Cerita Rakyat Danau Toba Dari Sumatera Utara

Pada jaman dahulu waktu keluar seorang pemuda nampak tengah memancing di pinggir sungai. Namun nahas, sepanjang hari itu tak ada seekor ikan pun yang terkena alat pancingnya. Pemuda itu sangat miskin. Sehari-hari, ia menopang tetangganya melindungi sawah. Jika tak ada yang meminta bantuannya, ia memancing ikan atau berburu ayam di hutan.

“Alangkah malangnya nasibku hari ini. Ikan-ikan itu bersembunyi di mana, ya?” tanyanya di dalam hati. Karena hari telah gelap, ia pun langsung membereskan alat pancingnya. Saat pemuda itu hendak beranjak pergi waktu tiba-tiba seekor ikan besar berwarna kuning keemasan naik ke permukaan sungai. “Wah… ini dia yang kutunggu dari tadi,” kata pemuda itu dengan riang. Secepat kilat ditangkapnya ikan itu.

Cerita Rakyat Danau Toba Dari Sumatera Utara

Sesampainya di rumah, pemuda itu bersiap memasak ikan tangkapannya. Namun lihat tatapan ikan itu, ia mengurungkan niatnya. Ikan itu seolah-olah berkata,”Jangan bunuh aku.”

“Ikan cantik, saya bakal memeliharamu. Biarlah malam ini saya makan nasi berlauk garam saja.” Kata pemuda itu. Ikan itu ia letakan di sebuah tempayan dan diberinya makan sebagian butir nasi.

Keesokan harinya, pemuda itu pergi ke sawah. Hari telah sore kala pemuda itu pulang. Saat itu ia sungguh lapar. Ia memiliki rencana untuk memasak sayur yang didapatnya dari pemilik sawah. Saat memasuki dapur, mata pemuda itu terbelalak. Ia lihat banyak hidangan lezat di sana. Ada nasi putih hangat, gulai ikan, samba’, dan aneka sayuran. Ia mengucek mata sebab tak percaya. “Apo saya tengah bermimpi?” pikirnya. Namun sebab telah sangat lapar, ia tak lagi berpikir panjang. Dilahapnya semua hidangan itu hingga licin tak bersisa.

Sejak itu, setiap hari selamanya ada hidangan lezat di rumahnya. Lama- kelamaan, ia menjadi penasaran dan mengambil keputusan untuk mengintip siapa gerangan yang sedia kan makanan, ia dambakan berterima kasih. Keesokan paginya, pemuda itu pura-pura pergi ke sawah. Namun sebenarnya ia bersembunyi di dekat jendela dapurnya. Tak lama kemudian ia mendengar kegiatan di dapur. Aroma masakan pun tercium hingga keluar. Penasaran, ia mengintip dan jendela dapur. Alangkah terkejutnya ia waktu lihat seorang gadis cantik tengah memasak. “Siapa dia,” bisiknya. Dalam sekejap, pemuda itu langsung jatuh cinta pada wanita cantik itu.

“Hai, siapa kau dan tengah apa di rumahku?” bertanya pemuda itu. Wanita cantik itu menoleh kaget. Wajahnya pucat pasi sebab ketahuan. “A… a… aku… ah… bagaimana menjelaskannya padamu?” katanya bingung. Pemuda itu melompati jendela dapur dan melongok ke tempayan. Ikan itu hilang. “Apakah kau ikan yang kupelihara di ternpayan ini?” bertanya pemuda itu menyelidik.

“Eh… ehm… benar. Aku adalah siluman ikan. Akulah yang memasak setiap hari. Aku berterima kasih sebab kau tidak membunuhku,” jawabnya.

Pemuda itu senang. Ternyata ikan yang ditangkapnya adalah seorang wanita cantik. “Karena kau telah ada di sini, maukah kau menikah denganku? Aku berjanji bakal menjagamu dengan baik,” kata pemuda itu melamar.

Wanita itu nampak bingung, namun pada akhirnya menjawab “Aku tidak keberatan menjadi istrimu. Namun ada saat-saat khusus saya perlu berubah menjadi ikan. Aku minta kau melindungi rahasia ini, apalagi kepada anak kita kelak. Jangan sekali-kali kau memberitahu bahwa ibunya adalah seekor ikan,” katanya lagi. Pemuda itu tersenyum dan mengangguk mantap. Akhirnya, mereka menikah dan hidup rukun.

Pasangan suami-istri itu dikaruniai seorang anak laki-laki. Anak itu suka sekali makan, agar tubuhnya besar dan gemuk. Tak ada makanan yang tak disukainya dan ia gampang sekali merasa lapar. Baru saja selesai makan, ia bisa makan lagi dengan lahap. Ia seperti tak dulu kenyang. Suatu hari, ibunya menyuruhnya untuk mengantar makan slang untuk sang Ayah yang tengah bekerja di sawah. “Ingat, makanan ini untuk ayahmu. Jangan mencicipinya apalagi memakannya. Ayahmu bisa marah,” pesan ibunya. “Balk Bu,” sang Anak pun berangkat dengan riang.

“Aduh, saya haus,” tiba-tiba di tengah perjalanan anak itu mengeluh. Kemudian dibukanya bekal untuk ayahnya. “Ah, ada teh hangat. Lumayan untuk menyingkirkan rasa hausku,” katanya sambil meneguk teh untuk ayahnya itu. Lalu matanya tertumpu pada sebuah bungkusan. “Wah, apa ini ya? Coba saya lihat.” Ternyata bungkusan itu memuat nasi dan sepotong ayam goreng. Air Iiurnya langsung menetes. “Jika saya memakannya sedikit saja, tentu Ayah tak bakal tahu.” Tak jelas ia telah melahap habis semua makanan itu. Yang tersisa sekedar tulang-tulang ayam. Anak itu ketakutan, namun ia selamanya perlu menemui ayahnya.

“Apa ini? Tulang? Ibumu memberi saya makan tulang? Ia pikir saya kucing?” teriak ayahnya dengan marah. Sang anak lihat ayahnya dengan ketakutan. Ia tak tega jika ibunya yang disalahkan.

“Eh… Ayah… bukan tidak benar Ibu. Semua ini salahku. Aku yang memakan bekal itu hingga habis. Maafkan saya Ayah, saya tak bisa menghindar diri.” Mendengar pengakuan anaknya, sang Ayah jadi tambah marah. “Dasar anak ikan. Beginilah jika seekor ikan mendidik anak, sangat tak becus!” teriak ayahnya. Sang papa lupa pada janjinya sebelum menikahi istrinya.

“Huuu… huuu… Ibuu… Ayah mengataiku anak ikan. Katanya Ibu tak becus mendidikku sebab Ibu adalah seekor ikan. Apa itu benar Bu?” si anak pulang melapor pada ibunya sambil menangis. Ibunya terkejut. “Rupanya suamiku telah lupa pada janjinya.”

Ketika suaminya tiba di rumah, istrinya berkata “Mulai waktu ini, saya bakal membawa anakku pulang ke alamku. Jangan dulu meminta kau bisa menemui kita lagi.”

Belum sempat suaminya menjawab, langit menjadi gelap dan hujan turun dengan derasnya. Siluman ikan itu mengajak anaknya keluar dari tempat tinggal dan berdiri di tanah lapang. Petir menyambar-nyambar dan tiba-tiba tubuh ibu dan anak itu hilang entah ke mana. Hujan pun reda sejalan dengan hilangnya mereka. Sang suami tak bisa menemukan mereka. Ia menyesal dan meratapi kesalahannya. “Istriku, anakku… kembalilah. Maafkan saya yang telah mengingkari janji kepada kalian.” Namun seluruhnya sia-sia.

Tiba-tiba, dari tempat ibu dan anaknya tadi berdiri, muncullah mata air yang lumayan deras. Airnya tetap mengalir hingga membentuk danau yang lumayan luas. Danau itulah yang hingga sekarang disebut Danau Toba. Tak ada yang tahu, ke mana perginya ibu dan anak tadi. Mungkin mereka lagi menjadi ikan dan tinggal di Danau Toba itu.

Pesan dari Cerita Rakyat Danau Toba dari Sumatra Utara untukmu adalah Tepatilah janji yang telah kau buat. Ingat, mengingkari janji bakal mengakibatkan orang lain kecewa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *