Cerita Rakyat Legenda Jaka Seger dan Rara Anteng

Jaka Seger dan Rara Anteng adalah sebuah legenda yang beredar di kalangan masyarakat Jawa Timur, Indonesia. Legenda yang mengisahkan berkenaan percintaan pada Jaka Seger dan Rara Anteng ini menerangkan berkenaan asal-usul Gunung Brahma (Bromo) dan Gunung Batok, dan juga asal-usul nama suku Tengger, yakni sebuah suku yang tinggal di kira-kira Gunung Bromo. Bagi suku Tengger, Gunung Bromo merupakan gunung yang suci. Itulah sebabnya, tiap-tiap setahun sekali, yakni tiap-tiap bulan Purnama pada bulan ke-10 tahun Saka, mereka melakukan upacara yang dikenal bersama dengan Yadnya Kasada. Konon, keberadaan upacara berikut termasuk dipercayai berasal dari cerita Jaka Seger dan Rara Anteng ini. Berikut kisahnya.

Cerita Rakyat Legenda Jaka Seger dan Rara Anteng

Alkisah, di sebuah rumah simpel di lereng Gunung Bromo, seorang laki-laki setengah baya sedang duduk menunggu istrinya yang dapat melahirkan anak ke-2 mereka. Laki-laki itu adalah Raja Majapahit yang meninggalkan negerinya dan sebabkan sebuah dusun di lereng Gunung Bromo bersama dengan sebagian orang pengikutnya gara-gara kalah berperang melawan putranya sendiri. Wajah laki-laki itu nampak begitu pucat dan hatinya diselimuti perasaan risau lihat istrinya terus merintih menghindar rasa sakit.

Saat sedang malam, buah hati yang mereka nanti-nantikan pun lahir ke dunia. Namun anehnya, bayi yang berjenis kelamin perempuan itu tidak menangis seperti halnya bayi-bayi pada umumnya.

“Dinda! Bayi kita seorang perempuan,” kata mantan Raja Majapahit itu.

Tapi Kanda, kenapa Dinda tidak mendengar suara tangis putri kita?” bertanya permaisurinya yang masih terbaring lemas.

“Jangan khawatir, Dinda! Putri kita lahir bersama dengan normal dan sehat. Lihatlah, wajah putri kita nampak bersinar! Dia bagaikan seorang titisan dewa,” ujar mantan Raja Majapahit itu sambil menimang-nimang bayinya yang mungil di depan istrinya.

Pasangan suami-istri itu nampak begitu bahagia mendapat anak. Mereka pun memberi nama bayi itu Rara Anteng, yang bermakna seorang perempuan yang diam atau tenang.

Pada waktu yang hampir bersamaan, di area lain yang tidak jauh dari rumah Anteng dilahirkan, termasuk lahir seorang bayi laki-laki dari pasangan suami-istri pendeta. Suara tangis bayi yang baru lahir itu terlalu keras supaya memecah kesunyian malam di lereng Gunung Bromo itu. Bayi itu nampak sehat dan montok. Oleh ke-2 orang tuanya, bayi itu diberi nama Jaka Seger, yang bermakna seorang laki-laki yang berbadan segar.

Waktu terus berlalu. Kedua bayi itu pun tumbuh jadi dewasa. Jaka Seger tumbuh jadi pemuda yang gagah dan tampan, tetapi Rara Anteng tumbuh jadi gadis yang cantik nan rupawan. Berita berkenaan kecantikan Rara Anteng pun tersebar sampai ke mana-mana dan jadi pujaan tiap-tiap pemuda. Sudah banyak pemuda yang datang meminangnya, namun tak satu pun yang diterimanya. Rupanya, putri mantan Raja Majapahit itu udah menjalin interaksi kasih bersama dengan Jaka Seger dan cintanya tidak dapat berpaling kepada orang lain.

Pada suatu hari, kabar berkenaan kencantikan Rara Anteng termasuk sampai ke telinga sesosok raksasa yang tinggal di hutan di kira-kira lereng Gunung Bromo. Raksasa yang menyerupai badak itu bernama Kyai Bima. Ia terlalu sakti dan kejam. Begitu mendengar kabar tersebut, Kyai Bima pun segera datang meminang Rara Anteng. Jika keinginannya tidak dituruti, maka ia dapat membinasakan dusun itu dan semua isinya. Hal itulah yang sebabkan Rara Anteng dan keluarganya kebingungan untuk menampik pinangannya. Sementara Jaka Seger pun tidak bisa berbuat apa-apa gara-gara tidak bisa menandingi kesaktian raksasa itu.

Setelah sejenak berpikir keras, pada akhirnya Rara Anteng menemukan sebuah langkah untuk menampik pinangan Kyai Bima secara halus. Dia dapat mengajukan satu syarat-syarat yang kira-kira tidak bisa dipenuhi oleh raksasa itu.

“Baiklah, Kyai Bima! Aku dapat menerima pinanganmu, namun kamu wajib memenuhi satu syarat,” ujar Rara Anteng.

“Apakah syarat itu! Cepat katakan!” seru Kyai Bima bersama dengan suara membentak.

Mendengar seruan itu, Rara Anteng jadi gugup. Namun, ia mengupayakan tetap bersikap tenang untuk menghalau rasa gugupnya.

“Buatkan saya danau di atas Gunung Bromo itu! Jika kamu bisa menyelesaikannya dalam waktu semalam, saya dapat menerima pinanganmu,” ujar Rara Anteng.

Dengan penuh yakin diri dan kesaktian yang dimilikinya, Kyai Bima menyanggupi syarat-syarat itu dan berpikiran bahwa syarat-syarat itu sangatlah enteng baginya.

“Hanya itukah permintaanmu, wahai Rara Anteng?” bertanya raksasa itu bersama dengan suara angkuh.

“Iya, hanya itu. Tapi ingat, danau itu wajib selesai sebelum saat ayam berkokok!” seru Rara Anteng mengingatkan raksasa itu.

Mendengar jawaban Rara Anteng, raksasa itu tertawa terbahak-bahak, lalu bergegas pergi ke puncak Gunung Bromo. Setibanya di sana, ia pun mulai mengeruk tanah bersama dengan mengfungsikan batok (tempurung) kelapa yang terlalu besar. Hanya sebagian kali kerukan, ia udah sukses sebabkan lubang besar. Ia terus mengeruk tanah di atas gunung itu tanpa mengenal lelah.

Rara Anteng pun mulai cemas. Ketika hari menjelang pagi, pembuatan danau itu hampir selesai, tinggal sebagian kali kerukan lagi.

“Aduh, mampuslah aku!” ucap Rara Anteng cemas, “raksasa itu terlalu sakti. Apa yang wajib kulakukan untuk menghentikan pekerjaannya?”

Rara Anteng ulang berpikir keras. Akhirnya ia menentukan untuk membangunkan semua keluarga dan tetangganya. Kaum laki-laki diperintahkan untuk membakar jerami, tetapi kaum perempuan diperintahkan untuk menumbuk padi. Tak berapa lama kemudian, cahaya kemerah-merahan pun mulai nampak dari arah timur. Suara lesung terdengar bertalu-talu, dan lantas disusul suara ayam jantan berkokok bersahut-sahutan.

Mengetahui tanda-tanda datangnya waktu pagi tersebut, Kyai Bima tersentak kaget dan segera menghentikan pekerjaannya sebabkan danau yang udah hampir selesai itu.

“Sial!” seru raksasa itu bersama dengan kesal, “rupanya udah pagi. Aku gagal mempersunting Rara Anteng.”

Sebelum Kyai Bima meninggalkan puncak Gunung Bromo, tempurung kelapa yang masih dipegangnya segera dilemparkan. Konon, tempurung kelapa itu jatuh tertelungkup dan lantas menjelma jadi sebuah gunung yang dinamakan Gunung Batok. Jalan yang dilalui raksasa itu jadi sebuah sungai dan sampai kini masih nampak di hutan pasir Gunung Batok. Sementara danau yang belum selesai dibuatnya itu menjelma jadi sebuah kawah yang termasuk masih bisa disaksikan di kawasan Gunung Bromo.

Betapa senangnya hati Rara Anteng dan keluarganya lihat raksasa itu pergi. Tak berapa lama kemudian, Rara Anteng pun menikah bersama dengan Jaka Seger. Setelah itu, Jaka Seger dan Rara Anteng membuka desa baru yang diberi nama Tengger. Nama desa itu diambil dari paduan akhiran nama Anteng (Teng) dan Seger (Ger). Mereka pun hidup berbahagia.

Setelah bertahun-tahun mereka hidup menikmati manisnya perkawinan dan kehidupan berumah tangga, tiba-tiba nampak kegalauan di hati mereka.

“Dinda, udah bertahun-tahun kita menikah, namun belum termasuk dikaruniai anak. Padahal kita udah coba berbagai model obat,” keluh Jaka Seger kepada istrinya.

“Sabarlah, Kanda! Sebaiknya jangan terlalu cepat berputus asa. Kita serahkan saja semua kepada Tuhan Yang Mahakuasa,” bujuk Rara Anteng.

Baru saja istrinya selesai berucap, tiba-tiba Jaka Seger mengucapkan ikrar, “Jika Tuhan mengaruniai kita 25 anak, saya berjanji dapat mempersembahkan seorang di pada mereka untuk sesajen di kawah Gunung Bromo.”

Begitu Jaka Seger selesai mengucapkan ikrar itu, tiba-tiba api nampak dari dalam tanah di kawah Gunung Bromo. Hal itu sebagai tandanya bahwa doa Jaka Seger didengar oleh Tuhan Yang Mahakuasa. Tak berapa lama kemudian, Rara Anteng pun diketahui sedang mengandung. Alangkah bahagianya hati Jaka Seger mendengar kabar baik itu. Sembilan bulan kemudian, buah hati yang udah lama mereka nanti-nantikan pun lahir ke dunia. Kebahagiannya pun jadi prima dikala jelas bahwa istrinya melahirkan anak kembar. Setahun kemudian, Rara Anteng melahirkan ulang anak kembar. Begitulah seterusnya, tiap-tiap tahun Rara Anteng melahirkan anak kembar, ada kembar dua dan ada pula kembar tiga, sampai pada akhirnya anak mereka berjumlah dua puluh lima orang.

“Terima kasih, Tuhan! Engkau udah mengabulkan doa hamba!” ucap Jaka Seger.

Jaka Seger bersama dengan istrinya merawat dan membesarkan ke-2 puluh lima anak berikut sampai tumbuh jadi dewasa. Jaka Seger terlalu menyayangi semua anaknya, terutama putra bungsunya yang bernama Dewa Kusuma. Karena terlena dalam kebahagiaan, ia lupa janjinya kepada Tuhan. Suatu malam, Tuhan pun menegurnya melalui mimpi.

“Mana janjimu, wahai Jaka Seger! Serahkanlah keliru seorang putramu ke kawah Gunung Bromo!” seru suara itu dalam mimpi Jaka Seger.

Jaka Seger segera tersentak kaget waktu tersadar dari mimpinya.

“Ya, Tuhan! Aku udah lupa pada janjiku,” ucap Jaka Seger, “Aduh, bagaimana ini? Siapa di pada putra-putriku yang wajib kupersembahkan, padahal saya terlalu menyayangi mereka semua?”

Akhirnya, Jaka Seger bersama dengan istrinya menghimpun semua putra-putrinya dalam sebuah pertemuan keluarga. Jaka Seger lantas menceritakan berkenaan nazarnya itu kepada mereka. Wajah mereka pun serempak berubah jadi pucat pasi. Apalagi dikala dimintai kesediaan keliru seorang dari mereka untuk dijadikan persembahan.

“Ampun, Ayah! Ananda tidak mau jadi persembahan di kawah itu. Ananda tidak mau mati muda,” sahut anak sulungnya keberatan.

“Dengarlah, wahai putra-putriku! Jika Ayahanda tidak menunaikan nazar ini, maka desa ini dan semua isinya dapat binasa,” jelas Jaka Seger.

Dengan sigap, Dewa Kusuma segera menanggapi penjelasan ayahandanya.

“Ampun, Ayah! Jika itu memang udah jadi nazar Ayah, Ananda bersedia untuk dijadikan persembahan di kawah Gunung Bromo,” kata Dewa Kusuma.

Jaka Seger tersentak kaget. Ia tidak dulu mengira di awalnya jikalau putra bungsunyalah yang mempunyai keberanian dan kerelaan untuk dijadikan persembahan.

“Apakah kamu yakin bersama dengan ucapanmu itu, hai Dewa Kusuma?” bertanya ayahnya.

“Iya, Ayah! Ananda mau berkorban demi menyelamatkan dusun ini dan semua isinya,” jawab Dewa Kusuma, “tapi, Ananda mempunyai satu permintaan.”

“Apakah permintaanmu, Putraku?” bertanya ayahnya.

Dewa Kusuma pun mengemukakan permintaannya kepada Ayah, Ibu, dan saudara-saudaranya supaya dirinya diceburkan ke dalam kawah itu pada tanggal 14 bulan Kasada (penanggalan Jawa). Ia termasuk menghendaki supaya tiap-tiap tahun pada bulan dan tanggal berikut diberi sesajen berupa hasil bumi dan ternak yang dihasilkan oleh ke-24 saudaranya. Permintaan Dewa Kusuma pun di terima oleh semua anggota keluarganya.

Pada tanggal 14 bulan Kasada, Dewa Kusuma pun diceburkan ke kawah Gunung Bromo bersama dengan diiringi isak tangis oleh semua keluarganya. Nazar Jaka Seger pun terlaksana supaya dusun itu atau kini dikenal Desa Tengger terhindar dari bencana.

Demikian cerita Jaka Seger dan Rara Anteng dari area Jawa Timur. Hingga kini, kawah yang miliki garis sedang lebih tidak cukup 800 mtr. (utara-selatan) dan 600 mtr. (timur-barat) ini udah jadi object wisata menarik di kawasan Gunung Bromo. Untuk mengenang dan menghargai pesan Dewa Kusuma, masyarakat suku Tengger melakukan upacara persembahan sesaji ke kawah Gunung Bromo yang dikenal bersama dengan arti upacara Yadnya Kasada. Upacara yang termasuk merupakan daya tarik wisata ini ditunaikan pada sedang malam sampai dini hari tiap-tiap bulan purnama, yakni kira-kira tanggal 14 – 15 di bulan Kasada (kepuluh) menurut penanggalan Jawa.

Pesen ethical yang terkandung dalam cerita di atas adalah karakter mau berkorban demi kebahagiaan ke-2 orang tua dan demi keselamatan masyarakat umum. Sifat ini tergambar pada karakter dan perilaku Dewa Kusuma yang mau mengorbankan nyawanya demi menyelamatkan keluarga dan semua masyarakat Desa Tengger dari kebinasaan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *