Profesor. Paulus Wirutomo, guru besar ilmu masyarakat Universitas Indonesia( UI), tersimpul terbahak serta menggeleng- gelengkan kepalanya kala mengenang insiden itu. Ketika mahasiswa pada dasawarsa 1970- an, Paulus berkarib dengan Ajaran Sardono ataupun Dono Warkop, adik kelasnya di bidang ilmu masyarakat UI.

Paulus serta Dono luang melaksanakan riset serempak di sesuatu dusun di Serpong, Tangerang, sepanjang 1974–1975. Kala itu Serpong sedang jauh dari gesekan pembangunan. Dokter juga tidak terdapat. Hingga, Serpong jadi wilayah prioritas buat dibesarkan lewat program kegiatan serupa antara universitas, penguasa, serta badan riset dari dalam serta luar negara.

close

Banyak orang Serpong suka dengan program pengembangan area mereka. Penyambutan mereka kepada periset, mahasiswa, serta karyawan rezim amat hangat. Masyarakat apalagi membuka rumahnya pada beberapa mahasiswa, tercantum Paulus serta Dono, buat dihuni sedangkan.

Bagaikan mahasiswa ilmu masyarakat, Paulus serta Dono bekerja menggali situasi masyarakat. Mereka mengedarkan angket ke beberapa masyarakat. Sesuatu hari, Paulus serta Dono mendapatkan pinjaman sepeda motor. Mereka berkelana dusun dengan menenteng map bermuatan angket.

Di tengah jalur, mata Paulus serta Dono membekuk seseorang wanita dusun berdiri di halaman rumah. Wanita dusun itu bentrok lihat dengan Paulus serta Dono yang lagi motoran. Kemudian ia melontarkan senyum ke mereka.“ Aih, manis sekali,” hati Paulus.

Dono seketika memohon Paulus putar balik sepeda motornya.“ Mari, kita singgah aja,” tutur Dono. Mereka mau berteman dengan wanita itu. Tetapi mereka wajib menata siasat. Karena terdapat adat dusun setempat yang wajib dihormati.“ Tidak santun jika wanita ngobrol- ngobrol serupa pria,” melamun Paulus.

Setelah itu Paulus serta Dono menciptakan siasat ampuh. Mereka berterus terang mau berjumpa kepala keluarga owner rumah, ialah papa sang wanita. Mereka bilang mau mengakulasi beberapa informasi serta mewawancara si papa.“ Ayahnya tidak berprasangka. Sementara itu ia bukan tercantum responden kita,” ucap Paulus terkekeh.

Percakapan juga mengalir. Paulus serta Dono sesekali celingukan mencari sang wanita. Yang dicari kesimpulannya tiba. Ia bawa 2 cangkir teh buat tetamunya. Sambil sok sungguh- sungguh ngobrol dengan papa sang wanita, mereka mencarak teh itu.

Durasi berjumpa sudah selesai. Paulus serta Dono memohon berpamitan minta diri pada owner rumah. Dalam ekspedisi kembali, Paulus mengatakan,“ Don, tehnya manis sangat!”

“ Iya. Kemanisan,” menanggapi Dono.

Warnanya Paulus serta Dono silih menahan rasa kemanisan teh itu di hadapan papa wanita.“ Aku serupa Dono bungkam saja. Hahaha,” ucap Paulus. Mereka bersama beranggapan, barangkali wanita itu menuang sangat banyak gula sebab kelewat suka memandang mereka.

Paulus serta Dono setelah itu berakhir jalur sehabis lolos kuliah. Paulus memeriksa bumi akademis dengan meneruskan kuliah di Inggris, sebaliknya Dono menyelidiki sarwa film dengan membesarkan Warkop bersama Kasino serta Indro.” Era ini jika dikatakan kita dekat dengan cara raga, enggak betul. Tetapi kita dekat dengan cara batin. Ini kita kokoh sangat,” tutur Paulus. Mereka senantiasa silih berkabar lewat pesan.

Kala di Inggris, Paulus mendapatkan pesan dari Dono. Ia langsung tergelak- gelak dikala membaca damai pembukanya. Pada yang tidak terpandang, Paulus Wirutomo, sedemikian itu Dono menulisnya.” Jadi betul seperti itu. Sang Dono memang konyol sangat,” ucap Paulus.

Terdapat lagi narasi yang lain. Sedang dari dusun tempat Paulus serta Dono mempelajari. Kali ini Dono dikunjungi seseorang bunda. Bibir bunda itu kira- kira sumbing alhasil omongannya kurang nyata. Pada Dono, bunda itu menceritakan mengenai penyakit suaminya. Dono mencermati dengan adem. Sebagian hari setelah itu, wanita itu tiba lagi. Dono menanya mengenai situasi suaminya.

“ Telah meninggan,” jawab sang bunda.

“ Oh, telah lebih baik betul, Bu. Telah baik betul, Bu,” tutur Dono.

“ Bukan lebih baik. Tetapi meninggan.”

“ Apa, Bu? Meninggan? Meninggan?

“ Meninggan… Meninggan…”

“ Oh, Tewas?”

Bunda itu menganggut.“ Jadi, Dono salah mengerti.‘ Meninggan’ itu artinya tewas,” tutur Paulus.

Sedangkan itu, Rani Toersilaningsih, adik wanita kedua Dono, memiliki narasi tidak takluk lucu. Dikala Dono anak muda, ia ingat bapaknya senang sekali mengajak Dono serta dirinya menyaksikan boneka kulit. Sesudah menyaksikan, si papa hendak mengakulasi buah hatinya serta mengajak mereka beranggar pikiran mengenai pementasan boneka itu.

Tetapi kala menyaksikan boneka kulit, Dono kerap merelaikan diri dari keluarganya.“ Abang Dono itu senantiasa menyaksikan di balik dalang,” tutur Rani. Awal ia tidak ketahui kenapa Dono sedemikian itu. Sampai sesuatu hari Dono mengajaknya menyaksikan di balik dalang.

Rani memandang banyak santapan lezat di dekat dalang. Komentator boneka sediakan seluruhnya buat dalang. Umumnya, dalang menyantapnya dikala istirahat ataupun sehabis hidangan. Tetapi dalang tidak senantiasa sanggup menghabiskannya. Bila santapan tidak habis, dalang hendak membaginya ke orang yang terdapat di dekatnya.“ Nah, Abang Dono menunggu itu.” kata Rani.

Narasi lucu yang lain terjalin kala Rani tiba kursi kuliah di Universitas Indonesia pada 1977. Dikala itu Dono telah masuk langkah kategorisasi skripsi. Tetapi ia sedang turut berdemonstrasi menentang aniaya kepada independensi beranggapan.

Pada Dono, Rani berterus terang terpikat berasosiasi unjuk rasa. Tetapi Rani mendapatkan asumsi tidak tersangka dari Dono.“ Kalian kembali, deh. Kalian tidak harus demo- demoan. Kalian di rumah saja,” pinta Dono.

Bagi Rani, perihal ini mendekati dengan peristiwa pada adik awal Dono. Ia amat mau jadi bintang film semacam Dono. Tetapi Dono malah melarangnya.

“ Kalian ketahui tidak, bermain film itu semacam apa? Aku lebih senang kalian jadi guru dari kalian jadi bintang film,” tutur Rani mengikuti perkataan Dono pada adik wanita pertamanya.

Pertanyaan film inilah yang jadi alibi Dono menyudahi membimbing di kampus. Rani menceritakan kalau Dono luang jadi guru pengunjung di Universitas Indonesia pada 1980- an.“ Terkadang ia diundang pula buat membimbing kelas- kelas luar lazim di UI,” tutur Rani.

Tetapi beberapa besar durasi Dono tersita buat main film serta manggung dengan tim Warkop. Ia tidak luang lagi membaca banyak novel alhasil merasa ilmunya tidak lumayan buat membimbing.“ Lah, jika aku membimbing tetapi mahasiswanya lebih cerdas dari saya, kan repot,” narasi Dono pada Rani.

Dono sempat mengutarakan perihal seragam dalam Femina, 4 Oktober 1983. Ia bilang ketika mahasiswa dirinya sedang sanggup menjajaki kemajuan ilmu sosial. Tetapi sehabis lolos, ia berterus terang tidak sedemikian itu paham lagi kemajuannya.

“ Bisa jadi sebab aku kurang banyak membaca. Sebab seperti itu jika sekali tempo terdapat yang memberitahukan aku: Ini Dono ahli ilmu sosial alumnus UI, aku justru dag- dig- dug,” tutur Dono.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *