A.R. Baswedan dan Calon Mertua – Pertemuan Abdurrahman Baswedan dengan wanita yang setelah itu jadi istrinya terjalin di umur yang sedang amat belia. Baswedan kala itu sedang berumur 17 tahun, sedangkan Syaikhun berumur 12 tahun. Keduanya memanglah sudah lama silih tahu sebab Syaikhun merupakan gadis pamannya sendiri.

Sesuatu hari di tahun 1925, Baswedan mengantarkan artinya menikahi Syaikhun pada kedua ibu dan bapaknya. Ketetapan itu lumayan mencengangkan, mengenang anak muda seusianya sedang menjajaki seluruh kemauan orangtua, tercantum pertanyaan perkawinan. Tetapi saat sebelum melanjutkan arti itu ke si mamak, papa Baswedan memohon buah hatinya mengubah sikap- sikap yang bisa jadi tidak dapat diperoleh pamannya.

“ Beliau memiliki paham- paham yang berlawanan dengan pamannya. AR Baswedan misalnya tidak membenarkan terdapatnya tahlilan, sementara itu seremoni sejenis itu sedang diiringi oleh warga Arab serta pemeluk Islam pada biasanya, spesialnya oleh keluarga pamannya. Di sisi itu masing terdapat keadaan lain yang sedang kerap diperdebatkan,” kata Suratmin dalam Abdul Belas kasih Baswedan: Buatan serta Pengabdiannya.

Baswedan siuman benar dengan watak kerasnya itu. Hingga beliau juga berikrar pada bapaknya kalau si mertua bisa menyapa buat menegaskan bila dirinya melaksanakan salah. Beliau pula mau melaksanakan dialog bila kadang- kadang keduanya tidak menggapai perjanjian bagus. Walaupun sudah berikrar begitu, bapaknya sedang senantiasa takut dengan watak Baswedan yang sedemikian itu keras.

Namun warnanya suratan memanglah membela pada Baswedan. Tanpa butuh durasi serta cara yang jauh, arti bagusnya itu langsung diperoleh oleh keluarga pamannya. Dengan persetujuan seluruh pihak Baswedan serta Syaikhun terus menjadi afdal menjalakan ikatan yang sungguh- sungguh. Walaupun sedemikian itu keduanya tidak sering berjumpa sebab senantiasa wajib menaati anutan agama Islam, yang mencegah pertemuan tanpa terdapat yang mendampingi walaupun keduanya calon suami- istri.

Pertemuan 2 sepasang ini lebih banyak terjalin di dalam kegiatan keluarga. Semacam kala Baswedan serta Syaikhun dipertemukan di Batu, Apes, dikala keluarga besar mereka terkumpul bersama. Momen itu pula jadi tes untuk ikatan Baswedan dengan si mamak bagaikan calon mertuanya. Pada sesuatu malam, sesudah shalat maghrib, Baswedan bercengkrama dengan calon papa mertuanya itu. Awal mulanya berjalan wajar, hingga kala pamannya memohon Baswedan mengutip suatu novel dari dalam tas.

“ Coba bacalah novel itu,” cakap pamannya.

“ Buat apa novel ini dibaca? Apakah buat mamak ataupun buat aku?” pertanyaan Baswedan.

Mengikuti persoalan itu pamannya mulai naik pitam.“ Kenapa anda mengatakan begitu?”

“ Bila novel itu dibaca buat kebutuhan mamak, hingga hendak aku kerjakan, namun bila novel ini buat aku, perihal itu tidak butuh dicoba sebab aku telah sempat membacanya,” ucap Baswedan.

Novel itu sendiri bermuatan kritikan kepada seseorang malim besar Syekh Mohammad Abduh. Baswedan yang menyambut pembelajaran di Angkatan laut(AL) Petunjuk mempunyai pemikiran yang serupa dengan Syekh Mohammad Abduh alhasil kritikan itu dikira salah olehnya. Sedangkan sang mamak merasa novel itu bagus sebab dapat saja membagikan” pencerahan”

pada Baswedan.

Antipati dari Baswedan itu membuat amarah pamannya tidak terbendung lagi. Beliau juga kemudian berdiri serta masuk ke kamarnya, mengadu pada istirnya hendak tindakan Baswedan. Bentrokan itu juga warnanya cumalah dini dari bentrokan lain yang terjalin antara calon menantu dengan calon mertuanya.

Tindakan lain Baswedan yang membuat pusing mertuanya pula terjalin dikala berlangsungnya acaranya perkawinan. Busana pengantin laki- laki yang sepatutnya mengenakan jubah dari kain glangsut yang gemerlap serta soraban di atas kepala, ditukar oleh Baswedan dengan rompi dan celana pantalon. Perihal itu menggemparkan keluarga dan masyarakat generasi Arab yang muncul sebab tidak cocok dengan adat- istiadat mereka.

Tidak cuma itu, kala sudah terletak di atas pelaminan, Baswedan tidak mau lama di situ. Dengan alibi kerap merasa pusing bila sangat lama bersandar, beliau lebih memilah bercokol di kamarnya. Tindakan Baswedan itu dikira salah oleh mertuanya. Tetapi dalam pemikirannya, bila beliau bungkam di pelaminan, sangat banyak wajah wanita yang diamati serta itu tercantum tabu.

“ Dengan menjajaki narasi mengenai pernikahan Abdul Belas kasih Baswedan bisa dikenal alangkah ketatnya adat serta gimana keberaniannya melanggar adat yang tidak cocok dengan jalur pemikirannya,” catat Suratmin.

Perselishan terjalin pula dikala papa mertuanya menyambut pengunjung seseorang malim populer di golongan orang Arab, Syekh Abdulkadir Syahwik, dari Cirebon. Mertuanya itu belajar pada si malim yang dikenal pula berlawanan dengan Mohammad Abduh. Dengan alibi begitu, si mertua memohon Syekh Syahwik menasihati Baswedan supaya tidak menjajaki pemikiran Mohammad Abduh. Tetapi bukannya Basewedan yang dinasehati, namun justru mertuanya.

Bagi Syekh Syahwik, Baswedan wajib didiamkan menempuh jalur serta keyakinannya sendiri. Beliau memohon buat tidak terdapat yang mengusik keyakinannya. Dalam pemikiran Syekh Syahwik Baswedan mempunyai era depan yang luar biasa. Beliau berpedoman konsisten kepada prinsip- prinsip sufisme yang sepanjang ini dipelajari Syekh Syahwik.

“ Mertua AR Baswedan terperanjat. Dari mengikuti perkata malim yang dikaguminya itu, hingga apabila terjalin tabrakan mengerti dengan menantunya itu tidak lagi membuktikan tindakan yang runcing,” kata Suratmin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *