Fyodor Mikhailovich Dostoevsky tengah berbicara dengan kerabat wanita dari istrinya, Anna Grigorievna, yang terkini dinikahinya. Seketika mukanya berganti pucat. Badannya merosot dari dataran kursi serta bersender langlai pada bagian badan istrinya.

“ Seketika kita mengikuti suara ratapan penuh kekhawatiran, suatu ratapan tanpa titik manusiawi di dalamnya–hampir menyamai raungan. Badan langlai suami aku terus menjadi tersender pada aku,” catat Anna, stenograf yang dinikahi Dostoevsky tahun 1867 sehabis kematian istri awal, dalam Anna Dostoevskaya’ s Diary in 1867( 1923).

Dostoevsky, pengarang besar kelahiran Rusia, hadapi serbuan ayan serta ia tidak menutupi realitas. Apalagi, ia menulis apik bermacam perinci serbuan ayan yang dirasakannya dalam novel setiap hari.

Suara ratapan lazim mencuat mendahulukan serbuan tegang, paling utama di tengah mereka beraktifitas. Berakhir adegan tegang, Dostoevsky kerap hadapi kendala berdialog serta menulis( post- ictal symptom).“ Sepanjang sebagian durasi saya tidak sanggup berucap… kala menulis saya sedang melakukan kekeliruan dengan perkata,” catatnya dalam harian individu.

Dalam pergulatannya menanggulangi ayan, Dostoevsky menghasilkan figur Myshkin dalam novelnya The Imbesil. Myshkin dikisahkan, kembali ke Rusia dengan sepur api sehabis 4 tahun berobat di suatu sanatorium di Swiss sebab“ suatu penyakit keganjilan saraf–sejenis ayan dengan kejang- kejang yang tidak terkendali.” Myshkin dideskripsikan bagaikan wujud penuh kasih serta cerdas tetapi dijauhi banyak orang sebab ayan.

Melalui Myshkin pula Dostoevsky mengelaborasi sebagian karakteristik ayan. Salah satunya kedatangan aura keceriaan diiringi pengalaman abnormal sedetik saat sebelum adegan tegang berasal.

“…satu ataupun 2 momen saat sebelum tegang melanda( bila terjalin pada dikala beliau tersadar), di tengah seluruh dorongan kesedihan, kemalaman kebatinan serta tekanan mental, sebentar otaknya semacam dibakar api… Beliau tersambar oleh kehebohan kehidupan… Seluruh kebingungan, keragu- raguan serta kekhawatiran seolah larut dalam atmosfer penuh kenyamanan serta pemahaman… tetapi seluruh ini cumalah suatu dini dari datangnya bagian kedua( yang tidak sempat berjalan pendek) ialah kejang- kejang. Bagian kedua ini, nyatanya, ialah aniaya yang tidak terbendung.”

Bukan Kutukan

Ayan telah terdaftar dalam bermacam peradaban kuno, biasanya mengaitkannya dengan keadaan abnormal. Orang Babilonia memperhitungkan ayan bagaikan miqtu ataupun penyakit jatuh roboh, yang diakibatkan kerasukan arwah. Bagi Pil Sakkiku( 1000 SM), indikasinya berbentuk kejang- kejang serta mulut berbusa.

Orang Romawi pula yakin ayan penyakit supernatural. Kala memilah budak, mereka lazim mengajukan segumpal batu jet luar biasa gelap.“ Bila budak itu tidak jatuh ke tanah mengesun bau jet, beliau diklaim leluasa penyakit jatuh roboh,” catat Owsei Temkin dalam The Falling Sickness: A History of Epilepsy from the Greeks to the Beginnings of Modern Neurology( 1971).

Sedangkan itu, bagi Marten Stol dalam Epilepsy in Babylonia, orang Yunani menyangka ayan ialah‘ penyakit bertuah’ yang berawal dari daya abnormal.

Hippocrates( 460- 370 SM), seseorang filsuf serta pakar kedokteran Yunani, menyangkal pemikiran biasa itu.“ Penyakit ini[epilepsi]… tidak lebih bersih dibandingkan penyakit lain; beliau mempunyai asal- muasal seragam, kesuciannya sebanding, dan peluang penyembuhan yang serupa dengan penyakit lain,” catat seseorang pengarang anonim mengisap madu kuliah Hippocrates dalam Corpus Hippocratium( 400 SM).

Galen( 129- 200 Meter), Ayah Kedokteran Romawi, memantapkan agama Hippocrates. Diagnosisnya melaporkan,“ kendala pada otak sebab pengentalan larutan badan orang( lawak) menimbulkan ayan.” Galen pula memberitahukan sebutan aura, sesuatu perasaan ataupun pertanda pengidap ayan saat sebelum tegang.

Penemuan Galen mendesak dokter serta dokter menyelidiki ayan lebih lanjut. Pada era ke- 10, Theophenes Chrisobalantes dalam Epitome du curatione morborum menjabarkan ayan bagaikan“ serbuan tegang pada semua tubuh… alhasil seorang terguling dengan mulut berbusa.”

Michael Psellos, pakar kedokteran serta filsuf era ke- 11, dalam Carmen de Re Medica menerangkan kalau pertanda tegang kelu pada pengidap ayan sering dilanjutkan tegang menggelepar serta lenyapnya pemahaman. Kedua tipe tegang ini saat ini diketahui bagaikan tegang tonik- klonik ataupun epilepsy grand plaza.

Tetapi, pemikiran pakar kedokteran belum sanggup mengganti anggapan warga. Kaisar Theodore II Lascaris( 1254- 1258) di Nicaea, pusat kultur serta intelektual Kerajaan Byzantium, sedang menyangkutkan apa yang dideritanya bagaikan aksi guna- guna. Si kaisar gampang pingsan tanpa karena. Ia mendakwa advokat serta komandan tentara menyihirnya.

Di Jerman, Malleus Malifacrum( 1487), salah satu novel bimbingan ganjaran buat penyihir mengatakan kejang- kejang ayan bagaikan ciri penyihir. Para cenayang yakin Tuhan merendahkan penyakit itu bagaikan ganjaran atas perhimpunan penyihir dengan setan.

Para juri di Eropa sering menjatuhkan ganjaran mati buat penderita ayan.“…antara 1487 serta 1520… lebih dari 200. 000 wanita dibunuh sebab menderita pertanda ayan,” catat David A. Kaiser dalam“ The Disease once sacred: A Brief History of Epilepsy”, artikel tidak diterbitkan.

Buat memulihkan ayan, beberapa penderita ayan menoleh pada para santo ataupun orang bersih. Di bagian Eropa, tidak sedikit yang berkunjung ke petilasan Santo Valentinus, yang hidup pada era ke- 4 Meter serta populer bagaikan santo cinta.

Merambah era ke- 18, orang mengelompokkan ayan bagaikan penyakit psikologis. Tata cara pengobatannya dengan memasukkan pengidap ayan ke rumah sakit jiwa. Perlakuan ini menganiaya pengidap ayan. Terasing, dibuang keluarga, serta ditolak warga.

Hughling Jackson, neurolog Inggris, mengancam keras perlakuan ini. Lewat penelitiannya sejauh 1864–1873, ia merumuskan pemicu ayan terlacak dari kegiatan ledakan listrik yang terjalin pendek serta seketika oleh beberapa neuron tidak normal di otak. Ledakan itu mendesak terbentuknya“ angin besar” listrik di 2 bagian otak yang termanifestasi melalui adegan tegang tonik klonik. Hingga, ayan tidak terdapat hubungannya dengan kebatinan.

Penemuan Jackson yang lain berbentuk pengelompokan ayan.“ Ia melainkan 3 kategori ayan bersumber pada dari mana epileptiform ataupun epileptoid berawal,” catat Emmanouil Magiorkini dkk. dalam“ Hallmarks in the History of Epilepsy” terdapat di Roman Aspects on Epilepsy suntingan Humberto Foyaca- Sibat.

Sepeninggal Jackson pada 1899, amatan ayan bertumbuh cepat. Universitas- universitas di Eropa mengelompokkan ayan bagaikan amatan neurologi, agen ilmu medis mengenai lapisan saraf.

Dengan cara garis besar, riset ayan di universitas dibagi 2: grand plaza serta petit plaza. Perbedaannya terdapat pada daya lepasnya bagasi listrik serta pertanda dini, misalnya keseriusan tegang. Kejang- kejang merupakan karakteristik biasa ayan grand plaza, sebaliknya petit plaza hadapi tegang dalam durasi pendek( 15 detik).

Banyaknya pengelompokan ayan menimbulkan dokter mempraktikkan pengobatan berlainan, terkait bagian otak sisi mana penyakit itu melanda. Dengan cara biasa, dokter berikan obat antikonvulsi( tegang) pada penderita.

Temuan mesin EEG( electroencephalograph) buat mengukur gelombang otak pada 1920- an oleh Hans Berger di Jerman jadi pilar berarti menguasai bermacam jenis serbuan ayan. Tidak hanya mengenali posisi ledakan listrik di otak dengan cara lebih cermat, mesin EEG menolong akademikus mempelajari operasi saraf bagaikan salah satu usaha pengobatan ayan pada 1950- an.

Aura serta Religiositas

Bermacam riset pada 1970- 1980- an menekuni terdapatnya dampak lanjut kejang- kejang psikomotor dalam sebagian jenis ayan. Periset David Meter. Bear serta Paul Fedio dalam“ Quantitative Analysis of Interictal Behavior in Temporal Lobe Epilepsy” yang diterbitkan di Archives of Neurology( 1977) merumuskan serbuan ayan pada lobus temporalis mempunyai kemampuan pergantian dan kendala karakter, terkait posisi khusus yang diserbu. Lobus temporalis merupakan salah satu lobus otak besar yang terdapat pada bagian pelipis yang terpaut ingatan, anggapan serta keahlian mengikuti dan berbicara.

Dalam detailnya Dostoevsky’ s epilepsy( 1972), yang setelah itu dilansir dalam Psychiatric Aspects of Epilepsy( 1984) suntingan Blumer D, neurolog Geschwind menilik Fyodor Dostoevsky bagaikan penderita ayan lobus temporalis.

Di golongan keluarga serta sahabat dekatnya, Dostoevsky diketahui sungguh- sungguh. Perkataan serta tulisannya sarat poin keimanan, metafisika, serta akhlak–sebagian kepribadian yang kerap ditemui pada penderita ayan lobus temporalis. Karakteristik lain merupakan kecondongan hypergraphia( desakan menulis yang tidak terbendung serta terjalin selalu ataupun kesekian).

Tidak hanya pengarang produktif, Dostoevsky patuh menulis novel setiap hari serta berkorespondensi melalui pesan. Bermacam perinci serbuan ayan yang dirasakannya terdaftar apik dalam harian individu dari 1860 sampai menjelang kematian pada 1881. Keseluruhan 102 serbuan ayan menderanya, dengan macam antara durasi serta kerangka balik situasi keluarga.

Misalnya, kala menulis roman The Imbesil pada 1867–1868, Dostoevsky tengah tergulung pinjaman. Bersama istri keduanya, Anna Grigorievna, ia terdesak berangkat ke sebagian area di Eropa buat menjauhi beberapa kreditor. Kesusahan finansial serta bobot marah menimbulkan serbuan ayan pada era ini terkategori sangat berat untuk Dostoevsky.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *