Cerita Rakyat Jawa Barat Legenda Karang Nini dan Bale Kambang

Karang Nini dan Bale Kambang adalah sebuah cerita rakyat yang udah melegenda di kalangan penduduk Desa Emplak, Kecamatan Kalipucang, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Keberadaan sepasang batu karang yang biasa disebut Karang Nini dan Bale Kambang di kurang lebih Pantai Karang Nini merupakan bukti berasal dari cerita legenda ini. Bagaimana kisah ke-2 batu karang di pantai tersebut? Ikuti kisahnya dalam cerita Legenda Karang Nini dan Bale Kambang berikut ini!

Cerita Rakyat Jawa Barat Legenda Karang Nini dan Bale Kambang

Di Desa Karangtunjang atau yang kini bernama Desa Emplak, Jawa Barat, hiduplah sepasang suami istri bernama Aki[1] Ambu Kolot dan Nini[2] Arga Piara. Sudah puluhan th. mereka menikah, tapi belum juga dikaruniai momongan. Meskipun demikian, pasangan suami istri berikut selalu hidup rukun dan damai. Mereka saling menyayangi satu mirip lain. Untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya, Aki Ambu Kolot tiap tiap hari menjelang malam pergi ke laut memancing ikan dan baru pulang terhadap esok harinya. Hasil tangkapannya dijual ke pasar atau ditukar bersama dengan kebutuhan hidup lainnya. Jika mendapatkan hasil tangkapannya melimpah, beberapa dibuat ikan asin oleh Nini Arga Piara.

Suatu sore, Aki Ambu sedang bersiap-siap untuk berangkat ke laut. Namun, sore itu Aki Ambu itu terlihat lemas gara-gara masuk angin. Meskipun demikian, ia selalu bertekad berangkat ke laut. Sementara itu, Nini Arga yang menyaksikan keadaan suaminya seperti itu mengupayakan menasehati agar mengurungkan niatnya.

“Aki, sebaiknya Aki beristirahat saja pernah di rumah. Bukankah Aki sedang tidak sedap badan?” ujar Nini Arga.

Tidak apa-apa, Ni. Kalau Aki tidak memancing satu hari saja, badan Aki jadi pegal-pegal. Lagipula, persediaan makanan untuk besok juga udah habis,” jawab Aki Ambu bersama dengan nada sedikit parau.

Bagi Nini, alasan suaminya berikut sesungguhnya masuk akal. Jika sang suami tidak berangkat pasti besok mereka bakal kelaparan. Dengan pertimbangan itu, maka ia pun merelakan suaminya pergi melaut.

“Baiklah, Ki. Tapi, janganlah amat memaksakan tenaganya. Jika udah capai, cepatlah pulang,” ujar Nini Arga bersama dengan perhatian.

“Baik, Ni. Aki bakal segera pulang terkecuali udah mendapatkan ikan yang cukup untuk persediaan besok,” kata Aki Ambu seraya mengecup kening sang istri tercinta.

Usai berpamitan, Aki Ambu pun berangkat memancing bersama dengan memanfaatkan perahu. Setiba di sedang laut, kakek yang usianya jadi renta itu segera melemparkan kailnya yang udah diberi umpan ke dalam air. Dengan sabar, ia menunggu kailnya sambil bersiul-siul. Hari udah gelap, tapi belum seekor ikan pun yang menyentuh umpannya. Oleh gara-gara itu, ia sesekali mengayuh perahunya ke area lain bersama dengan harapan segera mendapatkan ikan. Tapi, sampai larut malam, ia belum juga mendapatkan hasil.

Tak terasa, hari udah menjelang pagi. Ayam jantan udah jadi berkokok bersahut-sahutan. Nini Arga yang menunggu di tempat tinggal cepat-cepat bangun untuk mempersiapkan sarapan untuk suaminya yang tidak lama kembali bakal kembali berasal dari melaut. Tak berapa lama kemudian, hidangan sarapan udah siap. Namun, Aki Ambun belum juga pulang.

“Hari udah pagi, tapi kenapa Aki belum pulang juga?” gumam Nini Arga bersama dengan cemas, “Tidak biasanya Aki pulang sampai siang begini.”

“Ah, barangkali Aki ketiduran di atas perahunya gara-gara kecapaian,” gumamnya kembali mengupayakan menepis perasaan risau di dalam hatinya.

Sambil menunggu kepulangan suaminya, Nini Arga mengerjakan pekerjaan tempat tinggal lainnya seperti membereskan tempat tinggal dan mencuci pakaian. Hingga hari menjelang siang, suami yang dicintainya itu tak kunjung tiba. Nenek itu pun jadi risau dan gelisah. Hingga sore hari, Aki Ambun belum juga pulang. Akhirnya, Nini Arga memastikan untuk pergi mencarinya di kurang lebih pantai. Ia pun menyusuri pantai itu sampai larut malam, tapi sang suami belum juga ditemukannya. Meskipun demikian, nenek itu tidak putus asa. Ia pun melanjutkan pencarian terhadap esok harinya bersama dengan bersama dengan para warga. Sudah seharian mereka mencarinya ke mana-mana, tapi hasilnya selalu nihil. Akhirnya, seluruh warga kembali ke perkampungan. Maka tinggallah Nini Arga seorang diri di tepi pantai merenungi nasibnya sambil berdoa.

“Ya, Tuhan! Pertemukan kembali hamba bersama dengan suami hamba,” ucapnya bersama dengan khusyuk.

Rupanya, Tuhan Yang Mahakuasa mendengar doa Nini Arga. Tidak lama setelah ia berdoa, tiba-tiba sebuah batu karang yang mengambang terlihat di hadapannya. Bersamaan bersama dengan itu, Nini dikejutkan oleh sebuah nada gaib yang menyapanya.

“Ketahuilah, Nini. Batu karang yang mengambang di hadapanmu itu adalah penjelmaan Aki Ambun. Jadi, janganlah anda menghendaki Aki bakal kembali hidup bersamamu,” ujar nada gaib itu.

Betapa terkejut Nini Arga mendengar nada gaib itu. Ia amat tidak pernah mengira di awalnya terkecuali suami yang amat dicintainya bakal mengalami nasib seperti itu. Namun, ia menyadari bahwa seluruh itu udah jadi takdir berasal dari Tuhan Yang Mahakuasa. Ia pun naik duduk di atas batu karang itu sambil meneteskan air mata. Karena cinta kasih dan kesetiaannya kepada sang suami, Nini Arga kemudian turun berasal dari batu karang itu lalu duduk bersimpuh di hadapannya seraya berdoa agar dirinya diubah jadi batu karang seperti halnya Aki Ambu.

“Ya, Tuhan! Hamba amat mencintai Aki. Hamba inginkan selalu bersamanya. Ubahlah bentuk hamba jadi seperti Aki!” pinta Nini Arga sambil meneteskan air mata.

Tuhan Maha Mendengar dan Maha Mengetahui seluruh keluh kesah hambanya. Permintaan Nini Arga pun dikambulkannya. Langit tiba-tiba jadi gelap. Selang beberapa saat kemudian, petir pun menyambar-nyambar disertai hujan deras. Bersamaan bersama dengan itu, Nini Arga pun menjelma jadi batu yang menghadap ke arah batu karang perwujudan suaminya, Aki Ambu. Bentuk batu karang itu menyerupai bentuk tubuh si Nini. Oleh penduduk setempat, batu karang itu dinamai Karang Nini, tetapi batu karang penjelmaan Aki Ambu dinamai Bale Kambang, yang bermakna batu mengambang.

Sepasang batu batu karang yang berhadap-hadapan berikut selalu kokoh sampai berabad-abad lamanya. Namun, kurang lebih th. 1918, batu karang yang menyerupai bentuk Nini Arga itu tersambar petir sampai terputus. Hingga saat ini, ke-2 batu karang berikut masih mampu kami saksikan di kurang lebih pantai berikut yang kini dinamakan Pantai Karang Nini.

Demikian cerita Legenda Karang Nini dan Bale Kambang berasal dari Jawa Barat. Pesan ethical yang mampu diambil alih berasal dari cerita di atas untuk dijadikan suri teladan dalam kehidupan sehari-hari adalah cii-ciri setia seperti yang dimiliki oleh Nini Arga Piara. Sebagai seorang istri, ia selalu setia melayani suaminya bersama dengan baik dan penuh perhatian. Sifat setia ini jadi keliru satu sumber berasal dari lahirnya cii-ciri setia teman dan perasaan senasib. Karena kesetiaannya, Nini Arga Piara sudi mendampingi sang suami untuk selama-lamanya meskipun dalam bentuk batu karang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *