Cerita Rakyat Kota Malang 2020

Gunung Arjuna terdapat di Kabupaten Malang, Jawa Timur, Indonesia. Menurut legenda yang beredar di kalangan penduduk setempat, ketinggian gunung ini dahulu nyaris raih langit. Namun, dikarenakan tersebab oleh sebuah peristiwa, gunung ini terpotong supaya ketinggiannya cuma kurang lebih 3.339 meter di atas permukaan laut. Peristiwa apakah yang mengakibatkan Gunung Arjuna terpotong? Ikuti kisahnya dalam cerita Legenda Gunung Arjuna berikut ini!

Alkisah, dalam cerita pewayangan penduduk Jawa, dikenal nama Pandawa, yang secara harfiah berarti “anak Pandu”. Jadi, Pandawa adalah putra berasal dari Pandu. Sementara itu, Pandu adalah seorang raja yang bertahta di Kerajaan Hastinapura. Prabu Pandu miliki lima putra yang seluruhnya laki-laki. Mereka adalah Yudistira, Bima, Arjuna, serta si kembar Nakula dan Sadewa. Mereka seluruh merupakan saudara seayah dikarenakan lahir berasal dari dua ibu yang berbeda. Yudistira, Bima, dan Arjuna lahir berasal dari permaisuri pertama Prabu Pandu yang bernama Kunti, namun Nakula dan Sadewa lahir berasal dari permaisuri ke-2 yang bernama Madri.

Dari kelima Pandawa tersebut, Arjuna dikenal miliki pengetahuan kesaktian yang tinggi dibandingkan bersama saudara-saudaranya. Nama Arjuna disita berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti yang bersinar atau yang bercahaya. Ia merupakan penjelmaan berasal dari Dewa Indra, sang Dewa Perang. Sebagai titisan Dewa Indra, Arjuna miliki pengetahuan peperangan yang tinggi. Ia benar-benar mahir memanah dan sakti mandraguna. Semua kesaktian berikut merupakan anugerah berasal dari para Dewa dikarenakan ketekunannya bertapa. Namun, dikarenakan belum senang bersama kesaktian yang sudah dimilikinya, Arjuna tetap kerap laksanakan tapa untuk menaikkan kesaktiannya.

Pada suatu hari, Arjuna pergi bertapa ke sebuah lereng gunung yang terdapat di sebelah barat Batu, Malang. Suasana di lereng gunung itu benar-benar sesuai untuk bertapa dikarenakan wilayah di sekitarnya merupakan tempat pegunungan yang berudara sejuk dan jauh berasal dari permukiman penduduk. Itulah sebabnya, Arjuna pilih tempat itu supaya dapat laksanakan tapa bersama tenang dan khusyuk.

Setiba di lereng gunung itu, Arjuna segera duduk bersila di atas sebuah batu besar seraya memejamkan mata untuk memusatkan segenap pikirannya. Sesaat kemudian, ia pun terlarut dalam semadinya. Siang dan malam ia konsisten bersemadi bersama penuh khusyuk. Saking khusyuknya, tubuh putra ketiga Prabu Pandu itu memancarkan sinar yang miliki kapabilitas luar biasa. Beberapa saat kemudian, puncak gunung itu tiba-tiba terangkat ke atas. Semakin lama, puncak gunung itu makin menjulang tinggi sampai menyentuh langit dan mengguncang Negeri Kahyangan.

Peristiwa berikut mengakibatkan para Dewa di Kahyangan menjadi khawatir. Jika guncangan itu konsisten terjadi, maka Negeri Kahyangan akan hancur. Oleh dikarenakan itu, mereka segera bertindak bersama mengutus Batara Narada ke bumi untuk mencari jelas penyebab guncangan itu. Setelah terbang berputar-putar di angkasa, ia pun melihat Arjuna sedang bertapa di lereng gunung. Ia pun segera menghampiri dan membujuk Arjuna supaya menghentikan tapanya.

“Wahai Arjuna, bangunlah!” ujar Batara Narada, ”Jika kamu tidak segera menghentikan tapamu, gunung ini akan makin tinggi dan para Dewa di Kahyangan akan celaka.”

Arjuna mendengar sabda Batara Narada itu, tapi dikarenakan keangkuhannya ia enggan menghentikan tapanya. Ia berpikir, kalau ia menghentikan tapa itu pasti para Dewa tidak akan memberinya banyak kesaktian. Sementara itu, Batara Narada yang gagal membujuk Arjuna segera kembali ke Kahyangan untuk melapor kepada para Dewa. Mengetahui hal itu, Batara Guru kemudian memerintahkan tujuh bidadari tercantik di Kahyangan untuk menggonda pemuda tampan itu supaya mengakhiri tapanya.

Sesampai di bumi, para bidadari segera merayu Arjuna bersama beragam cara. Ada yang merayu bersama nada lembut, ada yang menari-nari di depannya, ada yang tertawa cekikikan, serta ada pula yang mencubit dan menggelitiknya. Namun, seluruh usaha berikut tetap saja sia-sia. Akhirnya, mereka kembali ke Kahyangan bersama perasaan kecewa.

Batara Guru yang jelas hal itu segera mengutus para dedemit untuk menakut-nakuti Arjuna. Namun, usaha yang mereka laksanakan termasuk gagal. Berita tetang kegagalan itu segera mereka laporkan kepada Batara Guru.

“Ampun, Batara Guru! Kami sudah mengusahakan bersama beragam cara, tapi Arjuna justru makin khusyuk dalam tapanya,” lapor keliru satu dedemit.

Mendengar laporan itu, Batara Guru cuma terdiam. Pemimpin para Dewa itu jadi jadi khawatir dan putus asa melihat tingkah laku Arjuna. Untungnya ia segera teringat kepada Dewa Ismaya yang tak lain adalah Batara Semar, pengasuh Pandawa yang tinggal di Bumi. Ia pun mengutus Batara Narada untuk menemui Semar di Bumi.

“Wahai, Semar! Aku berkunjung untuk menghendaki bantuanmu,” kata Batara Narada.

“Apa yang dapat aku bantu, Dewa Narada?” bertanya Semar.

Batara Narada pun menceritakan bahwa para Dewa di Kahyangan sedang dalam bahaya akibat tingkah laku Arjuna. Ia termasuk menceritakan bahwa sudah beragam cara yang sudah mereka laksanakan untuk menghentikan tapa Arjuna, tapi seluruhnya percuma belaka.

“Kamulah hanya satu harapan para Dewa di Kahyangan yang dapat membujuk Arjuna supaya segera mengakhiri tapanya,” ungkap Batara Narada.

“Baiklah, kalau begitu. Saya akan mengusahakan untuk menyadarkan Arjuna,” kata Semar menyanggupi.

Setelah Batara Narada kembali ke Kahyangan, Batara Semar menghendaki bantuan kepada Batara Togog untuk laksanakan tugas tersebut. Setibanya di lereng gunung tersebut, keduanya segera bersemadi untuk menaikkan kesaktian mereka. Setelah itu, mereka mengubah tubuh mereka menjadi besar dan kemudian berdiri di segi gunung yang berbeda. Dengan kesektiannya, mereka memotong gunung itu pas di tengah-tengahnya dan kemudian melemparkan anggota atas gunung itu ke arah tenggara. Begitu anggota atas gunung itu terjatuh ke tanah, terdengarlah nada dentuman yang benar-benar keras disertai bersama guncangan yang benar-benar dahsyat.

“Hai, nada apa itu?” gumam Arjuna yang terbangun berasal dari tapanya.

Baru saja Arjuna selesai berguman, tiba-tiba Batara Semar dan Batara Togo berkunjung menghampirinya.

“Kami sudah memotong dan melemparkan puncak gunung ini, Raden,” kata Batara Semar.

“Kenapa, Guru? Gara-gara nada itu aku terbangun berasal dari tapaku. Tentu para Dewa tidak akan menaikkan kesaktianku,” kata Arjuna.

“Maaf, Den! Justru tapamu itu sudah mengakibatkan para Dewa menjadi resah. Lagi pula, untuk bahkan kamu menghendaki banyak kesaktian? Bukankah sudah cukup bersama kesaktian yang sudah kamu miliki saat ini?” ujar Batara Semar.

“Benar kata Batara Semar, Den! Raden adalah seorang kesatria yang seharusnya miliki pembawaan rendah hati. Apakah Raden tidak jelas kalau tapa Raden ini dapat mencelakakan banyak orang dan para Dewa?” imbuh Batara Togog.

Mendengar nasehat tersebut, Arjuna menjadi jelas dan mengakui seluruh kesalahannya. Ia termasuk tidak lupa berterima kasih kepada Batara Semar dan Batara Togog dikarenakan sudah menyadarkannya. Setelah itu, mereka pun segera meninggalkan gunung tersebut.

Sejak itulah, gunung tempat Arjuna bertapa dinamakan Gunung Arjuna. Sementara itu, potongan gunung yang dilemparkan oleh Batara Semar dan Batara Togog dinamakan Gunung Wukir yang terdapat di tempat Batu. * * *

Demikian cerita Legenda Gunung Arjuna berasal dari tempat Malang, Jawa Timur. Pesan moral yang dapat dipetik berasal dari cerita di atas adalah bahwa pembawaan serakah merupakan pembawaan yang tidak terpuji. Sifat ini ditunjukkan oleh sikap dan tingkah laku Arjuna yang tidak pernah jadi senang bersama kesaktian yang dimilikinya. Karena kesekarahannya, Arjuna pun mendapat teguran berasal dari para Dewa.

Pesan moral lain yang dapat dipetik berasal dari cerita di atas adalah keutamaan pembawaan rela mengakui kesalahan sendiri sebagaimana yang ditunjukkan oleh Arjuna. Dengan segala kerendahan hati, ia tidak malu mengakui kesalahannya. Bahkan, ia tidak sungkan untuk berterima kasih kepada Batara Semar dan Batara Togog yang sudah menasehatinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *