Cerita Rakyat Legenda Burung Bayan dan Si Penggetah

Alkisah, di tepi hutan belantara, terdapatlah sebuah rumah yang dihuni oleh keluarga miskin. Karena kerja si Miskin tiap-tiap hari adalah menggetah burung, maka penduduk lebih kurang memanggilnya si Penggetah.

Cerita Rakyat Legenda Burung Bayan dan Si Penggetah

Burung-burung hasil getahannya tersebut ia menjual di kampung tetangga, tak jauh berasal dari rumahnya. Karena si Penggetah menyadari Burung Bayan punya bulu dan suara yang indah dan pandai berbicara, maka ia berkeinginan untuk menggetah Burung Bayan

Suatu hari, sesudah si Miskin buat persiapan segala keperluan untuk menggetah, berangkatlah ia ke dalam hutan belantara. Tak lama kemudian,Taruhan Bola ia pun mendapatkan sebuah pohon yang menurutnya terlalu strategis untuk menempatkan getah. Setelah menempatkan getah di ranting kering terhadap pohon itu, ia sesudah itu tunggu di bawah pohon. Sambil meminta burung Bayan yang diidamkannya terkena getah, ia mengucapkan janji dalam hati, “Jika aku sukses beroleh Burung Bayan, maka aku dapat memberinya sangkar emas.”

Benarlah, dikala siang menjelang, burung Bayan terjerat terhadap getah yang telah dilekatkan si Penggetah di ranting pohon. Burung itu dibersihkan si Penggetah bersama dengan minyak, sampai bulunya muncul indah mengkilat. Lalu diambilnya sangkar kayu yang telah disiapkannya. Sambil memasukkan burung itu ke dalam sangkar, si Penggetah berkata, “Burung Bayan, sebenarnya aku berjanji jikalau sukses mendapatkanmu, dapat aku beri sangkar emas. Tapi, tahulah kau, jangankan emas, uang pun aku tak punya, karena aku terlalu miskin,” kata si Penggetah bersama dengan suara iba.

Tiba-tiba burung Bayan itu menjawab, “Kalau kau sebenarnya menghendaki emas, tampunglah kotoranku. Kotoran itu nantinya dapat jadi emas.” Mendengar jawaban Burung Bayan, si Penggentah tersentak kaget. “Ah, yang benar saja, Bayan! Kalau begitu, aku dapat mengumpulkan semua kotoranmu,” sahut si Penggetah bersama dengan semangatnya. Setelah beberapa hari si Penggetah mengumpulkan kotoran, maka berubahlah kotoran itu jadi butiran emas. Si Penggetah selanjutnya menjajakan emas itu dan membelikan sangkar emas untuk si Bayan.

Kesaktian Burung Bayan itu terdengar oleh semua penduduk negeri. Hingga suatu hari, kabar itu sampai ke telinga Raja Helat, seorang raja yang tamak. Maka diperintahnyalah seorang utusan istana bernama Bujang Selamat untuk pergi ke rumah si Penggetah.

Alangkah terkejutnya si Penggetah memandang utusan istana mampir ke gubuk reyotnya. “Waduh, gawat! Ada apa utusan istana mampir ke sini. Jangan-jangan si Bayan mau dibawa ke istana,” gumam si Penggetah bersama dengan cemasnya. Melihat raut muka si Penggetah yang pucat, Bujang Selamat sesudah itu menenangkan hati si Penggetah dan berkata, “Janganlah engkau takut, Penggetah, aku mampir cuma untuk memberikan titah raja.” Dengan hati-hati, si Penggetah bertanya, “Titah apa yang hendak tuan sampaikan kepadaku?” Bujang Selamat sesudah itu menyebutkan maksud kedatangannya, “Baginda Raja menyadari engkau punya burung yang pandai berkata dan kotorannya mampu jadi emas. Untuk itulah aku ke sini, karena Baginda Raja menghendaki memilikinya.”

Mendengar penjelasan Bujang Selamat, si Penggetah jadi bingung. Belum sempat dia menjawab, Bujang Selamat berkata lagi, ”kau jangan khawatir, karena kita dapat menggantinya bersama dengan uang atau barang yang kau inginkan. Tapi kalau kau menolaknya, maka kita dapat mengambilnya bersama dengan paksa,” lanjut Bujang Selamat.

Si Penggentah cuma diam mendengar penjelasan Bujang Selamat. Dia berpikir bagaimana cara yang baik untuk menolak, karena si Penggetah menyadari benar pembawaan Raja Helat yang kondang kejam itu.

Maka bersama dengan hati-hati, dia berkata kepada Bujang Selamat, “Begini saja Bujang Selamat, supaya adil, bagaimana kalau kita tanyakan kepada si Bayan, apakah dia mau dibawa ke istana Raja Helat?” bujuk si Penggetah.

Setelah menimbang-nimbang, Bujang Selamat sepakat bersama dengan tawaran si Penggetah. Lalu ditanyalah si Bayan: “Hai Bayan, engkau telah mendengar sendiri pembicaraan kami, maka maukah engkau dibawa ke istana Raja Helat?” tanya si Penggetah. Burung Bayan memandang kepada Bujang Selamat, selanjutnya bersama dengan tegas menjawab: “Hai Bujang Selamat, aku mau bertuankan Raja Helat asalkan dia mau memenuhi syaratku,” kata si Bayan. “Apa syaratnya?” tanya Bujang Selamat. “Syaratnya, sebelum akan Raja jadi tuanku, maka Raja Helat wajib mendengarkan ceritaku. Sebelum ceritaku selesai, aku tidak boleh berubah tuan,” tegas Si Bayan. Syarat yang diberikan si Bayan tidaklah sulit. Tanpa berpikir panjang Bujang Selamat pun setuju. “Kalau begitu, baiklah,” kata Bujang Selamat.

Setelah sepakat, mereka pun mempunyai si Bayan ke istana. Sesampainya di istana, si Bayan mulai bercerita di hadapan Raja Helat dan keluarga istana. Cerita-cerita yang dirangkainya terlalu menarik, supaya Raja Helat kagum dan tetap meminta Si Bayan tetap bercerita. Karena Si Bayan ini adalah burung yang cerdik, maka untuk tiap-tiap cerita yang diminta raja, ia tetap meminta syaratnya dipenuhi. Selain itu, si Bayan juga mengajukan permohonan kepada Raja Helat. Untuk tiap-tiap cerita yang diberikannya, Raja wajib mengganti bersama dengan segantang(setara bersama dengan 4 kg) emas murni serta makanan dan minuman. Raja Helat pun tidak keberatan, semua yang diminta Si Bayan tetap dipenuhi kala itu juga. Si Bayan selanjutnya mengimbuhkan emas, makanan, dan minuman tersebut kepada Si Penggetah.

Si Bayan yang cerdik itu tetap mengakibatkan cerita yang dituturkannya panjang dan bersambung, maka tanpa mulai telah berminggu-minggu ia bercerita di hadapan Raja Helat, keluarga istana, dan rakyat negeri. Emas, makanan, dan minuman yang diterima si Penggetah pun tambah banyak. Sebagian dia simpan, dan beberapa lainnya ia bagikan kepada rakyat yang miskin. Begitulah selanjutnya tiap-tiap hari, sampai gudang kerajaan daerah menaruh emas, makanan, dan minuman jadi kosong.

Sekarang, raja yang kejam itu telah tidak mempunyai apa-apa lagi. Akibatnya, rakyat telah tidak yakin ulang kepadanya. Kekayaan yang semestinya dibagikan kepada rakyatnya yang miskin, tak dulu dilakukannya. Selama ini Raja Helat menimbun kekayaan untuk dinikmati sendiri bersama dengan keluarganya.

Akhirnya Raja Helat sukses ditumbangkan dan diturunkan tahtanya oleh si Burung Bayan, si Penggetah, dan rakyat negeri. Si Penggetah sesudah itu diangkat oleh semua rakyat sebagai Raja, namun si Bayan diangkat jadi penasehat raja. Sejak negeri itu diperintah oleh si Penggetah, rakyatnya hidup damai, makmur dan sejahtera.

Dari cerita di atas, mampu dipetik hikmahnya bahwa raja yang tamak dan tidak menyejahterakan rakyatnya, suatu hari dapat ditumbangkan oleh rakyatnya sendiri. Raja yang adil dan bijaksana tetap dicintai dan dapat dukungan rakyatnya, sebagaimana pepatah Melayu: Raja Adil Raja Disembah, Raja Zalim Raja Disanggah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *