Cerira Rakyat Legenda Asal Mula Selat Bali

Selat Bali adalah sebuah selat yang mengantarai Pulau Jawa dan Pulau Bali. Menurut cerita, kedua pulau berikut dulunya merupakan kesatuan daratan, yang kemudian terpisah sebab sebuah moment ajaib yang pernah berjalan di area itu. Peristiwa apakah yang membawa dampak terjadinya Selat Bali? Ikuti kisahnya di dalam cerita Legenda Asal Mula Selat Bali berikut ini!

Cerira Rakyat Legenda Asal Mula Selat Bali

Alkisah, di Kerajaan Daha, Kediri, Jawa Timur, hiduplah seorang brahamana (pendeta) yang bernama Empu Sidi Mantra. Ia seorang pendeta yang kaya raya dan terkenal sakti mandraguna. Selain itu, ia juga miliki seorang istri yang cantik jelita dan seorang putra yang gagah dan tanpan bernama Manik Angkeran. Meski demikian, pendeta itu tidak sanggup hidup tenang dan bahagia, sebab anak semata wayangnya, Manik Angkeran, miliki pembawaan tidak terpuji, yaitu gemar berjudi. Ia selalu mempertaruhkan harta kekayaan orang tuanya dan berhutang kepada orang lain saat kalah berjudi. Hal inilah yang membawa dampak Empu Sidi Mantra dan istrinya mulai resah, sebab nyaris tiap tiap hari orang-orang berkunjung ke rumahnya untuk menagih hutang putranya. Keadaan berikut berjalan sampai bertahun-tahun, agar lambat-laun harta kekayaan sang Empu terkuras habis.

Pada suatu sore, Manik Angkeran pulang ke rumahnya bersama dengan nafas tersengal-sengal.

“Bapa, Ibu! Tolong aku!” seru Manik Angkeran.

“Ada apa, Putraku? Apa yang berjalan denganmu?” bertanya ibunya bersama dengan perasaan cemas.

“A…a… aku dikejar-kejar orang, Bu!” jawab Manik Angkeran bersama dengan nafas yang masih terengah-engah.

“Hmm… kamu pasti kalah berjudi ulang ya!” timpa bapanya.

“Iya, Bapa! Aku kalah berjudi dan tidak sanggup membayar taruhan. Tolong aku, Bapa! Mereka menginginkan membunuhku,” Manik Angkeran mengiba kepada bapanya.

Tak berapa lama kemudian, datanglah beberapa orang pemuda mempunyai golok. Mereka berteriak-teriak di depan rumah menyuruh Manik Angkeran keluar.

“Hai, Manik Angkeran! Keluar dan bayarlah hutangmu!” teriak tidak benar seorang pemuda sambil mengacung-acungkan goloknya.

Manik Angkeran pun makin lama ketakutan. Ia langsung masuk ke kamarnya untuk bersembunyi. Sementara itu, bersama dengan tenangnya, Empu Sidi Mantra langsung menemui para pemuda yang berdiri di depan rumahnya.

“Tenang, wahai Anak Muda! Percayalah, aku dapat membayar seluruh hutang putraku. Tapi, berilah aku waktu tiga hari untuk mencari uang dulu,” pinta Empu Sidi Mantra.

“Baiklah, Empu! Kami menerima permohonan Empu. Tiga hari lagi, kita dapat ulang kemari untuk menagih janji Empu,” kata tidak benar seorang pemuda, selanjutnya membubarkan diri bersama dengan teman-temannya.

Pada malam harinya, Empu Sidi Mantra berdoa untuk memohon dukungan kepada Tuhan Yang Mahakuasa. Saat tengah malam, tiba-tiba ia mendengar nada bisikan yang benar-benar memahami di telinganya.

“Hai, Sidi Mantra! Pergilah ke kawah Gunung Agung! Di sana ada harta karun yang dijaga oleh seekor naga bernama Naga Besukih,” demikian nada bisikan itu.

Keesokan harinya, berangkatlah Empu Sidi Mantra itu ke kawah Gunung Agung. Setelah berjalan cukup jauh bersama dengan bermacam rintangan, sampailah ia di area tersebut. Ia pun duduk bersila sambil membunyikan genta (lonceng) saktinya seraya mulutnya komat-kamit menyebut nama Naga Besukih. Tak berapa lama kemudian, naga itu pun keluar dari area persembunyiannya.

“Hai, kisanak! Kamu siapa dan ada apa kamu memanggilku?” bertanya Naga Besukih itu.

“Saya Empu Sidi Mantra dari Tanah Jambudwiba. Maksud kedatangan aku kemari untuk menghendaki bantuanmu,” kata Empu Sidi Mantra.

“Apa yang sanggup kubantu, hai Mpu? Katakanlah!” seru Naga Besukih.

Empu Sidi Mantra pun mengungkapkan maksud kedatangannya. Karena mulai iba, Naga Besukih langsung menggeliatkan tubuhnya. Seketika itu pula, emas dan berlian pun berhamburan keluar dari balik sisiknya.

“Bawalah emas dan intan ini Mpu! Semoga cukup untuk membayar hutang-hutang putramu. Tapi, ingat! Jangan lupa untuk menasehati putramu agar dia sudi memengaruhi perilakunya!” seru sang Naga.

“Baik, Naga! Terima kasih atas bantuannya,” ucap Empu Sidi Mantra.

Setelah mengambil alih seluruh perhiasan emas dan intan tersebut, Empu Sidi berpamitan kepada sang Naga. Setibanya di rumah, ia langsung memanggil putranya.

“Wahai, putraku Manik Angkeran! Bapa dapat beri tambahan seluruh emas dan intan ini kepadamu, tapi bersama dengan satu syarat, kamu kudu berjanji untuk tidak berjudi lagi,” ujar Empu Sidi Mantra.

‘Baik, Bapa! Manik berjanji untuk tidak berjudi lagi,” ucap Manik Angkeran.

Empu Sidi Mantra pun percaya begitu saja pada ucapan putranya. Akhirnya, ia menyerahkan seluruh perhiasan emas dan intan berikut kepada putranya. Dengan perasaan puas dan gembira, Manik Angkeran langsung menjual seluruh perhiasan emas dan intan tersebut. Setelah itu, ia pergi membayar hutang-hutangnya. Ternyata, uang hasil penjualan emas dan intan berikut tidak habis digunakan untuk melunasi seluruh hutangnya. Melihat kuantitas uang yang masih tersisa begitu banyak, pada akhirnya ia pun tergiur untuk ulang bermain judi. Dengan uang itu, ia menghendaki dapat menang dan meraih uang yang lebih banyak lagi. Tapi, nasib berbicara lain, ia kalah berjudi dan uangnya pun habis. Bahkan, ia ulang dililit hutang. Akhirnya, ia ulang ke rumahnya bersama dengan wajah lesu.

“Bapa! Aku udah membayar seluruh hutangku kepada mereka,” kata Manik Angkeran bersama dengan nada lemas.

“Ya, baguslah terkecuali begitu! Tapi, kenapa wajahmu nampak kusut begitu?” bertanya bapanya heran.

“Maafkan aku, Bapa! Tadi aku bermain judi dan berhutang lagi,” jawab Manik Angkeran sambil menundukkan kepalanya.

“Apa katamu! Dasar anak keras kepala, tidak sudi mendengar nasehat orang tua!” bentak bapanya.

“Maafkan aku, Bapa! Tolong bantu aku sekali ini saja, Bapa!” Manik Angkeran mengiba di hadapan ayahnya.

“Tidak! Bapa tidak sanggup membantumu lagi. Bayar sendiri hutang-hutangmu itu!” seru bapanya bersama dengan wajah memerah.

Manik Angkeran pun tidak sanggup berbuat apa-apa. Ia kebingungan mencari langkah untuk membayar hutang-hutangnya. Di tengah kebingungannya, tiba-tiba ia teringat bahwa bapanya meraih perhiasan emas dan intan di kawah Gunung Agung. Ia pun nekad mengambil genta milik bapanya, selanjutnya pergi ke kawah gunung itu. Setibanya di sana, ia bingung ulang sebab tidak memahami doa dan mantra yang kudu diucapkan. Akhirnya, ia coba membunyikan genta itu tanpa mengucapkan mantra. Setelah beberapa kali membunyikannya, tiba-tiba seekor naga besar keluar dari sarangnya dan menghampirinya.

“Ampun, Naga! Jangan memangsaku!” pinta Manik Angkeran.

“Hai, Anak Muda! Kamu siapa? Kenapa kamu membunyikan genta itu tanpa membaca mantra?” bertanya Naga Besukih.

“A… a… Aku Manik Angkeran, putra Empu Sidi Mantra,” jawab Manik Angkeran bersama dengan gugup.

“Hai, Manik Angkeran! Ada apa engkau memanggilku bersama dengan genta yang kau curi dari bapamu itu?” bertanya Naga Besukih.

Manik Angkeran pun memberikan maksud kedatangannya. Ia mengiba kepada Naga Besukih agar ia diberikan harta yang melimpah untuk membayar hutang-hutangnya.

“Naga! Kasihanilah Aku! Orang-orang dapat membunuhku terkecuali tidak langsung membayar hutangku kepada mereka,” Manik Angkeran ulang mengiba.

Melihat rasa sedih Manik Angkeran, sang Naga pun mulai kasihan kepadanya.

“Baiklah! Aku dapat membantumu, tapi kamu kudu berjanji untuk berhenti berjudi,” ujar Naga Besukih.

Setelah itu, sang Naga langsung membalikkan badannya hendak mengeluarkan emas dan intan melalui sisik ekornya. Begitu ia hendak menyetakkan ekornya, tiba-tiba Manik Angkeran langsung menghunus kerisnya dan memotong ekor naga itu. Tak ayal lagi, Naga Besukih pun meronta-ronta dan menjerit kesakitan. Ketika ia membalikkan badannya, Manik Angkeran udah pergi mempunyai ekornya yang penuh bersama dengan emas dan intan itu. Ia mengupayakan untuk mengejarnya, tapi putra Empu Sidi Mantra itu udah menghilang entah ke mana. Ia cuma menemukan bekas tapak kakinya. Maka bersama dengan kesaktiannya, ia membakar tapak kaki itu. Manik Angkeran yang udah pergi jauh meninggalkan kawah Gunung Agung pun merasakan kedua telapak kaki mulai panas, dan lama-kelamaan seluruh tubuhnya terbakar sampai pada akhirnya jadi abu.

Sementara itu, di Kerajaan Daha, Empu Sidi Mantra dan istrinya tengah gelisah, sebab anak semata wayang mereka menghilang. Mereka udah mencarinya ke mana-mana, tapi tidak juga menemukannya.

“Pa! Ke mana perginya putra kita? Kita udah mencarinya ke mana-mana, tapi tak seorang pun warga yang memahami keberadaannya?” bertanya istri Empu Sidi Mantra bersama dengan perasaan cemas.

Empu Sidi Mantra cuma terdiam sambil berpikir. Beberapa waktu kemudian, tiba-tiba ia tersentak kaget.

“Wah, jangan-jangan putra kita pergi ke Gunung Agung,” kata Empu Sidi Mantra.

“Kenapa Bapa sanggup menganggap begitu?” bertanya istrinya.

“Aku menganggap demikian, sebab putra kita menghilang seiring bersama dengan hilangnya genta saktiku. Dia pasti pergi ke kawah itu untuk menemui Naga Besukih,” jawab Empu Sidi Mantra.

Keesokan harinya, berangkatlah Empu Sidi Mantra ke kawah Gunung Agung untuk mencari putranya. Setibanya di sana, ia lihat Naga Besukih tengah gelisah di luar sarangnya.

“Wahai, Naga Besukih! Apakah engkau lihat putraku?” bertanya Empu Sidi Mantra.

“Iya, Mpu! Kemarin dia ke sini menghendaki harta untuk membayar hutang-hutangnya. Namun, saat aku hendak memberinya harta itu, tiba-tiba ia memotong ekorku, selanjutnya membawanya pergi bersama dengan harta itu,” memahami Naga Besukih.

“Apakah kamu memahami kemana perginya?” Empu Sidi Mantra ulang bertanya bersama dengan perasaan cemas.

“Maaf, Mpu! Kamu tidak usah ulang mencari putramu. Aku udah membakarnya sampai binasa,” jawab Naga Besukih.

Betapa terkejutnya Empu Sidi Mantra mendengar berita tidak baik itu. Ia pun memohon kepada sang Naga agar putranya dihidupkan kembali.

“Maafkan aku dan putraku, Naga! Dia putraku satu-satunya. Aku mohon hidupkanlah dia kembali,” pinta Empu Sidi Mantra.

“Baiklah, Mpu! Demi persahabatan kita, aku dapat memenuhi permitaanmu. Tapi bersama dengan satu syarat, kamu kudu mengembalikan ekorku,” kata Naga Besukih.

Empu Sidi Mantra pun berjanji untuk memenuhi syarat Naga Besukih. Dengan kesaktiannya, Naga Besukih sukses memunculkan ulang Manik Angkeran. Empu Sidi Mantra langsung pergi mencari putranya. Setelah sekian lama mencari, pada akhirnya ia pun menemukan putranya di sebuah hutan lebat, dan kemudian mengajaknya ulang ke kawah Gunung Agung untuk menemui dan mengembalikan ekor Naga Besukih.

Setibanya di kawah Gunung Agung, Empu Sidi Mantra langsung mengembalikan ekor Naga Besukih layaknya semula. Setelah itu, ia bersama dengan naga itu menasehati putranya agar benar-benar sudi memengaruhi perilakunya. Manik Angkeran pun memahami dan berjanji untuk mengikuti nasehat mereka. Sebagai hukuman, ia kudu tinggal di sekitar Gunung Agung.

Akhirnya, Empu Sidi Mantra pun ulang ke Kerajaan Daha seorang diri. Ketika tiba di Tanah Benteng, ia menorehkan tongkat saktinya ke tanah untuk membawa dampak garis batas antara dia dan putranya. Karena kesaktiannya, bekas torehan tongkatnya bertambah lebar agar tergenangi air laut, dan lambat laun area itu berubah jadi sebuah selat. Oleh penduduk setempat, selat itu dinamakan Selat Bali.

Demikian Legenda Asal Mula Selat Bali area Bali, Indonesia. Pelajaran yang sanggup dipetik dari cerita di atas adalah bahwa berjudi merupakan prilaku tidak terpuji yang kudu dijauhi. Hal ini keluar pada prilaku Manik Angkeran. Selain hidupnya tidak tenang selalu dikejar-kejar orang sebab terjebak hutang, ia juga udah menguras habis harta kekayaan orang tuanya dipertaruhkan di meja judi.

Pelajaran lain yang sanggup dipetik adalah bahwa pembawaan gemar berjudi sanggup mendorong seseorang untuk melaksanakan perbuatan keji layaknya menipu, mencuri, dan merampok harta orang lain, sebagaimana yang dilakukan Manik Angkeran. Secara licik, ia memotong ekor Naga Besukih untuk meraih emas dan intan yang dapat digunakan untuk membayar hutang-hutangnya. Akibat perbuatannya itu, ia pun tewas terbakar, walau pada pada akhirnya ia dihidupkan ulang oleh Naga Besukih. Dalam tunjuk ajar Melayu dikatakan:

kalau puas bermain judi,

hidup hina kerja tak jadi

kalau hidup jadi penjudi,

dunia akhirat badan terkeji

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *