Cornel Simanjuntak Menodong Ibu Sud – Pada akhir 1944, di dasar titik berat Jepang kehidupan orang Indonesia terus menjadi terperosok. Banyak orang kelaparan sampai tewas sebab beras sulit diterima. Kesusahan itu pula dirasakan komponis Cornel Simanjuntak serta kawan- kawannya di Jakarta.

Walaupun Cornel bertugas di Keimin Bunka Shidosho, tetapi duit yang diperolehnya nyaris tidak lagi berharga. Pedagang beras lebih memilah mengubah berasnya dengan benda bernilai dari duit. Sebab itu, Cornel memilah memakai gajinya buat membeli novel sisa serta busana sisa.

Sebab tidak terdapat beras, Cornel serta temannya, Binsar Sitompul serta Gayus Siagian, makan ketela pohon dengan sayur kangkung yang cuma dibumbui garam.

“ Tetapi warnanya Cornel mengetahui pula, kalau beliau butuh mencari jalur pergi dari kegentingan itu. Pada sesuatu petang sepulang di rumah beliau melaporkan, kalau di Gang Thimas, Tanah Kakak, terdapat benda barangan berbentuk arang,” catat Binsar Sitompul dalam Cornel Simanjuntak, Komponis, Biduan, Pejuang.

Arang itu wajib dijual serta memperoleh profit sebab modal pokoknya wajib disetorkan pada owner arang. Mereka yang umumnya bergulat di bumi keelokan itu juga wajib berkenan jadi pedagang arang supaya dapur kembali mengepul.

Supaya arang itu kilat laris, mereka menodong banyak orang yang diketahui. Cornel meyebut nama- nama yang mungkin ingin membeli arang, semacam Lasmidjah Hardi yang ikut berjuang kala revolusi, serta Bunda Sud, inventor lagu ternama.

“ Besok harinya kita pergi ke Gang Thomas. Lekas pula keranjang- keranjang bermuatan arang kita tumpukan di atas suatu wagon sorong. Cornel bertugas keras tanpa menghiraukan tangan serta bajunya yang jadi gelap. Kita juga pergi. Aku menggenggam bagian depan wagon buat melindungi keseimbangannya, serta Cornel mendesak dari balik,” tutur Binsar.

Sehabis berair basah oleh keringat, mereka hingga di Jalur Maluku, Menteng, tempat Bunda Sud bermukim. Tanpa menanya dahulu, mereka kemudian merendahkan 5 bakul arang serta mengangkutnya ke dapur rumah Bunda Sud.

Bunda Sud cuma dapat geleng- geleng kepala memandang lagak kanak- kanak belia itu. Beliau pula tidak berunding harga arang kala Cornel mengatakan nominal. Tidak hingga di sana, pada peluang itu Cornel menodong lagi.“ Bunda Sud, kita lapar nih,” tutur Cornel.

Bunda Sud lekas berangkat ke dapur. Kembali dari dapur, Bunda Sud bawa 2 piring nasi goreng yang sedang hangat serta baunya wangi.“ Aduhai, telah lama kita tidak menikmati persembahan seenak itu,” tutur Binsar.

Memandang kanak- kanak belia kumal serta kelaparan itu Bunda Sud cuma bengong.“ Hai Cornel, mana lagumu yang terkini? Janganlah asik mengurus arang saja dong,” tutur Bunda Sud.

“ Menunggu saja Bu, jika telah laris seluruh ini, hendak aku bikin lagu Romantika Pedagang Arang,” jawab Cornel.

Mengikuti balasan Cornel, Bunda Sud cuma tersimpul sembari geleng- geleng kepala. Ikatan Cornel dengan Bunda Sud memanglah telah akrab semenjak lama. Cornel banyak berlatih nada dari Bunda Sud semenjak alih ke Jakarta.

Umumnya, kala Cornel berakhir membuat lagu terkini, Bunda Sud yang jadi pemirsa pertamanya. Bunda Sud pula yang menyarankan Cornel menjajaki bimbingan menyanyi pada Ny. Kempers, seseorang guru nada berkebangsaan Belanda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *