagu- lagu kanak- kanak hasil kompromi era. Kanak- kanak yang sempat mengikuti lagu ciptaannya dahulu, saat ini sudah berkembang berusia. Lewat alat sosial, mereka menguak rasa kehilangannya. Aman jalur, Papa T. Bob.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *