Cerita Legenda Gunung Bromo Jawa Timur 2020

Legenda Tengger kami sajikan di malam ini supaya adik-adik tahu asal mula tidak benar satu keyakinan masyarakat Jawa Timur.

Kepercayaan turun termurun ini berupa upacara persembahan tiap tiap tahun pada tanggal 14 Kasada (bulan ke dua belas kalender Tengger).

Penasaran dengan asal muasal upacara ini? Yuk kami mengikuti ceritanya hingga selesai.
Legenda Tengger (Gunung Bromo) Cerita Rakyat dari Jawa Timur

Ratusan tahun yang lalu, pada jaman pemerintahan raja terakhir Majapahit, Brawijaya, kondisi begitu tidak menentu karena berkembangnya agama baru, Islam.

Pada pas itu, ratu melahirkan seorang bayi perempuan dan diberi nama Roro Anteng, sesudah itu sang putri menikah dengan Joko Seger, seorang dari Kasta Brahma.

Karena pengaruh agama baru begitu kuat supaya menyebabkan kekacauan.
Kisah Inspiratif Islam Singkat

Raja dan pengikutnya terpaksa mundur ke wilayah timur, lebih dari satu hingga di Bali dan lebih dari satu hingga di gunung berapi.

Pasangan suami istri baru, Roro Anteng dan Joko Seger terhitung join dengan grup yang pergi ke gunung berapi.
Legenda Tengger Gunung Bromo Cerita Rakyat Jawa Timur
Legenda Tengger Gunung Bromo Cerita Rakyat Jawa Timur

Kemudian mereka menguasai area gunung berapi dan menamakannya Tengger.

Kata Tengger berasal dari Roro Anteng dan Joko Seger. Kemudian ia menamai dirinya dengan nama Purba Wasesa Mangkurat Ing Tengger yang bermakna penguasa Tengger yang saleh.

Bertahun-tahun sejalan dengan berkembangnya wilayah yang makmur, Raja dan Ratu merasa tidak bahagia karena mereka tidak mempunyai anak untuk mengambil alih tahta mereka.

Dalam keputusasaan mereka, mereka menentukan untuk mendaki puncak gunung berapi untuk berdoa dan memohon di hadapan Para Dewa.

Dalam kondisi meditasi pasangan itu mendengar nada gemuruh dan kawah panas terangkat secara ajaib disertai dengan petir emas.

Doa mereka didengar oleh Para Dewa dan bakal memberi mereka anak-anak, tetapi mereka kudu mengorbankan anak terakhir mereka sebagai imbalan.

Itu adalah jaman depan yang menjanjikan yang tidak dapat disangkal.

Tak lama kemudian, lahirlah bayi laki-laki pertama dan Roro Anteng menamainya Tumenggung Klewung.

Anak demi anak lahir sepanjang bertahun-tahun dan jumlahnya menggapai 25 orang yang diberi nama Kesuma untuk anak terakhirnya.

Roro Anteng dan Joko Seger terlalu bahagia karena cinta dan kasih sayang diberikan kepada anak-anak mereka.

Kebahagiaan bertahan sepanjang bertahun-tahun, tetapi perasaan khawatir dan sedih masih menghantui mereka karena janji mereka bakal minta suatu hari.

Mereka tahu bahwa mereka tidak dapat lari dari kenyataan.

HAri itupun tiba, Para Dewa mengingatkan mereka perihal janji mereka yang tidak dapat dihindari.

Karena mereka merasakan betapa kejamnya mengorbankan anak kesayangan mereka, mereka menentukan untuk mengingkari janji mereka dengan tidak mempersembahkannya kepada Para Dewa.

Mereka mempunyai pergi anak-anak mereka untuk menyelamatkan anak terakhir mereka dari persembahan.

Mereka coba melacak area untuk bersembunyi, tetapi mereka tidak dapat menemukannya.

Tiba-tiba, letusan gunung berapi yang mengerikan mengikuti ke mana mereka pergi dan secara ajaib Kesuma, anak terakhir tercinta ditelan ke didalam kawah.

Pada pas yang mirip ketika Kesuma menghilang dari pandangan mereka, nada gemuruh berkurang dan keheningan yang aneh untuk lebih dari satu pas tetapi sebuah nada tiba-tiba bergema:

“Hai, saudara-saudaraku tercinta. Aku dikorbankan untuk kembali ke Dewa Hyang Widi Wasa untuk menyelamatkan kalian semua. Dan apa yang aku menginginkan didalam damai dan hidup sejahtera. Jangan lupa untuk mengatur gotong royong di antara Kalian dan menyembah Para Dewa konsisten untuk mengatur upacara persembahan tiap tiap tahun pada tanggal 14 Kasada (bulan ke dua belas kalender Tengger) pada bulan purnama. Demi Tuhanmu. Hyang Widi Wasa.”

Oleh karena itu Kakak dan adik Kesuma mengadakan upacara persembahan tiap tiap tahun cocok dengan nasehat Kesuma dan diadakan dari generasi ke generasi hingga sekarang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *