Dongeng Kehli Maluku Barat 2021

Dongeng Damai di Desa Kehli Maluku Barat Daya th. 2018. Eklin bersama dengan Dodi disambut penuh antusias anak-anak di area tersebut.
DIALOG — Dongeng Damai di Bebar Barat, Maluku Barat Daya. Eklin bersama dengan Dodi tengah mendongeng sambil berdialog bersama dengan keliru seorang anak.

SENYUM bahagia terpancar berasal dari muka Eklin Amtor de Fretes sementara pengumuman penerima awards Semangat Astra Terpadu Untuk Indonesia SATU Indonesia) pada 31 Oktober 2020. Pasalnya, berasal dari sebelas nama penerima awards, ada nama Eklin sebagai keliru satu penerima awards bidang pendidikan.
Kebahagiaan itu wajar dimiliki seorang Eklin. Karena lelaki kelahiran Masohi, Maluku Tengah, Maluku ini, berhasil menyisihkan ratusan kandidat lainnya yang berasal berasal dari berbagai area di seluruh Indonesia. Eklin menggapai awards ini atas konsistensinya didalam mengemukakan pesan-pesan perdamaian bersama dengan cara mendongeng.

”Saya tentu menjadi bahagia sudah beroleh penghargaan SATU Indonesia. Bagi saya, penghargaan ini sudah menghadirkan kegelisahan-kegelisahan dan motivasi yang tetap terbakar didalam diri saya. Penghargaan itu bukanlah ujung. Tapi penghargaan adalah jalur untuk senantiasa berproses dan kudu senantiasa bergerak untuk mengerjakan banyak perihal lainnya. Masih banyak kebaikan yang kudu digerakkan. Penghargaan itu hanyalah bonus dan sebagai pengingat bahwa kudu senantiasa semangat, kudu senantiasa bergerak, serta melaksanakan kebaikan-kebaikan untuk senantiasa diberkati dan memberkati banyak orang,” tutur lelaki kelahiran 19 November 1992 ini.

Penghargaan SATU Indonesia yang diraih Eklin tidak terlepas berasal dari motivasi dan motivasi berasal dari seorang perempuan bernama Anita. Anita ini bukanlah ibu, saudara ataupun kerabat berasal dari Eklin. Tapi Anita adalah keliru seorang panitia berasal dari SATU Indonesia Awards.
”Ibu Anita ini adalah panitia di SATU Indonesia Awards. Beliau lah yang mendorong dan memotivasi saya untuk ikut didalam ajang pertolongan penghargaan berasal dari Astra ini. Saya mengikuti arahannya, dikarenakan saya mengetahui apa yang saya melaksanakan sanggup jadi perumpamaan bagi teman-teman muda dan sanggup jadi berkat bagi banyak orang lain. Jadi kenapa tidak kudu dicoba,” ujar anak keempat berasal dari lima bersaudara ini.

Lawan Segregasi

Bagi sebagian besar penduduk Maluku, th. 1999 merupakan th. kelam. Pasalnya, di th. ini sudah berlangsung konflik di Maluku. Eklin kecil yang sementara itu baru berusia lebih kurang enam tahunan ikut merasakan efek berasal dari konflik ini.
Dampak berasal dari konflik tersebut sudah membawa dampak segregasi lokasi tambah diperkuat. Saudara-saudara Muslim terpisah jauh bersama dengan saudara saudara Kristen. Segregasi itu sendiri adalah pemisahan suatu golongan bersama dengan golongan lainnya.
Tapi segregasi lokasi itu juga sanggup berdampak pada segregasi pemikiran. Karena orangtua atau orang dewasa didalam group homogen itu seringkali menceritakan cerita perihal konflik tersebut. Dimana, sanggup saja bersama dengan pemilihan bhs tidak cukup tepat, bakal membawa dampak anak-anak sanggup jiga memasang pelabelan buruk pada group yang berbeda.
”Oleh dikarenakan itu saya berfikir, kecuali memang segregasi lokasi di Maluku sanggup berdampak pada segregasi kesimpulan akibat penuturan, maka perihal tersebut pun sanggup dikanter atau dilawan. Juga bersama dengan penuturan. Maka saya menentukan dongeng untuk melawan perihal tersebut. Sebab dongeng mengandung nilai-nilai kebaikan. Dimana orang yang mendengar dongeng sanggup studi nilai-nilai tersebut. Juga sanggup memunculkan nilai-nilai tersebut didalam kesehariannya,” saya Eklin
Dalam mendongeng lintas pulau apalagi lintas iman di Maluku, Eklin miliki harapan besar supaya bagaimana para orangtua atau orang dewasa yang melihatnya mendongeng sanggup berfikir bahwa daripada menceritakan cerita-cerita konflik kepada anak-anak, lebih baik ceritakan cerita yang sanggup membangun kepribadian anak-anak jadi lebih baik.

Belajar Secara Otodidak

Kepiawaian mendongeng yang dimiliki Eklin saat ini ini ternyata tidak melaksanakan suatu pendidikan khusus. Tapi seluruh teknik mendongeng dipelajari secara otodidak lewat Youtube. Selain studi secara otodidak, kepiawaiannya mendongeng juga tidak terlepas berasal dari keseringannya mendengarkan dongeng berasal dari mama, papa, dan juga seorang nenek yang tinggal di sebelah rumahnya.
”Saya studi mendongeng cuma lewat youtube dan otodidak. Saya tidak ikut
workshop-workshop dongeng. Selama dua minggu saya studi mendongeng lewat youtube,” ujar Eklin.
Berbeda bersama dengan pendongeng pada umumnya, Eklin tidak sekadar mendongeng. Tapi juga melaksanakan seni berbicara tanpa gunakan gerakan bibir atau ventriloquism. Karena didalam mendongeng, Eklin tidak sendirian. Dia ditemani bonekanya bernama Dodi. Dodi ini adalah akronim berasal dari Dongeng Damai.
”Karena saya juga gunakan figur boneka didalam mendongeng. Maka mendongeng bersama dengan ventriloquism saya pelajari sepanjang dua minggu berasal dari Youtube. Kemudian saya memberanikan diri untuk menjadi mendongeng bersama dengan gunakan ventriloquism,” saya Eklin.
Setelah dirasakan sudah cukup sanggup menguasai, pas 1 Januari 2018, Eklin menjadi menapaki jalur mendongeng secara ventriloquism. Namun cara awalnya mendapat sandungan. Dia ditolak oleh penduduk di keliru satu area di hutan Seram. Dimana, penduduk setempat tetap menganut agama suku atau agama lokal.
”Mereka beranggapan kecuali saya ini calon pendeta dan hendak melaksanakan proses kristenisasi. Sehingga saya diusir. Syukurlah, dihari seterusnya atau tepatnya 2 Januari 2018, saya pindah ke lokasi agama suku yang lain. Di situ saya mendongeng bagi anak-anak di agama suku yang lain. Saya diterima mereka di suatu area di mana mereka melaksanakan upacara adat. Dan saya mendongeng di area itu. Setelah itu saya pindah ulang ke area area perbatasan konflik,” katanya.
Penerimaan yang baik dan untuk tambah menyebarkan materi dongengnya, Eklin menjadi memostingnya di Instagram dan Facebook. Ternyata, postingannya ini beroleh perhatian berasal dari para tenaga keamanan, layaknya polisi dan tentara. Mereka pun menjadi membantunya. Sebagian polisi dan tentara memfasilitasi gereja dan masjid. Mereka menyatukan anak-anak kristen dan anak-anak muslim di gereja, masjid maupun tempat-tempat ibadah lainnya. Eklin pun menjadi mendongeng di hadapan anak-anak yang tidak serupa agama tersebut.

Bawakan Nilai Universal

Dongeng lintas pulau dan lintas iman di area area perbatasan konflik, juga anak-anak di rumah sakit, tambah giat dijalankan Eklin. Materi dongengnya tidak ulang hanyalah nilai perdamaian atau nilai lintas agama. Tapi nilainya universal.
Dalam mengemukakan materi dongeng supaya nyata-nyata mengena, maka Eklin sudah menjadi menyaksikan area serta apa yang jadi kebutuhan daripada anak-anak yang dihadapinya. Jadi sanggup saja dongeng nilai kasih perihal berbagi, nilai perihal mencintai alam dan sebagainya. Nilai nilai kebaikan yang ada didalam dongeng itulah yang dipelajari anak-anak lewat dongeng tanpa ada kesan menggurui.
Dan disaat mereka sanggup memunculkan nilai-nilai itu didalam kesehariannya, itulah yang disebut damai. Dan disaat mereka sanggup bahagia, sanggup ceria, dan sanggup bersama. Hidup yang penuh perbedaan namun mereka sanggup menyatu, maka disitu ada damai. Dongeng tidak kudu senantiasa lintas iman. Tapi nilai nilai dongeng sanggup meluas.
Selama melakoni mendongeng bersama dengan Dodi, Eklin mengaku tidak mendapatkan kesusahan sama sekali. Karena seluruh ditopang ketekunan, semangat, dan niat untuk studi sungguh-sungguh.
”Boneka Dodi yang menemani saya mendongeng ini saya dapatkan di Yogya. Saya kudu menyatukan duit sepanjang sebagian bulan untuk sanggup belanja boneka ini berasal dari keliru satu penjual secara online di Yogya,” tutur Eklin.
Untuk menggali materi dongengnya, Eklin melakukannya lebih pada kontekstual. Dia kudu menyaksikan situasi anak-anak dan lokasi yang dikunjunginya. Ketika rela mendongeng di suatu area atau pulau, andaikan anak-anak kudu hidup bersama dengan sampah, atau di suatu area yang sering berlangsung pengrusakan habitat penyu, tentu kudu mendongeng perihal mencintai alam atau mencintai sesama, juga penyu. Atau di area yang tengah tertimpa bencana gempa bumi.
Agar materi dongengnya sanggup bersama dengan gampang dipahami anak-anak ini, Eklin kadang kala kudu membawa dampak imajinasi yang lebih sederhana. Misal bercerita perihal pohon atau binatang apa yang ada disitu dan dekat bersama dengan anak-anak. Tinggal bagaimana mengembangkannya bersama dengan mengangkat tokoh-tokoh.
Selain itu, Eklin juga kadang kala membacakan buku cerita atau buku dongeng yang berbentuk lazim pula. Dimana tentunya mengandung nilai-nilai kebaikan. ”Dengan membacakan cerita atau dongeng berasal dari buku, saya juga secara tidak segera melaksanakan gerakan literasi. Sebab bersama dengan anak-anak menyaksikan proses membaca, maka tentu bakal memunculkan gairah mereka kecuali membaca itu tidak bakal membosankan. Tapi malah mengasyikkan,” cerita Eklin bersemangat.
Dalam mendongeng, Eklin bukan hanyalah menyasar kalangan anak-anak. Karena kadang kala sementara mendongeng, ada juga orangtua yang hadir. Dan bahkan, para orangtua ini ikut juga tertawa bersama dengan anak-anaknya.
Sebelum jadi pendongeng, Eklin disibukkan bersama dengan kesibukan melayani kesibukan di gereja. Apalagi dia adalah seorang calon pendeta. Misal melayani ibadah dan mendidik anak-anak, jadi guru sekolah Minggu, dan jadi pengajar Katekisasi. Katekisasi adalah sebuah pendidikan resmi di gereja tingkat dewasa.
”Saya tidak menjadi kesusahan membagi sementara pada mendongeng bersama dengan kesibukan di gereja. Karena kesibukan ini tidak begitu padat dan saya benar-benar fleksibel untuk itu. Bahkan, teman-teman pelayan benar-benar mendukung untuk saya melaksanakan kesibukan layaknya itu,” kata Eklin.

Tetap Mendongeng di Masa Pandemi

Totalitasnya didalam mendongeng nyata-nyata ditunjukkan Eklin. Di jaman pandemi Covid-19 layaknya sekarang, dia senantiasa menggerakkan kesibukan mendongengnya. Namun tentunya didalam situasi berbeda. Eklin tidak melakukannya secara berhadapan segera di depan anak-anak. Tapi ia mengemukakan materi dongengnya lewat sarana virtual, dan siaran-siaran segera lewat sarana sosial yang dipunyainya. Seperti Instagram maupun Facebook.
”Seperti kecuali hari lebaran Idul Fitri, saya bikin dongeng Damai di Idul Fitri. Begitu pula setiap hari Jumat sepanjang bulan Ramadan, saya membawa dampak dongeng Damai di Hari Jumat. Bahkan sementara jelang Natal nanti atau pada akhir pekan, saya membawa dampak dongeng siaran segera untuk anak-anak maupun teman-teman muda yang menyaksikan pada sementara itu,” ujarnya.
Setelah ditahbiskan sebagai pendeta pada 19 Januari 2020 lalu, kesibukan Eklin bertambah. Selain kesibukan yang sudah dilakoninya sepanjang ini, Eklin juga kini menjadi melayani lembaga-lembaga atau gereja-gereja tertentu untuk melaksanakan pelayanan kepada anak-anak, entah itu pelayanan ibadah maupun mendongeng untuk kesibukan lainnya. Misal untuk Hari Anak Indonesia lewat sarana virtual, layaknya zoom.
Eklin juga menghendaki kepada kaum muda di seluruh Indonesia untuk miliki kepekaan bersama dengan situasi di sekitarnya. Jika menyaksikan situasi di lebih kurang yang penuh bersama dengan tantangan dan masalah, maka kudu melacak jalur keluar. Atau kudu melaksanakan suatu hal untuk mengatasi masalah di lebih kurang bersama dengan kelebihan-kelebihan dan kekurangan-kekurangan yang dimiliki.
”Ketika kami menyaksikan situasi di lebih kurang kami yang penuh bersama dengan tantangan dan masalah, maka kami kudu melacak jalur nampak atau kudu melaksanakan suatu hal untuk mengatasi masalah di lebih kurang kita. Sehingga atas setiap yang kami Lakukan bakal jadi berkat bagi banyak orang. Terutama yang ada di lebih kurang kita. Lalu lakukanlah kebaikan-kebaikan yang kami miliki itu. Lakukan secara tetap menerus dan berkelanjutan. Bukan cuma sekali atau dua kali. Tapi dijalankan secara tetap menerus. Sebab sekalipun kebaikan yang dijalankan lewat berlebihan kita, lewat kekurangan kita, sanggup saja dipandang sebelah mata atau tidak dipandang sama sekali. Tapi kecuali kami melaksanakan secara tetap menerus dan berulang-ulang, yakinlah bahwa kebaikan-kebaikan itu bakal senantiasa membawa efek kecil maupun efek besar. Selama membawa efek baik kepada seluruh orang di lebih kurang kami apalagi di Indonesia maupun dunia,” pesan Eklin menutup perbincangan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *