Cerita Rakyat Karangsambung Legenda Gunung Wurung

Gunung Wurung adalah sebuah gunung yang terdapat di Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, Indonesia. Bentuk gunung ini lumayan unik, dikarenakan tingginya cuma berkisar 80 mtr. dan tidak punya puncak tertinggi. Menurut penduduk setempat, gunung ini dibuat oleh para dewa dari Kahyangan. Namun, mereka udah menghentikan pekerjaannya sebelum gunung itu selesai dibuat. Mengapa para dewa tidak selesaikan pembuatan gunung itu hingga tuntas? Kisahnya bisa Anda mengikuti dalam cerita Legenda Gunung Wurung berikut ini.

Cerita Rakyat Karangsambung Legenda Gunung Wurung

Alkisah, di sebuah tempat (yang saat ini masuk ke dalam wilayah Kecamatan Karangsambung), terkandung sebuah perkampungan kecil yang wilayahnya terdiri dari hamparan tanah datar. Tak satu pun gundukan tanah atau perbukitan yang terlihat di sekitarnya.

Di suatu malam yang sunyi senyap, para sesepuh kampung terlihat sedang berdoa kepada para dewa di Kahyangan. Dengan penuh khusyuk, mereka memohon sehingga dibuatkan sebuah gunung di dekat tempat tinggal mereka. Rupanya, doa mereka dikabulkan oleh para dewa. Pembuatan gunung itu akan dimulai besok harinya dan akan ditunaikan dalam selagi semalam. Tetapi bersama syarat, tak seorang pun warga yang boleh melihat terhadap selagi gunung itu dibuat.

Para sesepuh kampung menyanggupi persyaratan itu. Keesokan paginya, mereka menghimpun para warga untuk memberikan berita gembira dan persyaratan tersebut.

“Wahai, seluruh wargaku! Kami menghimbau kepada kalian seluruh sehingga terhadap selagi hari menjelang senja, masuklah ke dalam rumah kalian masing-masing dan tak seorang pun yang boleh terlihat rumah hingga matahari terbit besok pagi!” ujar seorang sesepuh kampung.

“Maaf, Tuan! Bencana apa yang akan melanda kampung kita? Kenapa kita dilarang terlihat rumah?” bertanya seorang warga bersama bingung.

“Ketahuilah, seluruh bahwa para dewa akan membuatkan sebuah gunung untuk kita dan tak seorang pun yang boleh melihat dikala mereka sedang bekerja,” mengerti seorang sesepuh kampung yang lain.

Setelah mendengar penjelasan itu, barulah para warga mengerti mengapa mereka dilarang terlihat rumah. Ketika hari menjelang senja, situasi kampung jadi sepi. Seluruh warga udah masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu rapat-rapat. Tak berapa lama kemudian, para dewa pun turun dari Kahyangan untuk jadi bekerja membangun sebuah gunung di tempat hulu kampung. Mula-mula mereka membangun tiang-tiang yang kokoh.

Setelah separuh malam bekerja, para dewa udah selesai membangun tiang-tiang tersebut. Tiang-tiang berikut sesudah itu mereka timbuni bersama tanah hingga nantinya membentuk sebuah gunung. Para dewa bekerja sesuai bersama tugas masing-masing tanpa berkata sepatah kata pun. Mereka tetap bekerja hingga larut malam tanpa mengenal lelah.

Ketika hari menjelang pagi, pembuatan gunung itu hampir selesai, tinggal selesaikan penimbunannya yang tersisa sedikit lagi. Pada selagi para dewa masih repot bekerja, tiba-tiba dari arah kampung seorang gadis berlangsung menuju ke luk ulo (sungai) yang berada di lebih kurang tempat pembuatan gunung tersebut. Rupanya, gadis itu tidak mengerti pengumuman berkenaan larangan terlihat rumah terhadap malam itu. Sebab, terhadap selagi pengumuman itu disampaikan oleh salah seorang sesepuh kampung, ia tidak hadir dan tak seorang pun warga yang memberitahu berkenaan perihal itu.

Gadis itu berkunjung ke sungai dikarenakan menginginkan membersihkan beras untuk dimasak. Ia berlangsung tanpa perhatikan situasi di sekelilingnya dikarenakan situasi masih gelap. Pada selagi akan turun ke sungai, gadis itu terperanjat dikarenakan tiba-tiba di hadapannya ada sebuah bukit.

“Hah, kenapa tiba-tiba ada bukit di tempat ini? Padahal, hari-hari pada mulanya tempat ini masih datar? Ya Tuhan, mimpikah aku ini?” gumam gadis itu seolah tidak percaya terhadap apa yang dilihatnya.

Namun, begitu melihat beberapa sosok makhluk yang menyeramkan bergerak cepat sambil mengangkat batu besar tanpa sepatah kata pun, gadis itu segera berlari meninggalkan sungai dikarenakan ketakutan.

“Tolooong… Tolooong… Tolong aku!” teriaknya bersama keras.

Gadis itu tetap berlari tanpa memperdulikan lagi situasi dirinya sehingga beras yang hendak dicucinya dilemparkan begitu saja. Tak ayal lagi, beras berikut berceceran di lebih kurang bukit. Konon, beras berikut menjelma menjadi bebatuan yang bentuknya sama bersama beras.

Para dewa yang mendengar suara teriakan gadis itu menjadi tersentak. Mereka pun mengerti bahwa ternyata pekerjaan mereka udah disaksikan oleh manusia.

“Penduduk kampung udah melanggar perjanjian kita. Ayo kita tinggalkan tempat ini!” seru salah satu dewa kepada dewa yang lainnya.

Akhirnya, para dewa berikut menghentikan pekerjaannya. Mereka meninggalkan tempat itu dan bergegas lagi ke Kahyangan. Padahal, pembangunan gunung itu belum selesai. Akhirnya, batallah pembuatan gunung itu.

Demikianlah cerita Legenda Gunung Wurung dari tempat Kebumen, Jawa Tengah. Masyarakat setempat menamainya “Gunung Wurung” dikarenakan berpikiran gunung berikut belum menjadi atau belum selesai. Kata wurung dalam bahasa Jawa berarti belum menjadi atau batal. Secara geologis, Gunung Wurung terbentuk dari batuan intrusi, materi batuan yang pada mulanya berbentuk bahan cair, pijar, dan panas berasal dari magma di perut bumi yang hendak menerobos permukaan, tetapi terlanjur membeku sebelum terlihat ke permukaan. Sedangkan batuan berwarna yang sama bersama beras disebut bersama batu diabas.

Dengan membaca cerita ini, setidaknya kita udah mengerti mengapa Gunung Wurung berbentuk demikianlah (hanya separuh), dikarenakan pembangunannya tidak diselesaikan oleh para dewa, sebagaimana yang diyakini oleh empunya cerita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *