IKAN DUYUNG – Cerita Rakyat 2020

Dahulu, hiduplah pasangan suami istri bersama tiga anak yang masih kecil. Pagi itu mereka makan nasi bersama ikan. Masing-masing beroleh bagiannya. Ikan yang dihidangkan rupanya tidak habis. Sebelum berangkat ke kebun, si suami berpesan kepada istrinya. “Bu, tolong simpan ikan yang tersisa untuk makan nanti sore.”

“Baik, Pak jawab si istri. Pada siang harinya, si istri dan ketiga anaknya makan siang bersama. Tiba-tiba si bungsu menangis, menghendaki ikan yang disimpan di lemari. Dengan sabar, ia mencoba memberi pengertian. “Nak, ikan itu untuk makan ayah nanti sore.” Entah apa yang terjadi, si bungsu malah menangis sekeras-kerasnya. Akhirnya, sisa ikan itu diberikan kepada si bungsu. Seketika itu juga, tangisannya tak terdengar lagi.

Bekerja seharian menyebabkan si ayah begitu lapar dan lelahnya. Terbayang olehnya, ia makan sore bersama ikan. Dengan cekatan, si ibu menghidangkan makanan. Namun si ayah tidak menyaksikan sisa ikan tadi pagi. Raut mukanya segera berubah masam.

“Bu, mana sisa ikan tadi pagi?” tanya si ayah. “Maaf, Yah. Si bungsu saat makan siang menangis, menghendaki makan bersama ikan,” kata sang ibu.

Akan tetapi bukannya tahu bersama watak anak bungsunya, ia malah nampak begitu marah. Saat itu juga, istrinya dipaksa mencari Ikan di laut. “lbu tidak boleh pulang ke tempat tinggal hingga mendapat ikan yang banyak, sebagai pengganti ikan yang dimakan si bungsu,” kata suaminya tanpa belas kasihan. Si ibu pergi bersama rasa sedih dan sakit hati. Ia begitu berat meninggalkan ketiga anaknya, lebih-lebih si bungsu yang masih menyusui.

Sudah lama si ibu tidak kembali ke rumah. Ketiga anak yang masih kecil itu begitu merindukan ibunya. Mereka mencari ibunya ke tepi laut. Terus saja mereka memanggiI-manggil ibunya. Proses pencarian nyaris mustahil, dikarenakan tidak seorang pun ada di situ. Sungguh ajaib, si ibu tiba-tiba nampak berasal dari laut. Dihampirinya si bungsu dan segera disusuinya.

Si ibu berpesan supaya mereka kembali ke rumah. Kata si ibu, tidak lama kembali ia akan pulang. Mereka patuhi perintah ibunya dan segera pulang. Semalaman mereka tunggu si ibu. Namun, si Ibu tak termasuk kunjung datang. Kecemasan terhadap nasib si ibu menyebabkan mereka kembali ke laut keesokan harinya.

“Bu, pulanglah ke rumah..! Si Bungsu menghendaki menyusui ujar si sulung saat tiba di tepi laut.

Ibu mereka pun nampak berasal dari laut. Lalu, si ibu menyusui si Bungsu. Barulah terlihat ada suatu hal yang berubah bersama tubuh ibu.Ada sisik di sekujurtubuhnya. Rasa suka cita sirna, bergeser rasa curiga dan takut.

“Sini bungsu, ibu akan menyusuimu,” bujuk si ibu.

“Tidak! Kau bukan ibuku!” tukas si bungsu.

”Aku adalah ibu kalian, anak-anakku!”

“Bukan! Kau bukan ibu kami!” jawab si sulung sambil menarik adik-adiknya meninggalkan tepi laut. Mereka pun terus menyusuri pantai tanpa tujuan yang jelas. Tiap kali mereka memanggil si ibu, tiap itu pula nampak si Ibu bersama tubuhnya yang disesaki sisik Ikan. Akhirnya, ibu itu menjadi ikan duyung. Separuh tubuhnya berwujud manusia dan separuhnya kembali berwujud ikan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *