Cerita Rakyat Legenda Asal Mula Nama Bengkulu

Bengkulu (bahasa Inggris: Bencoolen) adalah sebuah provinsi di Indonesia. Ibu kotanya berada di Kota Bengkulu. Provinsi ini terletak di bagian barat kekuatan Pulau Sumatera.

Cerita Rakyat Legenda Asal Mula Nama Bengkulu

Di wilayah Bengkulu pernah berdiri kerajaan-kerajaan yang berdasarkan etnis seperti Kerajaan Sungai Serut, Kerajaan Selebar, Kerajaan Pat Petulai, Kerajaan Balai Buntar,Pasang Bola Kerajaan Sungai Lemau, Kerajaan Sekiris, Kerajaan Gedung Agung, dan Kerajaan Marau Riang. Di bawah Kesultanan Banten, mereka jadi vazal.

Menurut cerita rakyat Bengkulu, Legenda asal mula nama Bengkulu berawal waktu terjadi peperangan pada Kerajaan Aceh bersama Kerajaan Serut. Pangkal masalahnya adalah penolakan lamaran Putra Raja Aceh oleh Raja Anak Dalam Muara Bengkulu, Raja Kerajaan Serut. Peperangan terjadi pada ke dua kerajaan tersebut bersama hebatnya tanpa tersedia pihak menang maupun pihak kalah.

Alkisah, dahulu waktu tersebutlah sebuah kerajaan di Bengkulu bernama Kerajaan Serut yang dipimpin oleh Ratu Agung. Ratu Agung punya tujuh orang anak. Si sulung bernama Pangeran Anak Dalam Muara Bengkulu, sedang si bungsu bernama Putri Gading Cempaka.

Saat Ratu Agung wafat, Pangeran Anak Dalam Muara Bengkulu dinobatkan sebagai penggantinya. Ia sesudah itu memerintah Kerajaan Serut bersama adil bijaksana melanjutkan keadilan ayahandanya. Di bawah kepemimpinannya, perdagangan Kerajaan Serut jadi berkembang pesat.

Pangeran Kerajaan Aceh Ingin Melamar Putri Gading Cempaka
Seiring berjalannya waktu, adik bungsu Raja Anak Dalam Muara Bengkulu, yakni Putri Gading Cempaka, tumbuh jadi seorang gadis cantik jelita. Telah banyak para pangeran juga saudagar kaya mendambakan mempersuntingnya.

Kecantikan Putri Gading Cempaka diketahui pula oleh seorang Pangeran berasal dari Kerajaan Aceh. Sang Pangeran segera mengirim utusan ke Kerajaan Serut untuk memberikan permintaan Pangeran Aceh melamar Putri Gading Cempaka. Keinginan Sang Pangeran untuk melamar ditolak halus oleh Raja Anak Dalam Muara Bengkulu.

Setelah menyadari keinginannya melamar ditolak oleh Raja Anak Dalam, Sang Pangeran Aceh mulai sangat tersinggung. Ia marah bukan main. Ia sesudah itu meminta Kerajaan Aceh untuk menyerang Kerajaan Serut. Tak lama sesudah itu Kerajaan Aceh mengirimkan pasukan secara besar-besaran menggunakan kapal-kapal perang.

Perang Kerajaan Aceh Dengan Kerajaan Serut
Raja Anak Dalam Muara Bengkulu menyadari rancangan penyerangan tersebut. Ia segera mempersiapkan langkah tertentu untuk menghadapi pasukan Kerajaan Aceh. Ia menyadari bahwa Kerajaan Aceh punya pasukan kuat. Kerajaan Aceh terkenal susah untuk dikalahkan. Ia memerintahkan pasukannya untuk menebang pohon-pohon. Batang-batang kayu pohon tersebut sesudah itu dilemparkan ke sungai sehingga sanggup membatasi gerak kapal pasukan Kerajaan Aceh.

Pasukan Kerajaan Serut segera bekerja keras menebangi pohon, sesudah itu menghanyutkan batang-batang pohon tersebut ke sungai. Sementara lebih dari satu pasukan lain berjaga-jaga untuk menghadapi serangan pasukan Kerajaan Aceh. Sudah tak juga berapa banyaknya kayu-kayu pohon hanyut sampai mencukupi sungai.

Saat pasukan Kerajaan Aceh tiba disungai untuk menuju Kerajaan Serut, mereka terkejut mendapati banyaknya batang-batang pohon hanyut berasal dari arah hulu sungai membatasi kapal-kapal mereka. Susah payah mereka berusaha jauhi kayu-kayu yang sangat menghambat perjalanan mereka. Untuk jauhi kayu-kayu tersebut, lebih dari satu prajurit berteriak, “Empang ka hulu! Empang ka hulu!”. Akhirnya setelah bekerja keras, kapal-kapal pasukan Kerajaan Aceh sukses melaju. Mereka mendarat di sebuah kaki bukit.

Para prajurit Kerajaan Aceh melompat ke daratan berasal dari kapal-kapal mereka. Para prajurit Aceh segera disambut oleh serangan pasukan Kerajaan Serut yang sebenarnya udah menunggu. Maka terjadilah peperangan hebat pada ke dua pasukan. Dengan langkah cerdik Raja Anak Dalam Muara Bengkulu, kehebatan pasukan Kerajaan Aceh, sanggup diimbangi oleh pasukan Kerajaan Serut. Cukup lama peperangan tersebut terjadi tanpa tersedia tanda-tanda pasukan mana dapat unggul dan pasukan mana dapat kalah. Sudah banyak korban berjatuhan berasal dari ke dua belah pihak namun, ke dua kapabilitas terlihat seimbang.

Melihat peperangan tidak berkesudahan tersebut, Raja Anak Dalam Muara Bengkulu mulai sedih. Ia tidak sanggup memandang begitu banyak korban berjatuhan. Akhirnya bersama diiringi oleh keenam adiknya, kerabat keluarga kerajaan, dan lebih dari satu pengikut setianya, Raja Anak Dalam Muara Bengkulu sesudah itu pergi ke Gunung Bungkuk. Mereka tinggal di gunung tersebut sampai peperangan berakhir.

Empang Ka Hulu Asal Mula Nama Bengkulu
Karena tidak tersedia tanda-tanda pasukan mana dapat menang, pada akhirnya peperangan itupun berakhir sendirinya. Kedua belah pihak sepakat untuk berdamai, tidak melanjutkan peperangan. Meskipun peperangan udah berakhir, tetapi Raja Anak Dalam beserta keenam adik dan pengikut setianya selalu tinggal di Gunung Bungkuk.

Sejak peperangan dahsyat tersebut, wilayah Kerajaan Serut sesudah itu berubah penyebutan namanya. Mulai berasal dari teriakan para prajurit Kerajaan Aceh, Empang Ka Hulu, berubah jadi Pangkahulu, berubah kembali jadi Bangkahulu dan pada akhirnya sejalan berjalannya waktu, kini kita mengenalnya bersama nama Bengkulu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *