Cerita Rakyat Terbaru Cindelaras 2020

Istilah cerita rakyat merupakan cerita lokal daerah yang berasal dari sudut pandang sastra, alurnya mirip bersama legenda yakni mengutarakan sebuah penyelesaian masalah secara baik dan adil. Maksud berasal dari pola ini adalah untuk menitipkan sebuah pesan moral ke tengah-tengah masyarakat tradisional dapat pentingnya sebuah nilai yang patut dipegang didalam kehidupan kita.

Berikut ini dapat dibagikan beragam cerita rakyat yang paling baik dan paling tenar berasal dari beragam daerah di indonesia. Silahkan disimak!

Cerita Rakyat Cindelaras

Kerajaan Jenggala dipimpin oleh seorang raja yang bernama Raden Putra. Ia didampingi oleh seorang permaisuri yang baik hati dan seorang selir yang punyai cii-ciri iri dan dengki. Raja Putra dan ke-2 istrinya tadi hidup di didalam istana yang terlalu megah dan damai. Hingga suatu hari selir raja merencanakan suatu hal yang jelek pada permaisuri raja. Hal tersebut dilaksanakan gara-gara selir Raden Putra idamkan menjadi permaisuri.

Selir baginda lantas berkomplot bersama seorang tabib istana untuk lakukan konsep tersebut. Selir baginda berpura-pura sakit parah. Tabib istana lantas segera dipanggil sang Raja. Setelah memeriksa selir tersebut, sang tabib menyebutkan bahwa tersedia seseorang yang sudah menyimpan racun didalam minuman tuan putri. “Orang itu tak lain adalah permaisuri Baginda sendiri,” kata sang tabib. Baginda menjadi murka mendengar penjelasan tabib istana. Ia segera memerintahkan patih untuk menyingkirkan permaisuri ke hutan dan membunuhnya.

Sang Patih segera membawa permaisuri yang sedang memiliki kandungan itu ke sedang hutan belantara. Tapi, patih yang bijak itu tidak berkenan membunuh sang permaisuri. Rupanya sang patih sudah paham kemauan jahat selir baginda. “Tuan putri tidak harus khawatir, hamba dapat melaporkan kepada Baginda bahwa tuan putri sudah hamba bunuh,” kata patih. Untuk mengelabui raja, sang patih melumuri pedangnya bersama darah kelinci yang ditangkapnya. Raja menjadi bahagia dikala sang patih melapor kecuali ia sudah membunuh permaisuri.
Cerita Rakyat Cindelaras
Cerita Rakyat Cindelaras

Setelah beberapa bulan berada di hutan, sang permaisuri melahirkan seorang anak laki-laki. Anak itu diberinya nama Cindelaras. Cindelaras tumbuh menjadi seorang anak yang cerdas dan tampan. Sejak kecil ia sudah berkenalan bersama binatang penghuni hutan. Suatu hari, dikala sedang asyik bermain, seekor rajawali menjatuhkan sebutir telur ayam. Cindelaras lantas mengambil alih telur itu dan bermaksud menetaskannya. Setelah 3 minggu, telur itu menetas menjadi seekor anak ayam yang terlalu lucu. Cindelaras memelihara anak ayamnya bersama rajin. Kian hari anak ayam itu tumbuh menjadi seekor ayam jantan yang gagah dan kuat. Tetapi tersedia satu yang aneh berasal dari ayam tersebut. Bunyi kokok ayam itu berlainan bersama ayam lainnya. “Kukuruyuk… Tuanku Cindelaras, rumahnya di sedang rimba, atapnya daun kelapa, ayahnya Raden Putra…”, kokok ayam itu

Cindelaras terlalu kagum mendengar kokok ayamnya itu dan segera menunjukkan pada ibunya. Lalu, ibu Cindelaras menceritakan asal usul mengapa mereka hingga berada di hutan. Mendengar cerita ibundanya, Cindelaras bertekad untuk ke istana dan membeberkan kejahatan selir baginda. Setelah di ijinkan ibundanya, Cindelaras pergi ke istana ditemani oleh ayam jantannya. Ketika didalam perjalanan tersedia beberapa orang yang sedang menyabung ayam. Cindelaras lantas dipanggil oleh para penyabung ayam. “Ayo, kecuali berani, adulah ayam jantanmu bersama ayamku,” tantangnya. “Baiklah,” jawab Cindelaras. Ketika diadu, ternyata ayam jantan Cindelaras bertarung bersama perkasa dan didalam selagi singkat, ia bisa mengalahkan lawannya. Setelah beberapa kali diadu, ayam Cindelaras tidak terkalahkan.

Berita tentang kehebatan ayam Cindelaras tersebar bersama cepat hingga hingga ke Istana. Raden Putra pada akhirnya pun mendengar berita itu. Kemudian, Raden Putra menyuruh hulubalangnya untuk menimbulkan Cindelaras ke istana. “Hamba menghadap paduka,” kata Cindelaras bersama santun. “Anak ini tampan dan cerdas, sepertinya ia bukan keturunan rakyat jelata,” pikir baginda. Ayam Cindelaras diadu bersama ayam Raden Putra bersama satu syarat, kecuali ayam Cindelaras kalah maka ia bersedia kepalanya dipancung, namun kecuali ayamnya menang maka 1/2 kekayaan Raden Putra menjadi punya Cindelaras.

Dua ekor ayam itu bertarung bersama gagah berani. Tetapi didalam selagi singkat, ayam Cindelaras sukses menaklukkan ayam sang Raja. Para penonton bersorak sorai mengelu-elukan Cindelaras dan ayamnya. “Baiklah aku mengaku kalah. Aku dapat menepati janjiku. Tapi, siapakah kau sebenarnya, anak muda?” Tanya Baginda Raden Putra. Cindelaras segera membungkuk seperti membisikkan suatu hal pada ayamnya. Tidak berapa lama ayamnya segera berbunyi. “Kukuruyuk… Tuanku Cindelaras, rumahnya di sedang rimba, atapnya daun kelapa, ayahnya Raden Putra…,” ayam jantan itu berkokok berulang-ulang. Raden Putra terperanjat mendengar kokok ayam Cindelaras. “Benarkah itu?” Tanya baginda keheranan. “Benar Baginda, nama hamba Cindelaras, ibu hamba adalah permaisuri Baginda.”

Bersamaan bersama itu, sang patih segera menghadap dan menceritakan seluruh momen yang sebetulnya sudah terjadi pada permaisuri. “Aku sudah lakukan kesalahan,” kata Baginda Raden Putra. “Aku dapat memberikan hukuman yang setimpal pada selirku,” lanjut Baginda bersama murka. Kemudian, selir Raden Putra pun di buang ke hutan. Raden Putra segera memeluk anaknya dan meminta maaf atas kesalahannya Setelah itu, Raden Putra dan hulubalang segera menjemput permaisuri ke hutan.. Akhirnya Raden Putra, permaisuri dan Cindelaras bisa berkumpul kembali. Setelah Raden Putra meninggal dunia, Cindelaras mengambil alih kedudukan ayahnya. Ia memerintah negerinya bersama adil dan bijaksana.


Cerita Rakyat Lutung Kasarung

Pada era dahulu selagi di tatar pasundan tersedia sebuah kerajaan yang pimpin oleh seorang raja yang bijaksana, beliau dikenal sebagai Prabu Tapak Agung.

Prabu Tapa Agung membawa dua orang putri cantik yakni Purbararang dan adiknya Purbasari.

Pada selagi mendekati akhir hayatnya Prabu Tapak Agung menunjuk Purbasari, putri bungsunya sebagai pengganti. “Aku sudah terlalu tua, saatnya aku turun tahta,” kata Prabu Tapa.

Purbasari punyai kakak yang bernama Purbararang. Ia tidak setuju adiknya diangkat mengambil alih Ayah mereka. “Aku putri Sulung, harusnya ayahanda memilih aku sebagai penggantinya,” gerutu Purbararang pada tunangannya yang bernama Indrajaya. Kegeramannya yang sudah memuncak membuatnya membawa kemauan mencelakakan adiknya. Ia menemui seorang nenek sihir untuk memanterai Purbasari. Nenek sihir itu memanterai Purbasari sehingga selagi itu termasuk tiba-tiba kulit Purbasari menjadi bertotol-totol hitam. Purbararang menjadi punyai alasan untuk mengusir adiknya tersebut. “Orang yang dikutuk seperti dia tidak pantas menjadi seorang Ratu !” ujar Purbararang.

Kemudian ia menyuruh seorang Patih untuk mengasingkan Purbasari ke hutan. Sesampai di hutan patih tersebut masih berbaik hati bersama membuatkan sebuah pondok untuk Purbasari. Ia pun menasehati Purbasari, “Tabahlah Tuan Putri. Cobaan ini pasti dapat berakhir, Yang Maha Kuasa pasti dapat selamanya bersama Putri”. “Terima kasih paman”, ujar Purbasari.

Selama di hutan ia membawa banyak teman yakni hewan-hewan yang selamanya baik kepadanya. Diantara hewan tersebut tersedia seekor kera berbulu hitam yang misterius. Tetapi kera tersebut yang paling perhatian kepada Purbasari. Lutung kasarung selamanya menyenangkan Purbasari bersama mengambilkan bunga –bunga yang indah dan juga buah-buahan bersama teman-temannya.
Cerita Rakyat Lutung Kasarung
Cerita Rakyat Lutung Kasarung

Pada selagi malam bulan purnama, Lutung Kasarung bersikap aneh. Ia terjadi ke daerah yang sepi lantas bersemedi. Ia sedang memohon suatu hal kepada Dewata. Ini menunjukkan bahwa Lutung Kasarung bukan makhluk biasa. Tidak lama kemudian, tanah di dekat Lutung merekah dan terciptalah sebuah telaga kecil, airnya jernih sekali. Airnya memiliki kandungan obat yang terlalu harum.

Keesokan harinya Lutung Kasarung menemui Purbasari dan memintanya untuk mandi di telaga tersebut. “Apa manfaatnya bagiku ?”, pikir Purbasari. Tapi ia berkenan menurutinya. Tak lama sehabis ia menceburkan dirinya. Sesuatu terjadi pada kulitnya. Kulitnya menjadi bersih seperti semula dan ia menjadi cantik kembali. Purbasari terlalu terperanjat dan gembira dikala ia bercermin ditelaga tersebut.

Di istana, Purbararang memutuskan untuk lihat adiknya di hutan. Ia pergi bersama tunangannya dan para pengawal. Ketika hingga di hutan, ia pada akhirnya bertemu bersama adiknya dan saling berpandangan. Purbararang tak yakin lihat adiknya kembali seperti semula. Purbararang tidak berkenan kehilangan muka, ia mengajak Purbasari adu panjang rambut. “Siapa yang paling panjang rambutnya dialah yang menang !”, kata Purbararang. Awalnya Purbasari tidak mau, namun gara-gara tetap didesak ia meladeni kakaknya. Ternyata rambut Purbasari lebih panjang.

“Baiklah aku kalah, namun sekarang ayo kami adu tampan tunangan kita, Ini tunanganku”, kata Purbararang sambil mendekat kepada Indrajaya. Purbasari menjadi gelisah dan kebingungan. Akhirnya ia melirik dan juga menarik tangan Lutung Kasarung. Lutung Kasarung melonjak-lonjak seakan-akan menenangkan Purbasari. Purbararang tertawa terbahak-bahak, “Jadi monyet itu tunanganmu ?”.

Pada selagi itu termasuk Lutung Kasarung segera bersemedi. Tiba-tiba terjadi suatu keajaiban. Lutung Kasarung beralih menjadi seorang Pemuda gagah berwajah terlalu tampan, lebih berasal dari Indrajaya. Semua terperanjat lihat perihal itu seraya bersorak gembira. Purbararang pada akhirnya mengakui kekalahannya dan kesalahannya selama ini. Ia memohon maaf kepada adiknya dan memohon untuk tidak dihukum. Purbasari yang baik hati memaafkan mereka. Setelah perihal itu pada akhirnya mereka seluruh kembali ke Istana.

Purbasari menjadi seorang ratu, didampingi oleh seorang pemuda idamannya. Pemuda yang ternyata selama ini selamanya mendampinginya dihutan didalam bentuk seekor lutung.


Cerita Rakyat Bawang Merah Bawang Putih

Jaman dahulu selagi di sebuah desa tinggal sebuah keluarga yang terdiri berasal dari Ayah, Ibu dan seorang gadis remaja yang cantik bernama bawang putih. Mereka adalah keluarga yang bahagia. Meski ayah bawang putih hanya pedagang biasa, namun mereka hidup rukun dan damai. Namun suatu hari ibu bawang putih sakit keras dan pada akhirnya meninggal dunia. Bawang putih terlalu berduka demikianlah pula ayahnya.

Di desa itu tinggal pula seorang janda yang punyai anak bernama Bawang Merah. Semenjak ibu Bawang putih meninggal, ibu Bawang merah sering berkunjung ke rumah Bawang putih. Dia sering membawakan makanan, membantu bawang putih membereskan rumah atau hanya menemani Bawang Putih dan ayahnya mengobrol. Akhirnya ayah Bawang putih berpikir bahwa mungkin lebih baik kecuali ia menikah saja bersama ibu Bawang merah, sehingga Bawang putih tidak kesepian lagi.

Dengan pertimbangan berasal dari bawang putih, maka ayah Bawang putih menikah bersama ibu bawang merah. Awalnya ibu bawang merah dan bawang merah terlalu baik kepada bawang putih. Namun lama kelamaan cii-ciri asli mereka menjadi kelihatan. Mereka sering memarahi bawang putih dan memberinya pekerjaan berat kecuali ayah Bawang Putih sedang pergi berdagang. Bawang putih harus mengerjakan seluruh pekerjaan rumah, selagi Bawang merah dan ibunya hanya duduk-duduk saja. Tentu saja ayah Bawang putih tidak mengetahuinya, gara-gara Bawang putih tidak pernah menceritakannya.

Suatu hari ayah Bawang putih jatuh sakit dan lantas meninggal dunia. Sejak selagi itu Bawang merah dan ibunya makin berkuasa dan semena-mena pada Bawang putih. Bawang putih nyaris tidak pernah beristirahat. Dia sudah harus bangun sebelum akan subuh, untuk mempersiapkan air mandi dan sarapan bagi Bawang merah dan ibunya. Kemudian dia harus memberi makan ternak, menyirami kebun dan mencuci baju ke sungai. Lalu dia masih harus menyetrika, membereskan rumah, dan masih banyak pekerjaan lainnya. Namun Bawang putih selamanya lakukan pekerjaannya bersama gembira, gara-gara dia meminta suatu selagi ibu tirinya dapat mencintainya seperti anak kandungnya sendiri.
Cerita Motivasi
Cerita Rakyat Bawang Putih Bawang Merah
Cerita Rakyat Bawang Putih Bawang Merah

Pagi ini seperti biasa Bawang putih membawa bakul memuat baju yang dapat dicucinya di sungai. Dengan bernyanyi kecil dia menyusuri jalur setapak di pinggir hutan kecil yang biasa dilaluinya. Hari itu cuaca terlalu cerah. Bawang putih segera mencuci seluruh baju kotor yang dibawanya. Saking terlalu asyiknya, Bawang putih tidak paham bahwasalah satu baju sudah hanyut terbawa arus. Celakanya baju yang hanyut adalah baju kesayangan ibu tirinya. Ketika paham perihal itu, baju ibu tirinya sudah hanyut terlalu jauh. Bawang putih coba menyusuri sungai untuk mencarinya, namun tidak sukses menemukannya. Dengan putus asa dia kembali ke rumah dan menceritakannya kepada ibunya.

“Dasar ceroboh!” bentak ibu tirinya. “Aku tidak berkenan tahu, pokoknya kamu harus melacak baju itu! Dan jangan berani pulang ke rumah kecuali kau belum menemukannya. Mengerti?”

Bawang putih terpaksa menuruti permintaan ibun tirinya. Dia segera menyusuri sungai tempatnya mencuci tadi. Mataharisudah menjadi meninggi, namun Bawang putih belum termasuk menemukan baju ibunya. Dia memasang matanya, bersama detil diperiksanya setiap juluran akar yang menjorok ke sungai, siapa paham baju ibunya tersangkut disana. Setelah jauh melangkah dan matahari sudah cenderung ke barat, Bawang putih lihat seorang penggembala yang sedang memandikan kerbaunya. Maka Bawang putih bertanya: “Wahai paman yang baik, apakah paman lihat baju merah yang hanyut lewat sini? Karena aku harus menemukan dan membawanya pulang.” “Ya tadi aku lihat nak. Kalau kamu mengejarnya cepat-cepat, mungkin kau bisa mengejarnya,” kata paman itu.

“Baiklah paman, menerima kasih!” kata Bawang putih dan segera berlari kembali menyusuri. Hari sudah menjadi gelap, Bawang putih sudah menjadi putus asa. Sebentar kembali malam dapat tiba, dan Bawang putih. Dari kejauhan nampak sinar lampu yang berasal berasal dari sebuah gubuk di pinggir sungai. Bawang putih segera menghampiri rumah itu dan mengetuknya.
“Permisi…!” kata Bawang putih. Seorang perempuan tua terhubung pintu.
“Siapa kamu nak?” bertanya nenek itu.

“Saya Bawang putih nek. Tadi aku sedang melacak baju ibu aku yang hanyut. Dan sekarang kemalaman. Bolehkah aku tinggal di sini malam ini?” bertanya Bawang putih.
“Boleh nak. Apakah baju yang kau cari berwarna merah?” bertanya nenek.
“Ya nek. Apa…nenek menemukannya?” bertanya Bawang putih.

“Ya. Tadi baju itu tersangkut di depan rumahku. Sayang, padahal aku menyukai baju itu,” kata nenek. “Baiklah aku dapat mengembalikannya, namun kau harus menemaniku pernah di sini selama seminggu. Sudah lama aku tidak mengobrol bersama siapapun, bagaimana?” pinta nenek.Bawang putih berpikir sejenak. Nenek itu nampak kesepian. Bawang putih pun menjadi iba. “Baiklah nek, aku dapat menemani nenek selama seminggu, asal nenek tidak suntuk saja denganku,” kata Bawang putih bersama tersenyum.

Selama seminggu Bawang putih tinggal bersama nenek tersebut. Setiap hari Bawang putih membantu mengerjakan pekerjaan rumah nenek. Tentu saja nenek itu menjadi senang. Hingga pada akhirnya genap sudah seminggu, nenek pun memanggil bawang putih.
“Nak, sudah seminggu kau tinggal di sini. Dan aku bahagia gara-gara kau anak yang rajin dan berbakti. Untuk itu cocok janjiku kau boleh membawa baju ibumu pulang. Dan satu lagi, kau boleh memilih satu berasal dari dua labu kuning ini sebagai hadiah!” kata nenek.
Mulanya Bawang putih menolak diberi hadiah namun nenek selamanya memaksanya. Akhirnya Bawang putih memilih labu yang paling kecil. “Saya cemas tidak kuat membawa yang besar,” katanya. Nenek pun tersenyum dan mengantarkan Bawang putih hingga depan rumah.

Sesampainya di rumah, Bawang putih menyerahkan baju merah punya ibu tirinya selagi dia pergi ke dapur untuk membelah labu kuningnya. Alangkah terkejutnya bawang putih dikala labu itu terbelah, didalamnya ternyata memuat emas permata yang terlalu banyak. Dia berteriak saking gembiranya dan memberitahukan perihal ajaib ini ke ibu tirinya dan bawang merah yang bersama serakah langsun merebut emas dan permata tersebut. Mereka memaksa bawang putih untuk menceritakan bagaimana dia bisa mendapatkan hadiah tersebut. Bawang putih pun menceritakan bersama sejujurnya.

Mendengar cerita bawang putih, bawang merah dan ibunya merencanakan untuk lakukan perihal yang mirip namun kali ini bawang merah yang dapat melakukannya. Singkat kata pada akhirnya bawang merah hingga di rumah nenek tua di pinggir sungai tersebut. Seperti bawang putih, bawang merah pun diminta untuk menemaninya selama seminggu. Tidak seperti bawang putih yang rajin, selama seminggu itu bawang merah hanya bermalas-malasan. Kalaupun tersedia yang dilaksanakan maka hasilnya tidak pernah bagus gara-gara selamanya dilaksanakan bersama asal-asalan. Akhirnya sehabis seminggu nenek itu membolehkan bawang merah untuk pergi. “Bukankah harusnya nenek memberiku labu sebagai hadiah gara-gara menemanimu selama seminggu?” bertanya bawang merah. Nenek itu terpaksa menyuruh bawang merah memilih tidak benar satu berasal dari dua labu yang ditawarkan. Dengan cepat bawang merah mengambil alih labu yang besar dan tanpa mengucapkan menerima kasih dia melenggang pergi.

Sesampainya di rumah bawang merah segera menemui ibunya dan bersama gembira menunjukkan labu yang dibawanya. Karena cemas bawang putih dapat meminta bagian, mereka menyuruh bawang putih untuk pergi ke sungai. Lalu bersama tidak sabar mereka membelah labu tersebut. Tapi ternyata bukan emas permata yang keluar berasal dari labu tersebut, melainkan binatang-binatang berbisa seperti ular, kalajengking, dan lain-lain. Binatang-binatang itu segera menyerang bawang merah dan ibunya hingga tewas. Itulah balasan bagi orang yang serakah.


Cerita Rakyat Keong Mas

Alkisah pada era dahulu selagi hiduplah seorang pemuda bernama Galoran. Ia termasuk orang yang disegani gara-gara kekayaan dan pangkat orangtuanya. Namun Galoran sangatlah malas dan boros. Sehari-hari kerjanya hanya menghambur-hamburkan harta orangtuanya, bahkan pada selagi orang tuanya meninggal dunia ia makin sering berfoya-foya. Karena itu lama kelamaan habislah harta orangtuanya. Walaupun demikianlah tidak membuat Galoran paham juga, bahkan selagi dihabiskannya bersama hanya bermalas-malasan dan berjalan-jalan. Iba warga kampung melihatnya. Namun setiap kali tersedia yang menawarkan pekerjaan kepadanya, Galoran hanya makan dan tidur saja tanpa berkenan lakukan pekerjaan tersebut. Namun pada akhirnya galoran dipungut oleh seorang janda berkecukupan untuk dijadikan teman hidupnya. Hal ini membuat Galoran terlalu bahagia ; “Pucuk dicinta ulam pun tiba”, demikianlah pikir Galoran.

Janda tersebut membawa seorang anak perempuan yang terlalu rajin dan pandai menenun, namanya Jambean. Begitu bagusnya tenunan Jambean hingga dikenal diseluruh dusun tersebut. Namun Galoran terlalu membenci anak tirinya itu, gara-gara seringkali Jambean menegurnya gara-gara selamanya bermalas-malasan.
Rasa benci Galoran sedemikian dalamnya, hingga tega merencanakan pembunuhan anak tirinya sendiri. Dengan tajam dia berkata pada istrinya : ” Hai, Nyai, sungguh beraninya Jambean kepadaku. Beraninya ia menasehati orangtua! Patutkah itu ?” “Sabar, Kak. Jambean tidak bermaksud jelek pada kakak” bujuk istrinya itu. “Tahu aku mengapa ia berbuat kasar padaku, sehingga aku pergi meninggalkan rumah ini !” seru nya kembali sambil melototkan matanya. “Jangan begitu kak, Jambean hanya sekedar mengingatkan sehingga kakak berkenan bekerja” demikianlah usaha sang istri meredakan amarahnya. “Ah .. omong kosong. Pendeknya sekarang engkau harus memilih .. aku atau anakmu !” demikianlah Galoran mengancam.

Sedih hati ibu Jambean. Sang ibu menangis siang-malam gara-gara bingung hatinya. Ratapnya : ” Sampai hati bapakmu menyiksaku jambean. Jambean anakku, mari kemari nak” serunya lirih. “Sebentar mak, tinggal sedikit tenunanku” jawab Jambean. “Nah selesai sudah” serunya lagi. Langsung Jambean mendapatkan ibunya yang sedang bersedih. “Mengapa emak bersedih saja” tanyanya bersama iba. Maka diceritakanlah konsep ayah Jambean yang merencanakan dapat membunuh Jambean. Dengan sedih Jambean pun berkata : ” Sudahlah mak jangan bersedih, biarlah aku mencukupi permintaan bapak. Yang benar pada akhirnya dapat bahagia mak”. “Namun hanya satu pesanku mak, kalau aku sudah dibunuh ayah janganlah mayatku ditanam namun buang saja ke bendungan” jawabnya lagi. Dengan terlalu sedih sang ibu pun mengangguk-angguk. Akhirnya Jambean pun dibunuh oleh ayah tirinya, dan cocok permintaan Jambean sang ibu menyingkirkan mayatnya di bendungan. Dengan ajaib batang tubuh dan kepala Jambean beralih menjadi udang dan siput, atau disebut termasuk bersama keong didalam bhs Jawanya.
Cerita Rakyat Keong Mas
Cerita Rakyat Keong Mas

Tersebutlah di Desa Dadapan dua orang janda bersaudara bernama Mbok Rondo Sambega dan Mbok Rondo Sembadil. Kedua janda itu hidup bersama terlalu melarat dan bermata pencaharian mengumpulkan kayu dan daun talas. Suatu hari ke-2 bersaudara tersebut pergi ke dekat bendungan untuk melacak daun talas. Sangat terpana mereka lihat udang dan siput yang berwarna kuning keemasan. “Alangkah indahnya udang dan siput ini” seru Mbok Rondo Sambega “Lihatlah betapa indahnya warna kulitnya, kuning keemasan. Ingin aku bisa memeliharanya” serunya lagi. “Yah terlalu indah, kami bawa saja udang dan keong ini pulang” sahut Mbok Rondo Sembadil. Maka dipungutnya udang dan siput tersebut untuk dibawa pulang. Kemudian udang dan siput tersebut mereka taruh di didalam tempayan tanah lihat di dapur. Sejak mereka memelihara udang dan siput emas tersebut kehidupan merekapun berubah. Terutama setiap sehabis pulang bekerja, didapur sudah tersedia lauk pauk dan rumah menjadi terlalu rapih dan bersih. Mbok Rondo Sambega dan Mbok Rondo Sembadil termasuk menjadi keheranan bersama adanya perihal tersebut. Sampai pada suatu hari mereka merencanakan untuk melacak paham siapakah gerangan yang lakukan perihal tersebut.

Suatu hari mereka seperti umumnya pergi untuk melacak kayu dan daun talas, mereka berpura-pura pergi dan lantas sehabis terjadi agak jauh mereka segera kembali menyelinap ke dapur. Dari dapur terdengar nada gemerisik, ke-2 bersaudara itu segera mengintip dan lihat seorang gadis cantik keluar berasal dari tempayan tanah lihat yang memuat udang dan Keong Emas peliharaan mereka. “tentu dia adalah jelmaan keong dan udang emas itu” bisik Mbok Rondo Sambega kepada Mbok Rondo Sembadil. “Ayo kami tangkap sebelum akan menjelma kembali menjadi udang dan Keong Emas” bisik Mbok Rondo Sembadil. Dengan perlahan-lahan mereka masuk ke dapur, lantas ditangkapnya gadis yang sedang asik memasak itu. “Ayo ceritakan lekas nak, siapa gerangan kamu itu” desak Mbok Rondo Sambega “Bidadarikah kamu ?” sahutnya lagi. “bukan Mak, aku manusia biasa yang gara-gara dibunuh dan dibuang oleh orang tua saya, maka aku menjelma menjadi udang dan keong” sahut Jambean lirih. “terharu mendengar cerita Jambean ke-2 bersaudara itu pada akhirnya mengambil alih Keong Emas sebagai anak angkat mereka. Sejak itu Keong Emas membantu ke-2 bersaudara tersebut bersama menenun. Tenunannya terlalu indah dan bagus sehingga terkenallah tenunan terebut keseluruh negeri, dan ke-2 janda bersaudara tersebut menjadi bertambah kaya berasal dari hari kehari.

Sampailah tenunan tersebut di ibu kota kerajaan. Sang raja muda terlalu tertarik bersama tenunan buatan Jambean atau Keong Emas tersebut. Akhirnya raja memutuskan untuk meninjau sendiri pembuatan tenunan tersebut dan pergi meninggalkan kerajaan bersama menyamar sebagai saudagar kain. Akhirnya tahulah raja tentang Keong Emas tersebut, dan terlalu tertarik oleh kecantikan dan kerajinan Keong Emas. Raja menitahkan ke-2 bersaudara tersebut untuk membawa Jambean atau Keong Emas untuk masuk ke kerajaan dan meminang si Keong Emas untuk dijadikan permaisurinya. Betapa bahagia hati ke-2 janda bersaudara tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *