Cerita Rakyat Legenda Asal Mula Gunung Pinang

Gunung Pinang di Kecamatan Kramatwatu, Kabupaten Serang, merupakan sebuah bukit yang tingginya 300 mdpl bersama luas 222 hektare. Gunung ini dapat menjadi pilihan untuk sekadar berolah raga melewati track berbentuk jalan beraspal yang udah di sediakan sejauh kurang lebih dua kilometer.

Cerita Rakyat Legenda Asal Mula Gunung Pinang

Menurut cerita, gunung yang sering menjadi area piknik ini merupakan penjelmaan perahu seorang saudagar kaya yang bernama Dampu Awang. Bandar BolaPeristiwa apakah yang menyebabkan perahu Dampu Awang menjelma menjadi Gunung Pinang? Kisahnya dapat mengikuti didalam cerita Legenda Asal Mula Gunung Pinang selanjutnya ini.

Alkisah, di sebuah perkampungan nelayan di area pesisir teluk Banten, hiduplah seorang janda tua bersama anak laki-lakinya yang bernama Dampu Awang. Sejak kematian sang Ayah beberapa th. silam, Dampu Awang mesti bekerja keras mendukung ibunya melacak kerang di pantai. Sudah bertahun-tahun mereka melakoni pekerjaan itu, tapi hidup mereka senantiasa serba kekurangan. Dompu Awang yang udah berusia remaja itu udah bosan dan bosan bersama situasi tersebut. Ia berpikir bahwa jika ia senantiasa tinggal di kampungnya, nasib keluarganya tidak bakal berubah. Dengan begitu, timbullah keinginannya untuk merantau ke Negeri Malaka.

Pada suatu malam, Dampu Awang memberikan tekad itu kepada ibunya. Tanpa diduganya, perempuan yang udah melahirkannya itu tidak merestuinya. Walaupun ia udah beri tambahan bermacam alasan dan rayuan, sang Ibu senantiasa tidak merestuinya pergi.

“Ibu tidak bakal mengizinkanmu pergi, Anakku,” cegah ibunya.

“Tapi, Bu!” sergah Dampu Awang.

“Sudahlah, Dampu! Ibu memahami perasaanmu bahwa anda udah tidak tahan ulang hidup menderita layaknya ini. Tapi, jika anda pergi siapa ulang yang bakal menemani Ibu di sini, Anakku!” ujar ibunya.

“Bu! Dampu berjanji, jika udah berhasil, Dampu bakal langsung ulang menemani dan membahagiakan Ibu. Kita bakal membangun rumah mewah layaknya rumah para bangsawan di kampung ini,” bujuk Dampu Awang.

“Sudahlah, Dampu! Berhentilah berhayal layaknya itu! Ibu udah capek mendengar seluruh bujuk rayumu. Ibu bakal jadi bahagia jika anda senantiasa berada di samping Ibu,” ujar ibu Dampu seraya merebahkan tubuhnya di atas balai-balai bambu.

Dampu Awang tidak dapat ulang berkata-kata. Ia memahami perasaan ibunya, walaupun di hatinya tersimpan rasa kecewa. Dengan langkah pelan, ia keluar berasal dari gubuknya lantas duduk bersandar terhadap pohon nyiur sambil menikmati semilir angin malam pantai teluk Banten. Pandangangnya tajam seolah-olah menembus kegelapan malam. Pikirannya terbang nun jauh di sana meninggalkan kepenatan hidup dan kekecewaan atas sikap ibunya. Di wajahnya terpancar secercah cahaya harapan yang bakal menerangi hidupnya.

“Ya, Tuhan! Tolong bukakanlah pintu hati Ibu hamba agar ia memahami bahwa di Negeri Malaka sana banyak sekali pekerjaan yang bakal menyebabkan hamba menjadi kaya raya,” ucap Dampu Awang bersama penuh harapan.

Tanpa disadarinya, sang Ibu sedang memerhatikannya berasal dari balik jendela. Perempuan setengah baya itu tak kuasa membendung air matanya. Ia jadi bersalah sebab udah mengecewakan anak semata wayangnya. Malam jadi larut. Janda tua itu ulang merebahkan tubuhnya hingga tertidur lelap. Tak berapa lama kemudian, Dampu Awang masuk ke didalam gubuk, lantas tidur di samping ibunya.

Keesokan paginya, perempuan tua itu menghampiri Dampu Awang yang baru saja terbangun.

“Dampu, Anakku!” sapa ibunya bersama lembut.

“Ada apa, Bu?” tanya Dampu sambil menatap wajah ibunya.

Dampu menyaksikan ibunya tersenyum. Ada kehangatan cinta yang terpancar berasal dari tatapan mata ibunya.

“Dampu, Anakku! Ibu tidak bermaksud melarangmu merantau. Tapi, ketahuilah! Umur Ibu udah udzur. Ibu risau kelak kita takkan bersua lagi. Ibu tidak mempunyai siapa-siapa ulang dunia ini selain dirimu, Anakku!” ujar ibunya dengah penuh rasa haru.

“Tenanglah, Bu! Dampu tidak bakal lama di perantauan. Setelah berhasil, Dampu bakal langsung pulang menemani Ibu di sini,” hibur Dampu Awang.

Ibunya ulang tersenyum lembut.

“Baiklah, Anakku! Jika itu udah menjadi tekadmu, Ibu mengizinkan anda pergi. Tapi ingat! Kamu mesti berjanji cepat ulang jika udah berhasil,” ujar ibunya.

Betapa bahagia hati Dampu Awang mendapat restu berasal dari ibunya. Tubuhnya jadi mendapat kekuatan yang luar biasa. Darah di tubuhnya yang pada mulanya serasa membeku ulang mengalir. Ia tidak dapat ulang menyembunyikan perasaan bahagianya. Air matanya menetes membasahi ke dua pipinya.

“Terima kasih, Bu! Dampu berjanji bakal langsung ulang untuk membahagiakan Ibu,” ucap Dampu Awang seraya memeluk ibunya.

“Iya, Anakku! Sekarang persiapkanlah barang-barang yang bakal anda bawa pergi. Besok pagi tersedia kapal yang bakal berangkat ke Negeri Malaka. Pergilah temui Teuku Abu Matsyah pemilik kapal itu! Barangkali saja dia bersedia membawamu pergi berlayar bersamanya,” ujar ibunya.

Setelah buat persiapan bekalnya, Dampu Awang langsung menemui Teuku Abu Matsyah di pelabuhan.

“Tuan! Bolehkah saya turut berlayar bersama Tuan? Tapi maaf Tuan, saya tidak mempunyai duit untuk membayar cost kapal. Kalau Tuan berkenan, saya bakal membayarnya bersama tenaga,” pinta Dampu.

Melihat ketulusan hati Dampu, Teuku Abu Matsyah pun memenuhi permintaannya. Dengan perasaan gembira, Dampu langsung ulang ke rumahnya. Alangkah bahagianya hati ibunya mendengar berita gembira itu.

Keesokan harinya, sebelum Dampu Awang berangkat ke Pelabuhan, ibunya menitipkan kepadanya seekor burung perkutut bernama si Ketut.

“Anakku! Bawalah si Ketut pergi bersamamu! Burung ini peliharaan ayahmu dulu disaat tetap hidup. Burung ini sangat mahir sebagai pengantar pesan. Kamu mesti senantiasa mengirimi Ibu kabar. Jaga dan rawatlah dia bersama baik layaknya anda menjaga Ibu, ya Nak!” ujar ibunya.

“Baik, Bu! Dampu berjanji bakal mengirim surat kepada Ibu tiap-tiap awal bulan purnama,” jawab Dampu.

Setelah itu, berangkatlah Dampu bersama ibunya ke pelabuhan. Setibanya di pelabuhan, Teuku Abu Matsyah udah menunggunya. Usai menyalami ibunya, Dampu Awang langsung naik ke atas kapal. Tak berapa lama kemudian, ia pun keluar berdiri di anjungan kapal sambil melambaikan tangan.

“Ibu… Dampu berangkat! Jaga diri Ibu baik-baik!” teriak Dampu berasal dari anjungan kapal.

“Iya, Dampu! Hati-hati di jalan! Jangan lupa cepat kembali, ya Nak!” jawab janda tua itu.

Dengan diiringi isap tangis ibunya, Dampu Awang meninggalkan pelabuhan Banten menuju Negeri Malaka. Untuk mengganti cost kapal, ia ditugaskan oleh Teuku Abu Matsyah bersihkan seluruh galangan kapal. Dampu Awang sangat rajin dan tekun bekerja. Tak heran jika ia mendapat perhatian berasal dari saudagar kaya itu.

“Hai, Dampu! Apa yang bakal anda lakukan di Negeri Malaka?” tanya Teuku Abu Matsyah.

“Belum tahu, Tuan! Saya baru bakal melacak pekerjaan setibanya di sana nanti,” jawab Dampu Awang.

`Kalau begitu, maukah anda turut bekerja denganku?” bujuk saudagar kaya itu.

Tanpa berpikir panjang, Dampu Awang menerima tawaran selanjutnya bersama bahagia hati. Sejak Dampau turut dengannya, usaha Teuku Abu Matsyah jadi maju dan berkembang, agar didalam waktu tidak berapa lama ia dapat membeli sebuah kapal lagi. Karena itu, saudagar itu jadi sayang kepada Dampu hingga bermaksud menikahkan dia bersama putrinya yang bernama Siti Nurhasanah.

Pada mulanya, Dampu Awang menolak tawaran itu, sebab jadi dirinya sebagai anak buah tak pantas menikah bersama putri juragannya.

“Maaf Juragan! Saya tidak bermaksud menolak tekad baik Juragan. Tapi, apakah saya pantas menjadi pendamping hidup putri Juragan?” kata Dampu Awang bersama merendah.

Teuku Abu Matsyah cuma tersenyum sambil mengelus-elus jenggotnya yang jadi memutih.

“Jangan khawatir, Dampu! Setelah kalian menikah nanti, saya bakal mengangkatmu menjadi nahkoda kapal dan mewariskan seluruh harta kekayaanku kepada kalian,” ujar Teuku Abu Matsyah.

Akhirnya, Dampu Awang dan Siti Nurhasanah menikah dan hidup bahagia. Beberapa bulan setelah mereka menikah, papa Siti Nurhasanah meninggal dunia. Sejak itu, Dampu dan istrinya mewarisi seluruh harta kekayaan Teuku Abu Matsyah. Ia pun kondang sebagai saudagar kaya di Negeri Malaka. Ia hidup bersama penuh kemewahan dan bergelimang harta, agar mengabaikan ibunya yang berada di kampung halaman. Setelah lima th. di perantauan, tiba-tiba timbul kerinduannya menginginkan ulang ke tanah kelahirannya di Banten.

Pada suatu hari, berangkatlah Dampu Awang bersama istri dan para pengawalnya ke Banten bersama pakai kapal besar dan megah. Setelah berhari-hari mengarungi lautan luas, tibalah mereka di pelabuhan Banten. Berita mengenai kedatangan kapal besar dan megah itu tersebar ke seluruh pelosok negeri Banten. Setiap penduduk ramai mengkaji kemegahan kapal itu. Mereka bertanya-tanya siapa gerangan pemiliknya. Karena penasaran, para penduduk Banten berbondong-bondong menuju ke pelabahun. Di antara kerumunan orang banyak, nampak seorang perempuan tua bersama wajah sumringah dan pakaian lusuh baru saja tiba. Dia adalah ibu kandung Dampu Awang.

“Wah, jangan-jangan pemilik kapal itu adalah putraku,” ucap ibu Dampu Awang.

Ibu Dampu Awang berupaya menyusup di antara kerumunan orang banyak untuk menyaksikan kapal itu lebih dekat. Ketika mendekat, ia menyaksikan seorang pemuda gagah berdiri di anjungan kapal bersama seorang putri cantik. Mulanya, perempuan tua itu ragu jika pemuda itu adalah putranya, Dampu Awang. Tapi, setelah menyaksikan tersedia seekor burung perkutut bertengger di pundak pemuda itu, barulah ia jadi yakin bahwa pemuda itu anaknya yang sepanjang ini dirindukannya.

“Oh Dampu Awang, Anakku! Akhirnya, anda pulang juga,” ucapnya bersama perasaan bahagia.

Perempuan tua itu lantas berteriak memanggil anaknya.

“Dampuuu…! Dampu Awang, Anakku! Ini Ibu, Nak!” teriaknya sambil melambai-lambaikan tangan di antara kerumunan orang.

Mendengar teriakan itu, Dampu Awang langsung melacak sumber suara teriakan itu. Namun, disaat menyaksikan orang yang berteriak itu adalah seorang nenek yang berwajah lusuh dan mengenakan pakaian compang-camping, ia langsung mengalihkan pandanganya. Ia malu mengakui nenek tua itu sebagai ibunya di hadapan istrinya. Melihat sikap suaminya, Siti Nurhasanah menjadi terheran-heran.

“Hai, Kanda! Kenapa Kanda memalingkan wajah? Bukankah nenek itu mengaku sebagai ibu Kanda? Benarkah dia Ibu Kanda?” tanya Siti Nurhasanah.

“Tidak, Dinda! Perempuan tua itu bukan ibu Kanda!” tampik Dampu Awang. “Ibu Kanda kaya raya dan cantik, tidak layaknya nenek yang miskin dan keriput itu!”

“Tapi Kanda, nenek itu terus memanggil-manggil nama Kanda,” kata istri Dampu.

“Sudahlah, Dinda! Tidak usah pikirkan nenek keriput itu. Dia cuma mengada-ada,” ujar Dampu Awang.

Usai berkata begitu kepada istrinya, Dampu Awang membentak nenek itu dan mengusirnya.

“Hai, perempuan tua! Pergilah berasal dari sini! Aku tidak dulu mempunyai Ibu layaknya dirimu,” bentak Dampu Awang.

Perempuan malang itu bagai disambar petir di siang bolong mendengar bentakan itu. Hatinya bagai teriris-iris mendapat perlakuan tidak senonoh berasal dari darah dagingnya sendiri. Ia tertunduk lesu seraya meneteskan air mata. Harapan, kebahagiaan, dan penantiannya sepanjang bertahun-tahun udah lenyap begitu saja. Ia duduk bersimpuh memohon doa kepada Tuhan Yang Mahakuasa bersama penuh khusyuk.

“Oh, Tuhan! Jikalau sesungguhnya benar pemuda itu bukan putra hamba, biarkanlah ia senantiasa pergi. Tapi, jika dia putra hamba, Dampu Awang, berilah ia pelajaran sebab udah menyakiti perasaan ibunya sendiri,” pinta ibu Dampu.

Ketika Dampu Awang bersama rombongannya bakal meninggalkan pelabuhan Banten, tiba-tiba langit menjadi gelap dan angin tertiup kencang. Petir menyambar-nyambar lantas diiringi hujan yang sangat deras. Dalam sekejap, dunia serasa kiamat. Langit memuntahkan segala yang dikandungnya. Bumi bergoncang bersama dahsyatnya. Air laut bergelombang setinggi gunung. Seluruh penduduk berlarian meninggalkan pelabuhan untuk menyelamatkan diri.

Sementara itu, Dampu Awang beserta anak buahnya terombang-ambing di lautan. Kapalnya dipermain-mainkan oleh gelombang besar. Seluruh penumpang kapal menjadi panik dan ketakutan. Dalam situasi panik layaknya itu, tiba-tiba terjadi keajaiban. Si Ketut tiba-tiba dapat berkata layaknya manusia.

“Hai, Dampu Awang! Akuilah… akuilah… akuilah ibumu!” seru si Ketut.

Dampu Awang tidak mengacuhkan seruan si Ketut. Ia senantiasa tidak senang mengakui ibunya.

“Tidak! Dia bukan ibuku! Dia bukan ibuku!” sergah Dampu Awang.

“Akuilah…. akuilah… akuilah ibumu, Dampu Awang!” si Ketut ulang berseru.

Berulang kali si Ketut berseru kepadanya, Dampu Awang senantiasa saja menyangkal. Tanpa diduganya, tiba-tiba angin puyuh singgah bersama meliuk-liuk di atas laut menuju ke arah kapalnya. Tak ayal lagi, kapalnya pun terseret masuk ke didalam pusaran angin puyuh, lantas terbang berputar-putar di udara. Dalam situasi panik, Dampu Awang berteriak kencang.

“lbuuu…! Ibuuu… tolong aku! Ini anakmu, Dampu Awang!”

Namun apa hendak dibuat. Nasi udah menjadi bubur. Tuhan udah murkah kepadanya. Kapalnya terus berputar-putar di hawa dipermainkan angin puyuh. Lama-kelamaan, kapal dan seluruh isinya terlempar jauh ke arah selatan dan jatuh tertelengkup. Konon, perahu itu lantas menjelma menjadi sebuah gunung yang kini dikenal bersama nama Gunung Pinang.

Demikian cerita Legenda Gunung Pinang berasal dari Provinsi Banten. Pelajaran yang terdapat berasal dari cerita di atas keluar terhadap sikap dan tabiat Dampu Awang, yakni ia pemuda yang rajin dan tekun bekerja dan juga mempunyai tekad kuat untuk maju. Ia berani meninggalkan kampung halamannya untuk melakukan perbaikan nasib keluarganya. Alhasil, ia menjadi orang yang kaya raya dan memperistri seorang gadis cantik nan rupawan.

Namun sayang, harta benda dan istri cantik yang dimilikinya udah membutakan mata hati Dampu Awang. Ia tidak senang mengakui ibu kandungnya di hadapan istrinya sebab malu mempunyai seorang ibu yang miskin dan tua. Akibatnya, ia dan kapalnya terseret angin puyuh hingga terlempar jauh dan akhirnya menjadi gunung. Dari sini dapat dipetik pelajaran bahwa harta kekayaan, pangkat, dan wanita cantik dapat menyebabkan seseorang menjadi anak durhaka kepada orang tua. Padahal, durhaka kepada orang tua merupakan salah satu dosa besar yang bakal ditanggung sendiri oleh si anak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *