Pada 16 Agustus 1964, Letda Sintong Panjaitan( di setelah itu hari jadi advokat tentara Kepala negara BJ Habibie) memberi tahu kedatangannya pada Serta Yonif 321 atau Galuh Aspiran Utama Mochtar. Sintong, yang belum satu tahun lolos dari AMN, ditugaskan ke Sulawesi Selatan buat menolong Pembedahan Cepat menumpas aksi Mahakuasa Muzakar.

“ Pada medio Agustus 1965, 15 orang di antara 120 orang opsir alumni AMN angkatan 1963, ditugaskan di Sulawesi Selatan serta Tenggara buat mendapatkan pengalaman tempur,” catat Hendro Subroto dalam Sintong Panjaitan: Ekspedisi Seseorang Prajurit Para Aba- aba.

close

Di situ, Sintong di- BP( Dasar Perintah)- kan ke dalam Yonif 321 atau Galuh Aspiran Brigif 13 atau Galuh Kodam IV atau Siliwangi. Yonif 321 dikirim Kodam IV atau Siliwangi buat menolong Kodam XIV atau Hasanuddin dalam menumpas aksi Mahakuasa. Pelibatan Siliwangi itu atas permohonan Pangdam Hasanuddin Kolonel Meter. Jusuf, yang ke Jakarta mengarah Menpangad Letjen A. Yani satu hari sehabis aman dari penggerebekan penangkapan Andi Selle.

“ Jusuf setelah itu memohon Kolonel Solihin GP dari Bagian Siliwangi dinaikan bagaikan Kepala Karyawan Pembedahan Tentara yang hendak dilancarkan kepada Andi Selle serta paling utama sekali kepada Mahakuasa Muzakkar, catat Syafaruddin Usman Mhd dalam Kejadian Chauvinis serta Disiden Mahakuasa Muzakkar.

Siliwangi jadi kodam yang sangat banyak mengirim anggotanya dalam pembedahan rute matra itu.“ Gerombolan Siliwangi, yang diterjunkan buat melawan Mahakuasa, awal mula dihadapkan pada Andi Selle,” catat Barbara Sillars Harvey dalam Makar Mahakuasa Muzakkar: Dari Adat- istiadat ke DI atau TII.

Hingga berakhir diperoleh laporannya, Sintong ke baraknya yang berdampingan dengan markas batalyon di kota kecil Barakka. Malam harinya, kawanan Mahakuasa melanda markas batalyon itu sampai membunuh seseorang badan. Serbuan itu menyadarkan Sintong kalau kewajiban pertamanya ini bukan acak kewajiban. Ia yang ditugaskan jadi panglima Pleton 1 harus banyak berlatih pada bawahannya sebab biasanya mereka kenyang pengalaman tempur.

Betul saja. Sebagian durasi setelah itu, malam berakhir Pleton 1 mendirikan bivak di Talangrilau, mereka diserbu kawanan DI atau TII Mahakuasa arahan Syamsuddin. Kala pertempuran berakhir, mereka sedang lalu diusik dengan tembakan tunggal rival yang tiba saban separuh jam sampai jam 04 pagi.

Walaupun tembakan kendala menurun di siang, pleton Sintong kembali diserbu pada malamnya. Pertempuran hebat juga terjalin sampai 3 hari lamanya. Di hari ketiga, pleton Sintong mulai kehilangan timah panas. Akad antaran timah panas yang mereka dapat tertunda jadi realitas karena helikopter yang hendak dipakai buat mengangkat hadapi kehancuran.

Pada hari keempat, Sintong menginstruksikan Koptu Berhasil mensterilkan meriam katak 5( 50mm) sebab kurang bersih alhasil dikhawatirkan macet kala dipakai. Asian eliminasi sudah beres kala pada jam 04 kawanan rival kembali melanda dari bukit- bukit di dekat bivak. Sintong lekas menginstruksikan Berhasil memicu meriam katak yang terkini dibersihkan itu. Tetapi, timah panas meriam katak kandas meluncur walaupun candit sudah ditarik. Perihal itu membuat Sintong jengkel alhasil melabrak Berhasil supaya kembali mensterilkan meriam katak itu.

Sehabis meriam katak dibersihkan, Sintong mengutip ganti posisi Berhasil bagaikan penembak meriam katak. Timah panas meriam katak juga dimasukkannya ke dalam bunyi. Tetapi, timah panas itu kembali kandas meluncur. Sintong juga menumpahkan kekesalannya dengan kembali melabrak Berhasil.

“ Letnan belum menarik picunya,” tutur Koptu Berhasil menanggapi percakapan Sintong, diambil Hendro.

Walaupun tidak dikatakannya, percakapan Berhasil menyadarkan Sintong kalau ia memanglah salah sebab Meriam katak 5 yang digunakannya ialah meriam katak lama aset Jepang yang harus ditarik picunya buat dapat memicu timah panas. Walhasil untuk melindungi wibawanya di hadapan anak buah, Sintong juga berdalih.

“ Candit telah aku raih, namun meriam katak senantiasa macet,” tutur Sintong.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *