Sepulang dari pembelajaran di Amerika Sindikat( AS), Utama Boyke Nainggolan sedianya disiapkan jadi opsir era depan oleh Markas Besar Angkatan Bumi. Tetapi dalam kemajuan berikutnya nyatanya Utama Boyke malah berpotongan opini dengan penguasa. Ia tidak sepakat dengan metode penguasa pusat menuntaskan permasalahan PRRI melalui pembedahan tentara. Sebab ketidaksetujuannya tidak digubris, hingga panglima Bala Ajudan Kota Ajang itu juga buat kejutan bagaikan bentuk koreksinya.

“ Utama Boyke Nainggolan di Ajang melaksanakan kudeta yang( ia) memanggil Pembedahan Sabang- Merauke,” kata Biro Asal usul Tentara Nasional Indonesia(TNI) dalam Memoar Jenderal Besar Dokter. A. H. Nasution: Ekspedisi Hidup serta Pengabdiannya.

Kelakuan pembangkangan Utama Boyke kepada penguasa pusat itu terjalin pada 16 Maret 1958. Nainggolan beranjak sehabis Utama Jenderal Abdul Haris Nasution, Kepala Karyawan Angkatan Bumi( KSAD),“ memidana” daya PRRI melalui“ Pembedahan Jelas” di Pekanbaru, Riau. Gerombolan Nainggolan berawal dari Bala Infantri 131 yang tadinya di dasar arahan koleganya, Utama Henry Siregar.

Dalam durasi satu hari, Nainggolan sukses memahami kota tercantum memborbardir pos AURI di Polonia. Stasiun Radio Republik Indonesia( RRI) Ajang juga diduduki buat setelah itu memberitakan kelakuan Pembedahan Sabang- Merauke. Nainggolan melaporkan dirinya bagaikan pendukung aksi wilayah sekalian mengultimatum penguasa pusat.

Tidak hanya itu, Nainggolan menginstruksikan pasukannya membekuk pejabat- pejabat yang membela pada penguasa pusat. Atas kelakuan itu, Kolonel Djatikusumo, Delegasi KSAD Nasution serta Ketua Pembedahan Tentara di Sumatra, terdesak melarikan diri ke Dermaga Belawan di tepi laut timur. Di situ, Djatikusumo mencari proteksi pada pihak Angkatan Laut RI.

Hoegeng Kepercayaan Santoso, durasi itu jadi kepala reserse pidana kepolisian Sumatra Utara

mengenang atmosfer mencekam. Di sejauh jalur, nampak truk- truk dengan bendera putih yang berikan gejala PRRI. Pada dikala hujan meriam katak menggoncang kesunyian di Polonia, datanglah aba- aba pusat bagus dari Nasution ataupun Kepala Karyawan Angkatan Hawa Admiral Suryadarma.

“ Isinya perintah, supaya Polonia dipertahankan hingga titik darah akhir zaman!” ucap Hoegeng dalam otobiografinya Hoegeng: Polisi Harapan serta Realitas yang disusun Abrar Yusra serta Ramadhan K. H.

Tidak hanya meregang kota, gerombolan Boyke Nainggolan menggedor Bank Indonesia agen Ajang. Dalam Asal usul Rumpun Diponegoro serta Pengabdiannya yang diterbitkan Kodam Diponegoro dituturkan kalau uang- uang yang terdapat di bank- bank dirampas oleh Nainggolan. Duit itu dipakai Nainggolan buat membiayai prajurit- prajurit yang turut berasosiasi dengannya.

Sehabis menemukan berita penguasa pusat hendak memobilisasi gerombolan golongan atas RPKAD ke Ajang, gerombolan Nainggolan lalu mengundurkan diri ke banat Tapanuli. Ia bawa dan ratusan prajuritnya, beberapa besar senjata, serta duit rampasan sekira seratus juta rupiah dari Bank Indonesia agen Ajang. Setiba di Tarutung, Boyke Nainggolan mencampurkan diri dengan atasannya, Kolonel Maludin Simbolon yang sudah lebih dulu membuat dasar peperangan.

Keyes Beech, wartawan Amerika Sindikat yang jadi jurnalis Los Angeles Times buat Timur Jauh menulis, dari duit hasil copetan Nainggolan sebesar 10 juta dolar Amerika dipakai buat membantu peperangan PRRI.

“ Para jurnalis Amerika,” catat Keyes dalam Not Without the Americans: A Perorangan History,“ dengan besar hati menulis kalau Nainggolan merupakan alumnus martabat Sekolah Karyawan serta Aba- aba Forth Leavenworth.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *