Cerita Rakyat Gunung Kelud 2020

Gunung Kelud merupakan sebuah gunung api yang terdapat di Kecamatan Ngancar, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, Indonesia. Meskipun telah puluhan kali meletus dan memakan relatif banyak korban jiwa sejak abad ke-15 sampai abad ke-20, gunung api ini menjadi keliru satu object wisata menarik di area itu sebab keindahan panorama alamnya. Gunung yang memiliki ketinggian 1.730 meter di atas permukaan laut ini makin menarik minat para pengunjung sebab setiap tanggal 23 Suro (penanggalan Jawa) penduduk setempat menggelar acara arung sesaji.

Pagelaran acara tersebut merupakan simbol Condro Sengkolo atau sebagai penolak bala berasal dari bencana akibat pengkhianatan cinta yang dijalankan oleh putri Kerajaan Majapahit terhadap seorang pemuda bernama Lembu Sura. Bagaimana penghianatan cinta itu terjadi?

Alkisah, di area Jawa Timur, ada seorang raja bernama Raja Brawijaya yang bertahta di Kerajaan Majapahit. Ia membawa seorang putri yang cantik jelita bernama Dyah Ayu Pusparani. Sang Putri memiliki keindahan tubuh yang terlampau memesona, kulitnya lembut bagai sutra, dan wajahnya elok berseri bagaikan bulan purnama. Sudah banyak pengeran mampir melamar, tetapi Prabu Brawijaya belum terima satu pun lamaran supaya tidak terjadi kecemburuan di pada pelamar yang lain. Di segi lain, penguasa Majapahit itu terhitung tidak dambakan menampik secara segera sebab risau mereka bakal menyerang kerajaannya.

Setelah berpikir keras, Prabu Brawijaya menemukan sebuah cara, yakni ia bakal mengadakan sayembara bahwa barang siapa yang sukses merentang busur sakti Kyai Garudayeksa dan mengangkat gong Kyai Sekardelima maka dialah yang berhak mempersunting putrinya. Ia memerintahkan para pengawalnya untuk menyampaikan pengumuman tersebut kepada seluruh rakyatnya, terhitung kepada para raja dan pangeran berasal dari kerajaan-kerajaan di sekitarnya.

Pada saat yang telah ditentukan, para peserta berasal dari berbagai negeri telah berkumpul di alun-alun (lapangan, halaman) istana Kerajaan. Prabu Brawijaya pun terlihat duduk di atas singgasananya dan didampingi oleh permaisuri dan putrinya. Setelah busur Kyai Garudyeksa dan gong Kyai Sekadelima disiapkan, Prabu Brawijaya segera memukul gong berarti acara dimulai. Satu persatu peserta sayembara mengeluarkan seluruh kesaktiannya untuk merentang busur dan mengangkat gong tersebut, tetapi tak seorang pun yang berhasil. Bahkan, tidak sedikit berasal dari mereka yang mendapat musibah. Ada yang patah tangannya sebab memaksakan diri merentang busur sakti itu, dan ada pula yang patah pinggangnya ketika mengangkat gong besar dan berat itu.

Ketika Prabu Brawijaya akang memukul gong untuk menutup sayembara itu, tiba-tiba datanglah seorang pemuda berkepala lembu hendak mengandu keberuntungan.

“Ampun, Gusti Prabu! Apakah hamba diperkenankan mengikuti sayembara ini?” pinta pemuda itu.

“Hai, pemuda aneh! Siapa namamu?” bertanya Prabu Brawijaya.

“Nama aku Lembu Sura,” jawab pemuda itu.

Prabu Brawijaya beranggapan bahwa pemuda itu tidak bakal bisa merentang busur sakti dan mengangkat gong besar itu. Ia pun mengizinkannya mengikuti sayembara itu sebagai peserta terakhir.

“Baiklah! Kamu boleh mengikuti sayembara ini,” ujar Prabu Brawijaya.

Lembu Sura pun menyanggupi kriteria itu. Dengan kesaktiannya, ia segera merentang busur Kyai Garudayaksa bersama mudah. Keberhasilan Lembu Sura itu diiringi oleh tepuk tangan para penonton yang terlampau meriah. Sementara itu, Putri Dyah Ayu Pusparani keluar cemas, sebab ia tidak dambakan bersuamikan manusia berkepala lembu (sapi).

Ketika Lembu Sura menghampiri gong Sekardelima, seluruh yang datang terlihat tegang, khususnya sang Putri. Ia terlampau berharap supaya Lembu Sura gagal melewat ujian kedua itu. Tanpa diduganya, pemuda berkepala lembu itu ternyata bisa mengangkat gong Sekardelima bersama mudah. Tepuk tangan penonton pun lagi bergema, namun Putri Dyah Ayu Purpasari hanya terdiam. Hatinya terlampau sedih dan dan kecewa.

“Aku tidak mau bersuami orang yang berkepala lembu,” seru sang Putri seraya berlari masuk ke dalam istana.

Mendengar ucapan putrinya itu, Prabu Brawijaya segera terkulai sebab telah mengecewakan putrinya. Namun sebagai seorang raja, ia wajib menepati janjinya untuk menjaga martabatnya. Dengan demikian, Putri Dyah Ayu Pusparani wajib terima Lembu Sura sebagai suaminya.

`Hadirin sekalian! Sesuai bersama janjiku, maka Lembu Sura yang telah memenangkan sayembara ini bakal kunikahkan bersama putriku!” seru Prabu Brawijaya.

Seluruh pesarta sayembara pun berlomba-lomba mengimbuhkan ucapan selamat kepada Lembu Sura. Sementara itu, di dalam istana, Putri Dyah Ayu Pusparani menangis tersedu-sedu meratapi nasibnya. Berhari-hari ia mengurung diri di dalam kamar. Ia tidak mau makan dan minum. Melihat tuannya sedang sedih, seorang Inang pengasuh berupaya membujuk dan menasehatinya.

“Ampun, Tuan Putri! Jika Tuan Putri tidak mau menikah bersama Lembu Sura, sebaiknya Tuan Putri segera mencari jalan keluar sebelum saat hari pernikahan itu tiba,” ujar Inang pengasuh.

Mendengar nasehat itu, sang Putri segera terkejut berasal dari area tidurnya.

“Benar terhitung katamu, Mak Inang! Kita wajib mencari akal supaya pernikahanku bersama orang yang berkepala lembu itu dibatalkan. Tapi, apa yang wajib kami lakukan? Apakah Mak Inang membawa usul?” bertanya sang Putri bingung.

Inang pengasuh hanya terdiam. Sejenak, keadaan menjadi hening. Setelah berpikir keras, akhirnya Inang pengasuh menemukan sebuah jalan keluar.

“Ampun, Tuan Putri! Bagaimana jika Tuan Putri berharap satu syarat yang lebih berat lagi kepada Lembu Sura?” usul Inang pengasuh.

“Apakah syarat itu, Mak Inang?” bertanya sang Putri penasaran.

“Mintalah kepada Lembu Sura supaya Tuan Putri dibuatkan sebuah sumur di puncak Gunung Kelud untuk area mandi kalian berdua setelah acara pernikahan selesai. Tapi, sumur itu wajib selesai dalam saat semalam,” usul Mak Inang.

Putri Dyah Ayu Pusparani pun terima usulan Inang pengasuh dan segera menyampaikannya kepada Lembu Sura. Tanpa berpikir panjang, Lembu Sura menyanggupi kriteria itu. Pada sore harinya, berangkatlah ia ke Gunung Kelud bersama keluarga istana, terhitung sang Putri.

Setibanya di Gunung Kelud, Lembu Sura jadi menggali tanah bersama pakai sepasang tanduknya. Dalam saat tidak berapa lama, ia telah menggali tanah lumayan dalam. Ketika malam makin larut, galian sumur itu makin dalam. Lembu Sura telah tidak terlihat lagi berasal dari bibir sumur. Melihat hal itu, Putri Dyah Ayu Pusparani makin panik. Ia pun mendesak ayahandanya supaya menggagalkan bisnis Lembu Sura membawa dampak sumur.

“Ayah! Apa yang wajib kami lakukan? Putri tidak mau menikah bersama Lembu Sura,” keluh sang Putri bersama bingung.

Prabu Brawijaya pun tidak dambakan mengecewakan putri kesayangannya untuk yang kedua kalinya. Setelah berpikir keras, akhirnya ia menemukan sebuah langkah untuk menghabisi nyawa Lembu Sura.

“Pengawal! Timbun sumur itu bersama tanah dan bebatuan besar!” seru Prabu Brawijaya.

Tak seorang pun pengawal yang berani membantah. Mereka segera laksanakan perintah rajanya. Lembu Sura yang berada di dalam sumur berteriak-teriak berharap tolong.

“Tolooong…! Tolooong…! Jangan timbun aku dalam sumur ini!” demikian teriakan Lemu Sura.

Para pengawal tidak mengacuhkan teriakan Lembu Suara. Mereka konsisten menimbun sumur itu bersama tanah dan bebatuan. Dalam saat sekejap, Lembu Sura telah terkubur di dalam sumur. Meski demikian, suaranya tetap terdengar berasal dari dalam sumur. Lembu Sura melontarkan sumpah kepada Prabu Brawijaya dan seluruh rakyat Kediri sebab sakit hati.

“Yoh, Kediri mbesuk bakal pethuk piwalesku sing makaping kaping yaiku Kediri bakal dadi kali, Blitar dadi latar, Tulungagung bakal dadi Kedung”.

(Wahai orang-orang Kediri, suatu saat bakal meraih balasanku yang terlampau besar. Kediri bakal menjadi sungai, Blitar bakal menjadi daratan, dan Tulungagung menjadi area perairan dalam).

Dalam sumpahnya, Lembu Sura berjanji bahwa setiap dua windu[1] sekali dia bakal mengakibatkan kerusakan seluruh wilayah kerajaan Prabu Brawijaya. Mendengar ancaman itu, Prabu Brawijaya dan seluruh rakyatnya menjadi ketakutan. Berbagai bisnis pun dijalankan untuk menangkal sumpah Lembu Sura tersebut. Ia memerintahkan para pengawalnya supaya membangun sebuah tanggul pengaman yang kokoh (kini telah berubah menjadi gunung bernama Gunung Pegat) dan menyelenggarakan selamatan yang disebut bersama larung sesaji. Meski demikian, sumpah Lembu Sura senantiasa terhitung terjadi. Setiap kali Gunung Kelud meletus, penduduk setempat berpikiran hal itu merupakan amukan Lembu Sura sebagai pembalasan dendam atas tindakan Prabu Brawijaya dan Putrinya.

* * *

Demikian kisah Legenda Gunung Kelud berasal dari area Kediri, Jawa Timur. Hingga saat ini, penduduk Kediri, khususnya penduduk Desa Sugih Waras, secara rutin (yaitu setiap tanggal 23 Syura) menyelenggarakan acara selamatan larung sesaji di sekitar kawah Gunung Kelud. Setidaknya ada dua pelajaran yang bisa dipetik berasal dari carita di atas yakni pertama bahwa hendaknya kami jangan puas pandang remeh kekuatan seseorang bersama hanya menyaksikan bentuk fisiknya sebab siapa mengira di balik seluruh itu tersimpan kekuatan yang luar biasa.

Pelajaran kedua yang bisa dipetik berasal dari cerita di atas adalah bahwa orang yang puas mengingkari janji layaknya Putri Dyah Ayu Pusparani dan Prabu Brawijaya bisa mendatangkan bencana kepada dirinya sendiri maupun orang lain. Meletusnya Gunung Kelud yang membawa dampak jatuhnya banyak korban jiwa merupakan akibat berasal dari ulah Prabu Brawijaya dan putrinya yang tidak menepati janjinya kepada Lembu Sura. Sifat puas mengingkari janji ini merupakan sifat tidak terpuji yang wajib dijauhi, sebab terhitung sifat orang-orang munafik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *