Cerita Rakyat Bangka Belitung 2020

Diceritakan ulang oleh Samsuni

Kepulauan Bangka-Belitung (Babel) adalah salah satu provinsi di Pulau Sumatera, Indonesia. Disebut kepulauan, karena wilayah provinsi ini terdiri dari lebih dari satu pulau. Salah satu di antaranya adalah Pulau Bangka, yang terdapat di sebelah timur Pulau Sumatera. Secara topografis, wilayah Pulau Bangka terdiri dari rawa-rawa, daratan rendah, dan perbukitan. Di area perbukitan terkandung hutan lebat, sedangkan terhadap area rawa terkandung hutan bakau.

Menurut sebuah cerita yang terlalu kondang di kalangan masyarakat Pulau Bangka, terhadap zaman dahulu di area perbukitan yang dihampari hutan lebat itu, pernah hidup seorang pemuda yatim-piatu yang miskin. Sehari-harinya, ia bekerja sebagai pemburu babi hutan. Suatu ketika, pemuda itu mendapat hadiah berwujud perhiasan emas, intan permata dan berlian dari seseorang supaya ia jadi kaya-raya. Apa sebetulnya yang udah dilaksanakan pemuda itu, supaya ia mendapat hadiah yang terlalu bernilai itu? Ingin th. jawabannya? Ikuti kisahnya di dalam cerita Si Penyumpit tersebut ini!

* * *

Alkisah, terhadap zaman dahulu kala, di sebuah area di Pulau Bangka, hiduplah seorang pemuda yang terlalu mahir menyumpit binatang buruan. Sumpitannya selalu tentang sasaran. Oleh karenanya, masyarakat memanggilnya si Penyumpit. Selain mahir menyumpit, ia juga pintar membuat sembuh berbagai macam penyakit. Bakat menyumpit dan membuat sembuh tersebut ia peroleh dari ayahnya.

Pada suatu hari, Pak Raje, Kepala Desa di kampung itu, meminta si Penyumpit untuk mengusir kawanan babi hutan yang udah mengakibatkan kerusakan tanaman padinya yang sedang berbuah, dengan dalih bahwa orang tua si Penyumpit sewaktu masih hidup pernah berhutang kepadanya. Demi membayar hutang orang tuanya, si Penyumpit mau bekerja terhadap Pak Raje.

Keesokan harinya, berangkatlah si Penyumpit ke ladang Pak Raje untuk melaksanakan tugas. Sesampainya di ladang, ia membakar kemenyan untuk memohon kepada dewa-dewa dan mentemau (dewa babi), supaya kawanan babi tersebut tidak mengakibatkan kerusakan tanaman padi Pak Raje. Si Penyumpit sesudah itu melaksanakan ronda dengan memantau semua sudut ladang hingga larut malam. Sudah tiga malam si Penyumpit meronda, tetapi belum nampak tanda-tanda yang mencurigakan. Meskipun keadaan aman, si Penyumpit terus berjaga-jaga.

Ketika memasuki malam ketujuh, dari kejauhan tampak oleh si Penyumpit tujuh kawanan babi hutan sedang beriring-iringan hendak memasuki ladang. Satu per satu babi hutan itu melompati pagar batu yang udah dibuat Pak Raje. Mengetahui perihal itu, si Penyumpit langsung bersembunyi di balik sebuah pohon besar dengan sumpit di tangan yang siap untuk digunakan. Ketika kawanan babi tersebut merasa mengobrak-abrik tanaman padi yang tak jauh dari pohon area ia bersembunyi, dengan hati-hati pemuda itu mengangkat sumpitnya, selanjutnya disumpitkannya ke arah babi yang paling dekat dengannya. Sumpitannya tepat mengenahi sisi sebelah kiri perut babi itu. Sesaat kemudian, kawanan babi itu tiba-tiba menghilang dengan dengan anak sumpitnya. Melihat peristiwa aneh itu, si Penyumpit jadi penasaran.

Keesokan harinya, si Penyumpit menyusuri ceceran darah hingga ke sedang hutan. Sesampainya di sedang hutan, ia mendapatkan sebuah gua yang di sekelilingnya ditumbuhi semak-belukar. Dengan hati-hati, pemuda itu memasuki gua tersebut. Sesampainya di dalam, ia terlalu terkejut, karena menyaksikan seorang putri yang tergeletak di atas pembaringan yang dikelilingi oleh wanita-wanita cantik. Salah seorang dari wanita tersebut adalah ibu sang Putri.

“Hai, anak muda! Engkau siapa?” bertanya ibu sang putri.

“Saya si Penyumpit,” jawab si pemuda dengan ramah.

“Ada kudu apa Engkau ke sini?” bertanya ibu sang putri dengan suara menyelidik.

“Saya sedang mencari anak sumpit aku yang hilang dengan dengan seekor babi hutan,” jawabnya.

“Benda yang engkau cari itu ada terhadap putriku,” kata ibu sang putri.

“Bagaimana dapat anak sumpit aku ada terhadap putri Bibi?” bertanya si Penyumpit heran.

“Ketahuilah, anak muda! Babi yang engkau sumpit itu adalah penjelmaan putriku,’ jelas ibu sang putri.

Si Penyumpit terlalu kaget mendengar penjelasan ibu sang putri.

“Jadi…, kalian adalah babi jadi-jadian?” bertanya si Penyumpit dengan heran.

“Benar, anak muda,” jawab ibu sang putri.

“Kalau begitu, aku minta maaf, karena tidak jelas perihal itu,” kata si Penyumpit dengan rasa menyesal.

“Sudahlah, anak muda. Lupakan saja semua kejadian itu. Yang penting saat ini adalah bagaimana membiarkan benda ini dari perut putriku,” kata ibu sang putri.

“Baiklah. Saya bakal membiarkan anak sumpit itu dan membuat sembuh luka putri bibi. Tolong aku dicarikan lebih dari satu helai daun keremunting[1] dan tumbuklah hingga halus,” pinta si Penyumpit.

Untuk memenuhi permintaan itu, ibu sang putri langsung memerintahkan lebih dari satu dayangnya untuk mencari daun keremunting yang banyak terkandung di kira-kira mereka. Tak berapa lama, dayang-dayang tersebut udah ulang dengan membawa daun yang dimaksud. Setelah yang diperlukan disiapkan, si Penyumpit mendekati gadis cantik yang sedang terbaring lemas itu, selanjutnya membuka selimut yang menutupi tubuhnya. Tampaklah sebuah benda runcing yang menancap di perut sang putri, yang tidak lain adalah mata sumpit miliknya. Sambil mulutnya komat-kamit membaca mantra, si Penyumpit mencabut mata sumpit itu dengan pelan-pelan. Setelah mata sumpit terlepas, bekas luka tersebut sesudah itu ditutupinya dengan daun keremunting yang udah dihaluskan untuk mencegah cucuran darah yang keluar.

Beberapa waktu kemudian, luka sang putri pulih dan tidak meninggalkan bekas luka sedikit pun.

“Sekarang putri Bibi udah sembuh. Izinkanlah aku mohon diri,” pamit pemuda itu dengan sopan.

“Baiklah, anak muda! Ini ada oleh-oleh sebagai ucapan menerima kasih kami, karena engkau udah membuat sembuh putriku. Bungkusan ini berisi kunyit, buah nyatoh,[2] daun simpur,[3] dan buah jering.[4] Tapi, bungkusan ini jangan diakses sebelum saat engkau hingga di rumah,” pesan ibu sang putri.

“Baik, Bi!” jawab pemuda itu, selanjutnya pergi meninggalkan gua.

Setibanya di rumah, si Penyumpit langsung membuka bungkusan tersebut. Alangkah terkejutnya ia, karena mengisi bungkusan itu tidak layaknya yang disebutkan ibu sang putri. Bungkusan itu ternyata berisi perhiasan berwujud emas, berlian, dan intan permata.

“Waw…, bernilai sekali benda ini!” bertanya si Penyumpit dengan rasa kagum.

“Dengan benda ini, aku bakal jadi kaya-raya,” gumamnya dengan perasaan gembira.

Keesokan harinya, si Penyumpit pergi menjajakan semua benda bernilai itu kepada seorang saudagar kaya di kampung itu. Hasil penjualannya ia mengfungsikan untuk membeli ladang yang luas, tempat tinggal mewah, dan melunasi semua hutang ayahnya kepada Pak Raje.

Sejak itu, tersiarlah kabar bahwa si Penyumpit udah jadi kaya-raya. Berita itu juga didengar oleh Pak Raje. Ia pun berniat untuk mengikuti jejak si Penyumpit. Suatu hari, Pak Raje meminjam sumpit pemuda itu dan sesudah itu pergi berburu babi hutan di ladang miliknya. Dalam perburuannya, ia sukses menyumpit seekor babi. Setelah itu ia mengikuti jejak dan mendapatkan babi hutan itu, yang ternyata penjelmaan sang putri. Pak Raje berusaha membuat sembuh luka yang diderita oleh sang Putri, tetapi tidak sukses karena ia tidak punya keahlian membuat sembuh penyakit. Akhirnya, ia diserang berpuluh-puluh babi hutan. Dengan tubuh yang penuh luka-luka, ia berlangsung sempoyongan pulang ke rumahnya. Sesampainya di rumah, Pak Raje langsung tergeletak tidak sadarkan diri, karena tidak tahan ulang mencegah rasa sakit.

Putri sulung Pak Raje langsung menyampaikan nasib malang yang menimpa ayahnya itu kepada si Penyumpit. Mendengar kabar itu, si Penyumpit langsung ke tempat tinggal Pak Raje untuk menolongnya. Si Penyumpit sesudah itu membuat sembuh Pak Raje dengan 7 helai daun. Setelah itu ia membakar kemenyan, selanjutnya menyebut satu per satu bagian tubuh Pak Raje, layaknya tangan, kaki, kepala, dan lain-lain. Terakhir, ia menyebut nama Pak Raje. Ketika asap kemenyan itu mengepul, di Penyumpit sesudah itu membaca mantera. Tak lama kemudian, tampak jari tangan Pak Raje bergerak-gerak. Dengan pelan-pelan ia mengusap-usap matanya hingga tiga kali. Akhirnya, Pak Raje sadarkan diri dan pulih dari penyakitnya.

Setelah itu Pak Raje insaf (sadar) dan mengakui semua kesalahannya kepada si Penyumpit.

“Terima kasih, Penyumpit! Kamu udah membuat sembuh penyakitku. Aku minta maaf karena udah memaksamu melindungi ladangku. Untuk menebus kesalahanku ini, aku bakal menikahkanmu dengan putri bungsuku. Setelah itu, aku bakal mengangkatmu jadi Kepala Desa untuk menggantikanku. Bersediakah kamu menerima tawaranku ini, wahai Penyumpit?” bertanya Pak Raje.

“Terima kasih, Pak Raje! Dengan puas hati, aku bersedia,” jawab si Penyumpit.

“Baiklah jika begitu. Berita gembira ini bakal langsung aku sampaikan kepada semua warga kampung ini,” kata Pak Raje.

Satu minggu kemudian, pernikahan si Penyumpit dengan putri bungsu Pak Raje dilangsungkan dengan meriah. Berbagai macam seni pertunjukan ditampilkan di dalam acara tersebut. Pak Raje dengan keluarganya beserta semua warga desa ikut bergembira atas pernikahan itu. Di akhir acara, Pak Raje menyerahkan jabatannya sebagai Kepala Desa kepada menantunya yang baik hati itu. Sepasang insan yang baru jadi suami-istri itu hidup berbahagia. Warganya pun hidup tentram dan damai di bawah perintah Kepala Desa yang baru, si Penyumpit.

* * *

Demikian cerita rakyat Si Penyumpit dari Pulau Bangka, Kepulauan Bangka-Belitung. Cerita di atas memiliki kandungan pesan-pesan moral yang dapat dijadikan sebagai pedoman di dalam kehidupan sehari-hari. Sedikitnya ada dua pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas, yaitu cii-ciri puas menolong dan pintar membalas budi.

Pertama, cii-ciri puas menolong. Sifat ini tercermin terhadap tingkah laku si Penyumpit yang udah membuat sembuh penyakit sang Putri dan Pak Raje. Sifat ini juga cii-ciri yang terpuji dan terlalu diutamakan di dalam kehidupan orang Melayu, sebagaimana dikatakan di dalam untaian syair tersebut ini:

wahai ananda dengarlah manat,

tulus dan ikhlas jadikan azimat

berkorban menolong sesama umat

semoga hidupmu meraih rahmat

Kedua, cii-ciri pintar berbalas budi. Sifat ini tercermin terhadap sikap ibu sang Putri yang udah mengimbuhkan hadiah kepada si Penyumpit berwujud perhiasan emas, intan dan berlian, karena udah membuat sembuh penyakit putrinya. Demikian pula, Pak Raje yang udah menikahkan putri bungsunya dengan si Penyumpit, karena udah membuat sembuh penyakitnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *