Cerita Rakyat Batu Bolemeta 2020

Waktu itu musim kemarau demikianlah berat. Para laki laki hampir putus asa, para perempuan sama saja. Mereka berlangsung jauh untuk sekadar mendapat air yang tak seberapa. Mereka tidak pernah lupa berdoa. Mereka termasuk tak sekali-kali malas berusaha. Tapi nampaknya usaha dan doa-doa mereka tertahan di udara.

Pada era yang sama, kudeta berlangsung di pusat kota. Junta militer tiba-tiba berkuasa. Diawali unjuk rasa ribuan massa menuntut penguasa lama hengkang berasal dari istana. Militer ada di pihak mereka dan tanpa adu senjata kekuasaan jatuh begitu saja. Dunia menyebut moment itu kudeta, tetapi massa berbicara itu daulat rakyat. Setelah penguasa lama terjungkal berasal dari kursinya, mereka tetap berunjuk rasa, meminta militer tanpa proyektil menyerahkan kuasa pada rakyat sipil. Militer tampaknya mengulur waktu, seakan hendak mengatur rancangan bagi berkuasanya junta.

Kabar datang berasal dari Ayikaka, hanya satu warga desa berasal dari generasinya yang pernah bekerja di kota. Ayikaka pergi ke kota atas kemauannya sendiri. Dan karena mesti menempuh jarak bermil-mil, dia mesti terampil dan tahan uji. Adat setempat melarang penduduk pindah ke kota, tetapi karena Ayikaka keras kepala, para tetua desa memberi tambahan syarat yang terkecuali mampu dipenuhi baru dia boleh pergi. Ayikaka mesti mencari dan membawa pulang Batu Bolemeta; batu yang di dalamnya mengandung air.

Cerita berkenaan Batu Bolemeta udah terdengar lebih berasal dari seribu th. lamanya. Konon pada era dewa-dewa masih kerap turun ke dunia, di kawasan itu ada sebentang sungai. Suatu ketika anak perempuan Bolemeta, pemimpin kawasan itu, dikabarkan hilang. Bolemeta mengerahkan semua pasukannya untuk mencari. Para penduduk termasuk tak berdiam diri, mereka berkeliling sampai tepi-tepi kawasan, menjelajah sampai perbatasan. Tapi putri Bolemeta tak termasuk ditemukan. Seluruh kawasan udah disusuri, terkecuali sungai itu. Timbul anggapan didalam diri Bolemeta, kemungkinan saja putrinya ada di sana, di didalam sungai itu.

Tapi tak kemungkinan mengerahkan pasukan untuk menyelam, sungai terlampau luas dan dalam. Dalam suasana berduka dan hampir putus asa, Bolemeta pergi ke puncak bukit tertinggi untuk meminta belas-kasih para dewa. Namun para dewa tak menampakkan muka. Sebagai gantinya kilat menyambar-nyambar, memercikkan api yang membakar pohonan dan belukar. Bolemeta jatuh pingsan dan ketika tersadar sebutir batu udah berada di genggaman. Batu itu berwarna ungu, permukaannya bening dan di dalamnya seperti ada lubang kecil.

Segera Bolemeta kembali ke rumahnya.

Atas arahan penasihat-penasihatnya, Bolemeta mengakibatkan pengumuman bahwa dia dapat mengeringkan air sungai peranan mencari putrinya. Pemimpin itu meminta restu penduduk. Hampir tak ada yang keberatan, demi ketenteraman hati sang pemimpin, apa saja dapat direlakan. Tapi ada satu orang yang mengemukakan kecemasan; terkecuali air sungai mengering mereka dapat kesulitan mengairi ladang dan sawah. Oleh yang lain orang ini dikecam, dianggap tak menghormati pimpinan. Bolemeta sendiri berjanji, setelah putrinya ditemukan, dia dapat mengembalikan air ke didalam sungai.

Para penduduk tak mampu menyadari bagaimana sungai yang luas dan didalam itu dapat dikeringkan. Ketika memandang pemimpin mereka menempatkan batu ungu di permukaan air dan pelan-pelan air berpusar dan terisap masuk ke didalam batu, mereka serentak berlutut, menundukkan kepala mencium tanah seperti orang menyembah. Mereka percaya, pemimpin mereka udah diberkati para dewa.

Air sungai baru habis setelah tujuh malam. Setiap orang lantas meluncur turun, berlangsung di basic sungai. Mereka terheran-heran, ke mana ikan-ikan, udang, kepiting, kerang, belut dan buaya? Apakah hewan-hewan itu ikut terisap ke didalam batu? Atau mereka udah pindah karena menyadari di sungai itu mereka tak kembali mampu berumah? Yang jelas, setelah disusuri berhari-hari, putri Bolemeta tetap tak ditemukan. Kesedihan bercampur amarah mengakibatkan sang pemimpin hilang kendali sekaligus lupa janji. Dilemparnya batu ungu ke bukit di mana pernah batu itu didapatkan.

Kekuasaan Bolemeta pelan-pelan runtuh. Kelompok-kelompok warga mengakibatkan gaduh, tak kembali patuh. Masalah-masalah menguak ke permukaan seperti biji menguak tanah. Karena sungai tak kembali penuh air, kawasan itu beralih kering-kerontang. Di musim penghujan air hanya sejengkal dan setiap datang musim kemarau warga menjadi risau oleh derita. Pertengkaran, perkelahian, bahkan perang antarkelompok mampu berlangsung setiap saat. Kawasan yang mula-mula aman-aman saja beralih menjadi berbahaya. Sampai sekarang, hanya sedikit yang masih bertahan tinggal dan yang sedikit itu bertahan bersama dengan alasan melindungi tanah moyang. Mereka yang tetap tinggal adalah mereka yang yakin bahwa kawasan itu dapat kembali sejahtera seandainya putri Bolemeta ditemukan.

Para penduduk tak mampu menyadari bagaimana sungai yang luas dan didalam itu dapat dikeringkan. Ketika memandang pemimpin mereka menempatkan batu ungu di permukaan air dan pelan-pelan air berpusar dan terisap masuk ke didalam batu, mereka serentak berlutut, menundukkan kepala mencium tanah seperti orang menyembah. Mereka percaya, pemimpin mereka udah diberkati para dewa.

Ayikaka terima syarat para tetua. Dia menempuh perjalanan jauh dan melelahkan untuk mencari Batu Bolemeta. Dia udah mendaki bukit paling tinggi, kawasan hutan yang tak pernah dirambah orang, tetapi Batu Bolemeta tak sukses ditemukan. Merasa telanjur payah, Ayikaka tak sedia pulang bersama dengan hampa tangan. Maka dikuatkannya pendirian, dia kembali berjalan, bukan untuk pulang, melainkan untuk melaksanakan rancangan pergi ke kota. Apa yang mesti dilaluinya ternyata sesungguhnya jauh lebih menyiksa. Panas yang memanggang, haus dan lapar, binatang-binatang liar yang setiap selagi mengancam. Untuk menjauhi perjumpaan tak sengaja bersama dengan penduduk, Ayikaka pilih jalan berbeda. Lebih jauh dan berbahaya, sampai ketika pada akhirnya dia sampai di gerbang kota tubuhnya udah tanpa tenaga.

Seorang saudagar menolongnya, lantas pada saudagar itulah dia bekerja, sebelum akan lantas di terima sebagai tentara. Waktu itu ibu kota sesungguhnya tengah butuh banyak tentara karena perang saudara, karena pemberontak berbiak di mana-mana. Ayikaka mampu posisi yang cukup tinggi, memimpin satu pasukan kecil untuk menghabisi para gerilyawan oposisi. Di kalangan rekan-rekannya, Ayikaka dianggap miliki mantra, karena setiap kali dapat melaksanakan operasi, ribuan kupu-kupu tentu datang menghampiri. Seperti pertanda bahwa kemenangan dapat berada di tangan mereka. Ayikaka sendiri yakin pada keajaiban itu dan memakai keyakinan rekan-rekannya untuk memompa mental dan tenaga pasukannya. Alhasil, pasukannya tak pernah gagal, para pemberontak menyusut jumlahnya dan terdesak di mana-mana. Sampai lantas krisis ekonomi terjadi, unjuk rasa dimulai, dan didalam tubuh militer berembus kabar santer, kubu tentara terbelah dua.

Ayikaka loyal pada pemimpin lama, pemimpin yang udah kehilangan jabatannya. Karena itu, diam-diam dia membebaskan tugas, tak kembali ke markas. Dia pulang ke desa kelahirannya, kawasan yang semakin miskin dan tertinggal.

Baca termasuk : Kita Butuh Lebih Banyak Kucing

”Ayikaka tak kembali bersama dengan tangan hampa,” katanya ketika tetua desa memanggilnya. Sebagian penduduk berkerumun di luar, penasaran bersama dengan kembalinya Ayikaka. ”Jadi, Ayikaka membawa Batu Bolemeta?” bertanya seorang tetua, orang yang bertahun selanjutnya memberi syarat bagi Ayikaka. Lalu Ayikaka bercerita berkenaan moment di ibu kota, tentu saja, para tetua tak mampu menyadari apa interaksi moment itu bersama dengan mereka. ”Untuk apa semua cerita itu bagi kita? Kami kira Ayikaka pulang bersama dengan Batu Bolemeta udah di genggaman,” ucap tetua yang lain bersama dengan nada bagai angin berpilin-pilin.

”Ayikaka sesungguhnya tidak membawa Batu Bolemeta. Tapi Ayikaka datang bersama dengan apa yang lebih berharga,” jawab Ayikaka. ”Apa itu gerangan. Tunjukkanlah pada kita sekarang.” Ayikaka selanjutnya menunjuk melalui jendela yang terbuka, ke arah barat, berasal dari mana ribuan kupu-kupu bergerak bagai arak-arakan kabilah. Semua tetua memandang ke arah barat. Ribuan kupu-kupu itu kian mendekat, semakin dekat sampai lantas menutupi pemandangan. Kupu-kupu merubung rumah-rumah, masuk melalui jendela dan pintu yang terbuka, termasuk melalui celah-celah atap yang menganga.

”Pertanda apa ini!”

”Tenang, tenanglah. Ini pertanda berasal dari dewa. Sebentar lagi, ada yang datang ke sini. Mereka dapat membawa kemakmuran bagi kita!” seru Ayikaka.

Beberapa selagi setelah ribuan kupu-kupu lewat, di luar, orang-orang berlarian sembari berseru-seru. Ayikaka dan para tetua segera keluar. Mereka memandang barisan kendaraan bergerak di jalan dusun yang kerontang. Debu naik ke udara seperti sisa-sisa harapan yang mengupayakan ditegakkan. Para penduduk masuk tempat tinggal dan diam-diam mengintip berasal dari celah-celah dinding. Barisan kendaraan berhenti di depan tempat tinggal tetua. Puluhan laki-laki turun. Mereka kelihatan sehat, kuat, dan bertubuh tegap. Di hadapan Ayikaka mereka memberi hormat bersama dengan menempatkan tangan di kepala. Ayikaka membalas. Lalu berasal dari salah satu kendaraan, orang paling akhir pun turun. Dia perempuan langsing bersama dengan rambut kuning. Ayikaka mengenalnya sebagai putri pemimpin yang digulingkan.

Perempuan itu mendekat, Ayikaka memberi hormat. Lalu kepada para tetua, dia berkata, ”Ini putri Bolemeta. Sekarang beliau udah kembali. Siapkanlah upacara, sehingga roh leluhur ikut bersukacita. Tak lama kembali kita dapat hidup sejahtera!”

Kekalik, 20 April 2019

***

Kiki Sulistyo lahir di Kota Ampenan, Lombok. Meraih Kusala Sastra Khatulistiwa untuk kumpulan puisi Di Ampenan, Apalagi yang Kau Cari? (Basabasi, 2017) dan buku puisi terbaik Tempo 2018 untuk Rawi Tanah Bakarti

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *