Kisah Jenderal Jusuf dan Para Wartawan – merupakan Komandan ABRI yang sangat disenangi reporter pada masanya. Tidak hanya diketahui ramah kepada buruh kasar tinta, Jusuf pula tidak“ pelit” memberi dengan mereka. Jusuf meyakinkan itu dengan kerutinan mengajak para reporter buat meliput ekspedisi dinasnya.

“ Antara tahun 1978—1983, Jusuf sama dengan ekspedisi kisaran Indonesia. Ekspedisi juga sama dengan hidup, makan, tidur di dalam perut( pesawat) Hercules,” catat Atmadji Sumarkidjo dalam Jenderal Meter. Jusuf: Komandan Para Prajurit.

Untuk golongan reporter, kunjungan ke arah negara ini diucap bagaikan“ Ekspedisi Jusuf”. Nyaris beberapa besar ekspedisi Jusuf ke luar kota dimulai pada dini hari. Maksudnya, pergi dekat jam 05. 00 pagi. Hingga untuk reporter yang dibawa buat meliput telah dijemput oleh karyawan Menhankam pada jam 02. 00- 03. 00 dini hari.

Jusuf memiliki ketentuan kepada para reporter yang berpeluang menjajaki safarinya. Mereka wajib menggunakan sebentuk serba hijau, bagus sebentuk resmi atau alun- alun( Busana Biro Alun- alun). Di balik ketentuan itu terdapat alibi spesial.

“ Biar mereka mendalami serta merasakan denyut aorta para prajurit ABRI,” tutur Jusuf ditirukan Atmadji.

Sekira 30 menit sehabis pesawat pergi dari Pos Halim Perdanakusumah, Jusuf senang melaksanakan inspeksi dalam pesawat. Ia memandang siapa- siapa saja penumpang yang jadi badan kaum. Peluang itu pula yang senantiasa dipakai Jusuf buat menyapa para reporter. Terkadang Jusuf membagikan data pada reporter hal tujuan yang wajib digapai dalam kunjungan itu. Dialog Jusuf dengan reporter acap kali diselingi banyolan.

Untuk yang telah dikenalnya bagus, Jusuf sering melayangkan pertanyaan,“ Gimana kabarmu? Baek- baek saja kan?” Jusuf pula tidak canggung mencermati performa reporter yang nampak kira- kira berandalan. Misalnya, bila dilihatnya terdapat reporter yang panjang, Jusuf hendak berseloroh,“ Anda atur sedikit rambutmu betul, supaya nampak baik.”

Di dalam pesawat, Jusuf tidak suka pada mereka yang memiliki kerutinan merokok. Ia dapat marah jika memandang asap melambung, sekalipun kepada sesama opsir besar. Tetapi Jusuf lapang dada jika pertanyaan tidur. Jusuf suka jalur ke kabin balik serta mencermati para penumpang yang tertidur nyenyak. Sebagian jam setelah itu dalam atmosfer yang bebas, ia kerap meledek para reporter.

“ Astaga lezat sekali kamu ini, telah tidak beri uang naik pesawat melambung, tidurnya lelap pula,” kicau Jusuf. Siapapun tidak terdapat yang marah sebab ketahui kalau itu hanya senda gurauan belaka.

Tiap kali turut dan meliput kunjungan kegiatan Jusuf di wilayah, seluruh keinginan reporter dijamin. Mulai dari pemindahan, makan, sampai fasilitas. Mereka yang telah jadi langganan senantiasa masuk jenis“ kaum sirkus”. Tetapi terdapat pula reporter yang dibawa dengan cara dadakan.

Sesuatu siang berakhir rapat kegiatan DPR, 4 orang reporter menunggu Jusuf buat melaksanakan tanya jawab. Kala Jusuf berjalan ke luar ruangan, otomatis para reporter mengerumuninya sembari mengajukan perlengkapan perekam. Tetapi Jusuf lagi dalam situasi kurang mood buat diwawancarai. Dengan gayung komandonya, ia menunjuk satu demi satu ke perut reporter itu.

“ Saya lagi berat kaki ucapan. Anda, anda, anda, serta anda, turut saya saja saat ini ke Halim! Kita pergi ke Ajang satu jam lagi,” ucap Jusuf otomatis.

Dengan kilat, karyawan Jenderal Jusuf mencari suatu mobil buat menaikan para reporter itu. Keempat reporter mulanya juga dibawa dalam kondisi separuh melamun. Setibanya di Ajang, kemudian mereka memiliki durasi buat segera membeli gosok gigi, pasta gigi, busana dalam serta pakaian ubah.

Salah satu reporter yang asian senantiasa menjajaki kunjungan Jusuf yakni Atmadji Sumarkidjo. Kala itu, Atmadji sedang seseorang reporter belia setiap hari Cahaya Impian. Bagi Atmadji, hubungannya dengan Jusuf pada awal mulanya hingga profesionalitas antara reporter dengan narasumbernya.

“ Setelah itu ikatan itu bertumbuh jadi ikatan individu yang amat bermutu serta tidak sempat satu kali juga terhambat sampai Pak Jusuf meninggal,” melamun Atmadji.

Ikatan akrab itu diawali dengan atensi spesial yang diserahkan oleh istri Jusuf, Elly Jusuf Saelan atas tulisan- tulisan yang dilansir di pesan berita Cahaya Impian. Atmadji setelah itu diyakini buat menorehkan memoar Meter. Jusuf yang bertajuk Jenderal Meter. Jusuf: Komandan Para Prajurit.

Bersamaan durasi, karir wartawan Atmadji bertambah memanjat di Cahaya Impian. Namanya juga apes melintang di bumi alat ataupun publikasi tanah air. Saat ini Atmadji lebih diketahui aktif bagaikan karyawan spesial Menteri Kordinator Bintang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *