Cerita Rakyat Legenda Dang Gedunai, Asal Mula Naga di Laut Lepas

terhadap zaman dahulu pas di area Riau tersebutlah seorang anak laki-laki yang bernama Dang Gedunai. Ia adalah anak yang keras kepala. Ia senantiasa mengikuti kemauannya sendiri dan tidak mau mendengarkan perkataan orang lain.

Cerita Rakyat Legenda Dang Gedunai, Asal Mula Naga di Laut Lepas

Pada suatu hari, Dang Gedunai turut menangguk ikan bersama dengan orang-orang di sungai.Taruhan Bola Saat orang-orang mendapat ikan, ia justru mendapatkan sebutir telur. “Dang Gedunai! Oo… Dang Gedunai, telur apakah yang kau dapatkan itu?” tanya orang-orang mengejeknya. “Telur badak”, jawab Dang Gedunai singkat.

Badak tidak bertelur, Dang Gedunai. Badak itu beranak. Satu anaknya,” kata seorang. “Hei Dang Gedunai, lebih baik jangan kau bawa telur itu,” kata orang lain menasihatinya. “Tapi aku puas telur ini,” bantah Dang Gedunai sambil memeluk telur raksasa itu. “Lihatlah, ukurannya besar, bentuknya juga bulat lonjong, licin, dan bersih berkilat-kilat. Kalian tidak dapat melarang aku membawa telur ini. Kalau telur ini aku tinggalkan, pasti kalian yang dapat mengambilnya,” ujar Dang Gedunai.

Setiba di rumah, Dang Gedunai disambut oleh emaknya. “Telur apakah itu, Dang Gedunai?” tanya Emak Dang Gedunai. “Telur badak, Mak,” jawab Dang Gedunai. “Badak tidak bertelur, anakku. Badak itu beranak satu,” paham Emak Gedunai. Karena telur raksasa itu bentuknya unik, Emak Gedunai penasaran idamkan mengetahuinya. Ia pun mengikuti telur itu bersama dengan seksama. Tiba-tiba Emak Gedunai tersentak kaget. “Astaga, ini telur naga! Kau jangan sekali-sekali bermain-main bersama dengan telur ini, apalagi memakannya. Kau dapat celaka, Annakku! Kembalikan telur naga itu ke sungai,” perintah Emak Gedunai.

“Mana bisa saja naga berkunjung ke sungai itu? Ini bukan telur naga, Mak. Saya tidak mau mengembalikan telur ini ke sungai. Saya dapat memakannya,” bantah Dang Gedunai. Ia pun menyimpan telur itu baik-baik. Setiap hari Emak Gedunai senantiasa memperingatkan anaknya supaya tidak memakan telur itu, setiap hari pula Dang Gudanai bertekad dapat menyantap telur itu suatu pas nanti.

Suatu pagi, Emak Gedunai mengajak Dang Gedunai pergi ke ladang, tapi Dang Gedunai menolak bersama dengan alasan sakit. Sebenarnya ia tidak sakit, ia hanya mencari peluang supaya dapat memakan telur tanpa diketahui emaknya. Ketika emaknya berangkat ke ladang, Dang Gedunai segera merebus telur itu dan memakannya. Ia terlihat lahap sekali, supaya telur itu habis seluruh ditelannya. “Mmm…enak sekali rasanya,” kata Dang Gedunai bersama dengan perasaan puas. “Besok aku dapat ke sungai mencari telur lagi,” gumam Dang Gedunai.

Beberapa pas sehabis memakan telur itu, tiba-tiba Dang Gedunai menjadi sangat mengantuk. Maka, ia pun merebahkan tubuhnya di balai-balai. Dalam sekejap, ia udah tertidur pulas. Dalam tidurnya, Dang Gedunai bermimpi didatangi seekor naga betina yang sangat besar tengah mencari telurnya yang hilang di sungai. “Hai, Anak Muda! Kamu udah mengambil alih telurku di sungai dan memakannya. Siapapun yang memakan telurku, maka ia dapat menjelma naga sebagai pengganti anakku”. Setelah mendengar nada itu, Dang Gedunai terbangun ketakutan. Tubuhnya bermandikan keringat dan tenggorokannya kering. Dia menjadi sangat haus.

Menjelang sore, Emak Dang Gedunai pulang berasal dari ladang. Dia menyaksikan anaknya tengah gelisah. Dang Gedunai hilir mudik ke sana ke mari mencari air. Tampaknya dia sangat kehausan. Lidahnya terjulur-julur. Semua air didalam dandang dan tempayan udah diminumnya, tapi dia masih kehausan. Kerongkongannya bagaikan terbakar.

“Tolong ambilkan air, Mak! Saya haus sekali,” pinta Dang Gedunai terhadap emaknya. “Apa yang terjadi denganmu, Anakku!” tanya emaknya penasaran. “Sudahlah, Mak!” Cepatlah ambilkan air, kerongkonganku menjadi panas sekali,” desak Dang Gedunai kepada emaknya. Sekarang emaknya udah paham jika Dang Gedunai udah memakan telur naga itu. Segera diberinya segayung air kepada anaknya. Sekali teguk, air itupun segera habis. Lalu, diberinya setempayan, habis pula ditenggak Dang Gedunai. Emaknya udah kehabisan akal. Semua air udah habis di rumahnya.

Dang Gedunai masih saja kehausan. Dia pun berlari muncul berasal dari rumahnya dan berteriak-teriak meminta air. “Ambilkan aku air! Saya haus sekali!” ratap Dang Gedunai terhadap orang-orang yang melalui di depan rumahnya. Orang-orang menolong memberikan air yang mereka punya. Tapi rasa haus Dang Gedunai tak reda juga. Dang Gedunai kemudian pergi ke perigi (telaga) meminum habis airnya. Emaknya yang kebingungan lantas membawa Dang Gedunai ke danau. Kering pula air danau dihirupnya. Akhirnya emaknya membawa Dang Gedunai ke sungai.

Sesampai di sungai, Dang Gedunai berkata kepada emaknya, “Mak, aku dapat menghiliri sungai ini sampai ke laut lepas. Saya dapat menjelma jadi naga, Dang Gedunai namanya.” Itulah kata-kata terakhir Dang Gedunai kepada emaknya. “Dang Gedunai, Anakku? Bukankah emak udah melarangmu, Nak? Kau langgar tegahanku, dan inilah akibatnya,” kata Emak Dang Gedunai meratap, menyesali kelakuan anaknya.

Dang Gedunai udah hilang di laut lepas. Emak Dang Gedunai tak mau beranjak berasal dari tepi laut. Dia konsisten menangis dan meratapi anaknya itu siang dan malam sampai airmatanya kering. Dia konsisten menunggu dan meminta Dang Gedunai muncul kembali.

Beberapa pas kemudian, terlihat air laut bergelombang berkunjung memecah pantai. Seekor naga muncul ke permukaan air, mengeluarkan nada yang mirip bersama dengan nada Dang Gedunai, “Mak, aku udah jadi naga. Tempat tinggalku sekarang di laut. Kalau Mak rindu kepadaku, pandanglah laut lepas. Gelombang yang berkunjung ke pantai itu adalah jejak langkahku. Jika laut tenang, bermakna aku tengah tidur. Tetapi jika laut bergelombang besar, bermakna aku tengah mencari makan.”

“Dang Gedunai, Anakku …. Mohon ampunlah terhadap Tuhan dikarenakan udah membantah kata-kata emakmu ini. Walaupun kau udah jadi naga, emakmu senantiasa menyayangimu, Nak,” Emak Dang Gedunai berseru sambil berupaya mencapai naga itu. Namun, didalam sekejap naga itu lenyap, tinggal gelombang-gelombang kecil yang memecah pantai.

Sejak peritiwa itu, para nelayan tidak berani turun melaut jika gelombang bergulung-gulung besar, dikarenakan itu bermakna Dang Gedunai tengah mencari makan. Karena tubuhnya yang besar, dia memerlukan banyak makanan dan dapat melahap apa saja yang tersedia di laut. Jika air tenang, para nelayan dapat melaut bersama dengan aman, dan menangkap sisa-sisa ikan yang tidak termakan oleh Dang Gedunai.

Dalam cerita di atas, terkandung nilai-nilai ethical yang patut dijadikan sebagai pedoman didalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai ethical selanjutnya di antaranya sifat keras kepala dan sifat kasih sayang. Sifat keras kepala tercermin terhadap sifat Dang Gedunai yang tidak mau mendengar nasihat ibunya, supaya tidak memakan telur naga yang didapatnya di sungai. Karena sifat keras kepalanya itu, Dang Gedunai mendapat ganjaran atas perbuatannya yakni jadi seekor naga.

Sifat keras kepala adalah sifat tidak mau terima kebenaran. Dalam kehidupan orang Melayu, sifat keras kepala adalah sangat dipantangkan. Meskipun demikian, orang tua-tua Melayu tidak serta-merta menegur dan menasihati bagian masyarakatnya bersama dengan kata-kata yang kasar. Dalam memberikan nasihat, petuah atau “tunjuk ajar‘, orang tua-tua Melayu melakukannya bersama dengan arif dan bijaksana, supaya tidak menyinggung perasaan yang mendengarnya. Biasanya, mereka memakai sindiran-sindiran bersama dengan bhs yang terpilih, halus, dan punya kandungan nilai-nilai luhur yang dapat menyadarkan orang berasal dari kekeliruannya tanpa melukai perasaannya. Tennas Effendy didalam bukunya “Ejekan” terhadap Orang Melayu Riau dan Pantangan Orang Melayu Riau, mengatakan sejumlah sindiran-sindiran perihal sifat keras kepala didalam wujud ungkapan-ungkapan layaknya berikut:

kalau tak mau mendengar nasehat,
alamat celaka dunia akhirat

kalau tak mau mendengar petuah orang,
martabat habis, marwah pun hilang

tanda orang tidak semenggah,
diberi nasihat menyanggah

Selain itu, didalam ajaran Islam juga disebutkan bahwa sifat keras kepala merupakan sifat yang tercela. Sifat keras kepala dapat diartikan sebagai orang yang tidak mau mendengar nasihat orang lain, juga nasihat orang tua. Bagi orang yang tidak mau mendengar nasihat orang tua, ia adalah anak yang durhaka. Sebagaimana yang terjadi terhadap Dang Gedunai didalam cerita di atas. Karena keras kepala, ia tidak mengacuhkan nasihat emaknya untuk tidak memakan telur naga itu, maka akibatnya, ia menjelma jadi naga. Karena besarnya akibat yang ditimbulkan berasal dari sifat keras kepala, yakni membuat seseorang jadi durhaka, maka Nabi Muhammad SAW memperingatkan didalam sebuah hadisnya yang berbunyi, “Bukankah aku udah memberitahu kamu perihal ahli-ahli neraka? Mereka itu ialah orang-orang yang keras kepala, sombong, puas mengumpul harta, tapi tidak puas membelanjakannya untuk kebaikan” (H.R.Bukhari Muslim). Karena sifat keras kepala ini adalah sifat tercela dan dipantangkan oleh tua-tua Melayu, sifat ini tidak dapat dijadikan pedoman didalam kehidupan sehari-hari.

Nilai ethical lain yang terkandung di didalam cerita di atas adalah sifat kasih sayang. Sifat ini tercermin terhadap sifat Emak Dang Gedunai yang sangat sayang terhadap Dang Gedunai, meskipun anaknya itu udah jadi seekor naga. Kasih sayang adalah sifat terpuji yang dijunjung tinggi didalam kehidupan orang Melayu. Bagi mereka, berkasih sayang tidak hanya terbatas didalam ruang lingkup keluarga dan kaum kerabat, tapi juga didalam bersahabat dan bermasyarakat. Orang tua-tua Melayu berikan petunjuk bahwa hidup terpuji dan hidup mulia adalah hidup bersama dengan berkasih sayang antar sesama, tanpa membedakan suku, bangsa, kedudukan, pangkat, kekayaan, dan sebagainya. Oleh dikarenakan itu, sejak dini mereka menjadi menanamkan rasa kasih sayang di didalam lingkungan keluarga, handai taulan, saudara-mara, masyarakat dan bangsa. Mereka mengajarkan anak-anaknya perihal kelebihan hidup berkasih sayang bersama dengan menunjukkan contohnya didalam kehidupan sehari-hari. Keutamaan sifat berkasih sayang ini banyak dipaparkan oleh Tennas Effendy didalam bukunya “Tunjuk Ajar Melayu” baik didalam wujud ungkapan, syair maupun untaian pantun Melayu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *