Sehabis Belanda melancarkan gempuran tentara kedua, angkatan orang di Sumatra Timur merapatkan barisan. Mereka akur buat melangsungkan perlawanan. Hari- H aksi diresmikan pada 29 Desember 1948 dengan isyarat pembedahan: Melati.

Jam 20. 00 malam, angkatan orang beranjak. Dengan cara berbarengan tiap zona melaksanakan perlawanan. Angkatan Gerindo serta Napindo merupakan sebagian golongan angkatan yang ikut serta. Hasil serbuan dadakan itu lumayan buat Belanda kelimpungan sekalian marah.

Mesin generator listrik industri Martoba di Pematang Siantar dirusak. Sebagian perkebunan teh di Martoba, Simbolon, Simpang Raya, Bahbutong, serta Marjanji terbakar. Kawat- kawat telepon di di Tanah Jawa, Pematang Raya, Kuala Namu, serta Tebing Besar diputus. Sebagian puluh hektare ladang tembakau yang lagi berkembang produktif di Deli Serdang serta Langkat juga tidak bebas dari pengrusakan.

“ Perlawanan orang digerakkan serentak

di semua Sumatra Timur cocok dengan capaian yang membolehkan, menemukan respon runcing dekameter keras dari NEFIS( Dasar Biro Intelijen Belanda),” catat Tukidjan Pranoto dalam Tetes Kabut di Dunia Simalungun.

Buat membalas kelakuan para gerilyawan, Belanda memobilisasi dasar polisi antigerilya bernama Troopen Intellegence Vor Gerilya( TIVG) yang dipandu Utama Van der Plank. Gerombolan TIVG menguber sebagian pentolan angkatan dari desa ke desa. Seturut dengan memo Tukidjan, Hasan Zunaidi serta Kiyai Parman dari Gerindo terjebak oleh TIVG serta setelah itu ditembak mati. Sedangkan itu, sebagian badan Napindo ditawan di Pematang Siantar.

Dalam pelacakan ke desa Karang Anyer, Simalungun, TIVG berburu pentolan gerilyawan dari Angkatan Napindo bernama Sarino. Tidak jauh dari rumah Sarino di dekat langgar Karang Anyer, Ishak Lubis, karyawan aba- aba Napindo lagi terletak di rumah salah seseorang badan Napindo. Disini dimulailah cerita kelakuan“ melindungi diri” itu.

Ishak Lubis merasa terperangkap sedemikian itu gerombolan TIVG melaksanakan penyergapan di area rumah Sarino. Siuman terletak dalam ancaman, Ishak Lubis segera angkat kaki dengan memanjat tumbuhan rambutan aceh di balik rumah. Sebagian badan TIVG memerhatikan Ishak Lubis yang telah nangkring di atas tumbuhan. Tanpa siuman, Ishak Lubis langsung saja memetik rambutan aceh kemudian menawarkannya pada serdadu Belanda di dasar situ.

“ Ayah ingin?” sapaan Ishak Lubis sambil menutupi rasa gemetarnya di atas tumbuhan rambutan aceh.

“ Iya,” jawab badan TIVG.

Sedemikian itu menemukan balasan dari dasar, Ishak Lubis lekas menjatuhkan sebagian anak cabang rambutan aceh pada para pengejar angkatan itu. Sehabis mengutip rambutan aceh, gerombolan TIVG meneruskan tugasnya. Mereka sukses meringkus Sarino serta membawanya dengan mobil jip ke Pematang Siantar. Dengan tertangkapnya Sarino, penyergapan serta pelacakan berakhir, Gerombolan TIVG itu juga kembali ke markasnya. Sedangkan itu, Ishak Lubis bebas dari pencidukan.

“ Ishak Lubis lekas turun serta menemui owner rambutan aceh dekat langgar itu, melafalkan terimakasih serta berikutnya dengan sepeda meninggalkan tempat itu,” begitu semacam diceritakan Tukidjan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *