Cerita Rakyat Bali Kebo Iwa

Seorang bayi Laki-laki yang montok telah lahir. “Oekkk… ooekkk…,” si bayi terus menangis. “Mungkin ia lapar,” kata ibunya. Namun walau telah disusui, bayi itu tetap terus menangis. Tangannya menggapai-gapai ke arah nasi di meja.

“Dari tadi ia menunjuk nasi itu, Bu. Coba kau berikan sedikit padanya,” kata suaminya. Tak dinyana, si bayi melahap nasi itu dengan cepat dan menggunakan sepiring nasi!

Bayi itu tumbuh jadi pemuda yang berbadan besar dan bertenaga kuat. Orang memanggilnya Kebo Iwa, yang artinya Paman Kerbau. Ia dinamai seperti itu sebab ia makan seperti kerbau. Ia selamanya makan dan makan. Lama kelamaan, ke-2 orangtuanya yang makin tua tak sanggup ulang memberinya makan.

Itulah sebabnya mereka menemui kepala desa untuk memohon bantuan. Sejak itu, penduduk desa bahu membahu berikan makan Kebo Iwa. Sebagai balas budi, Kebo Iwa melindungi keamanan desanya.

Dengan badannya yang besar, ia tidak ada problem mengalahkan siapa saja yang hendak mengganggu desanya. Para warga sayang padanya. Meskipun badannya besar, hatinya baik dan bahagia menolong.

Cerita Rakyat Bali Kebo Iwa

Suatu hari, Raja Bedahulu menimbulkan Kebo Iwa ke istana. Beliau hendak mengangkatnya jadi patih. Kebo Iwa terlalu tersanjung, “Hamba dapat mengabdikan hidup untuk melindungi kerajaan. Selama hamba tetap bernapas, Pulau Bali ini tak dapat pernah dikuasai oleh siapa pun,” katanya mantap. Sejak pas itu, Kerajaan Majapahit yang selamanya menyerang Bali tak sanggup ulang mengganggu.

Sedangkan di Pulau Jawa, patih Kerajaan Majapahit yang bernama Gajah Mada memang bertekad untuk menyatukan Nusantara. Ia lebih-lebih bersumpah untuk tidak nikmati kenikmatan duniawi kalau tekadnya itu belum tercapai. Sumpah itu dikenal dengan Sumpah Palapa.

Patih Gajah Mada terasa bingung. Semua serangannya ke Bali gagal. Ia berupaya keras melacak langkah untuk menguasai pulau Bali. Akhirnya ia mendatangi Raja Bedahulu. “Kami dari

Kerajaan Majapahit tak dapat ulang menyerang pulau Bali. Kami idamkan bersahabat saja dengan rakyat Bali.” katanya. Raja Bedahulu dan Patih Kebo Iwa yakin terhadap ucapan Patih Gajah Mada. Setelah mereka mengadakan perdamaian, Patih Gajah Mada pun diundang terhadap jamuan makan siang.

“Baginda Raja, hamba idamkan menimbulkan Patih Kebo Iwa ke Majapahit. Tentu Raja mengizinkan, bukan?” tanya Patih Gajah Mada.

Raja Bedahulu dan Kebo Iwa berembuk, tak ada salahnya membalas kunjungan Patih Gajah Mada. Mereka setuju, Kebo Iwa dapat singgah ke Majapahit.

Setibanya di Majapahit, Kebo Iwa disambut dengan meriah. “Inilah orang yang mengalahkan pasukan kita,” bisik rakyat Majapahit. “Selamat singgah Patih Kebo Iwa. Kami terlalu tersanjung atas kehadiranmu,” sambut Patih Gajah Mada. Kebo Iwa selanjutnya dijamu makan siang. Seperti biasa, Kebo Iwo makan banyak sekali. “Patih Kebo Iwa, sepertinya interaksi kami telah lebih baik, bukankah begitu?” tanya Patih Gajah Mada.

“Ya, memang lebih baik hidup damai daripada terus berperang”. “Jika begitu, maukah kau menunjang kami?” tanya Patih Gajah Mada lagi. “Apa itu?” tanya Kebo Iwa.

“Saat ini kerajaan kami sedang kekurangan air. Maukah kau menggali sumur raksasa untuk kami? Dengan tenagamu yang kuat, tentu mudah sekali menggalinya, bukan?”

Kebo Iwa dengan bahagia hati mengangguk, “Aku dapat menunjang kalian.”

Keesokan haringa, Kebo Iwa terasa bekerja. Agak aneh, banyak pasukan Majapahit mengelilinginya. Mereka seolah siap menanti perintah. Kebo Iwa tak curiga, ia terus menggali sumur. Dalam pas singkat, ia telah menggali terlalu dalam. Tiba-tiba terdengar teriakan Patih Gajah Mada “Laksanakan!! Timbun ia dengan batu!” Bagai gempa bumi, batu-batu berhamburan ke dalam lubang sumur itu. Kebo Iwa syok. Ia tak mengangka kalau ini adalah jebakan Patih Gajah Mada.

Dengan segenap tenaga, Kebo iwa melempar balik batu-batu itu ke atas. Batu-batu itu perihal para prajurit Majapahit. Kebo Iwa melesat keluar. “Rupanya kau menjebakku? Ketahuilah, aku telah bersumpah, selama aku tetap hidup, Bali tak dapat sanggup ditaklukkan oleh siapa pun!” teriaknya marah.

Kebo Iwa terlibat pertarungan sengit melawan Patih Gajah Mada. “Mengerahlah Patih Kebo Iwa. Niat kami hanga idamkan mempersatukan Nusantara!” teriak Patih Gajah Mada. Kebo Iwa tak peduli. Ia terus menyerang dan menyerang. Ketika keduanya terasa lelah, Patih Gajah Mada berkata “Sia-sia saja kami melanjutkan pertempuran ini. Suka atau tidak, suatu pas Bali dapat kami kuasai. Niat kami mulia, bukan untuk menjajah atau menyengsarakan rakyat Bali.” Kebo Iwa terasa bimbang. Melihat Patih Gajah Mada yang gigih, ia yakin memang suatu pas Bali dapat kalah.

Setelah diam beberapa saat, Kebo Iwa berkata, “Aku tahu tujuanmu, namun aku tak bisa saja menyerah. Aku tak senang mengkhianati negara dan rajaku. Aku telah bersumpah, untuk melindungi Bali seumur hidupku.”

“Jika begitu, aku mesti membunuhmu,” kata Patih Gajah Mada.

“Kau tak bisa saja membunuhku. Aku punyai kesaktian yang terlalu sangat. Kecuali satu hal, kalau kau sanggup menghancurkan gunung kapur dan mengoleskannya ke kepalaku, maka kesaktianku dapat hilang,” jawab Kebo Iwa. Patih Gajah Mada terkejut, “Mengapa ia membuka rahasianya sendiri?” tanyanya dalam hati. Patih Gajah Mada langsung melesat menuju ke gunung kapur. Ia menghancurkan gunung kapur dan membawa segenggam serbuk kapur. Sekali ulang mereka terlibat pertempuran yang sengit. Patih Gajah Mada berupaya mengoleskan serbuk kapur itu ke kepala Kebo Iwa.

Akhirnya Patih Gajah Mada berhasil. Kebo Iwa langsung lemas, seolah tak bertenaga lagi. “Kau menang Patih. Bunuhlah aku, agar kau sanggup menguasai Bali,” kata Kebo Iwa.

Patih Gajah Mada ragu, ia tak bisa saja membunuh orang yang telah tak berdaya. Tapi Kebo Iwo terus mendesak, “Ingat cita-citamu. Kematianku dapat membawa kebaikan bagi kami semua.” Dengan terpaksa, Patih Gajah Mada menancapkan kerisnya ke tubuh Kebo Iwo. Ia takjub dapat jiwa kesatria Kebo Iwo yang senang berkorban demi target yang mulia. Akhirnya, Kebo Iwo mengembuskan napas terakhirnya. Sebelum meninggal, ia sempat berucap, “Semoga dengan kematianku Nusantara sanggup bersatu. Tidak ada ulang peperangan dan perpecahan.” Patih Gajah Mada menjawab, “Aku berjanji dapat mewujudkan persatuan Nusantara. Yakinlah, kematianmu tidak dapat sia-sia.”

Akhirnya Bali kehilangan putra terbaiknya. Kerajaan Majapahit menaklukkan Bali dengan mudah. Namun, cocok janji Patih Gajah Mada terhadap Kebo Iwa, niatnya memang murni untuk menyatukan Nusantara, bukan untuk menjajah atau menyengsarakan rakyat Bali.

Pesan dari Cerita Rakyat Bali Kebo Iwa untukmu adalah mengalah tidak artinya kalah. Mengalah demi kepentingan orang banyak yang lebih besar adalah tindakan yang mulia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *